Wednesday, October 26, 2016

Tercerabut

Entahlah.

Ada bagian dalam hidupku yang hilang, tercerabut. Entah kapan itu semua bermula, terjadi begitu saja. Sebuah kebersamaan yang terjalin begitu harmonis, kini terasa sangat hambar. Biasanya, tak ada satu hari tanpa kabar, tak ada satu kegiatan tanpa saling ajak.

Renggang. Ada jarak yang memisahkan kami. Padahal kami masih sering bertemu, masih satu naungan, masih dalam kota yang sama. Adakah salahku, kawan? Kita masih bertegur sapa tentu saja, tapi ada ruang kosong dalam persahabatan ini yang sungguh tak aku pahami apa alasannya.
Adakah perkataan atau perbuatanku yang melukaimu?
Untuk membicarakan ini saja lidahku begitu kelu. Aku tak mampu bertanya padamu, pasal apakah yang membuat keakraban ini tercerabut. Bahkan untuk menceritakan kebahagiaanku saja aku tak mampu.

Berkali-kali aku mencoba untuk menyapa dan bertanya dengan riang seperti biasa, tapi yang kurasa adalah kehampaan dalam jawabanmu. Bahkan pada saat berkata bahwa aku akan segera dikhitbah, kau menjawab seadanya. Terlalu besar jarak ini, dan aku tak pernah menyangka bahwa episode ini akan datang pada persahabatan kita.
Apakah karena tugasku sekarang membuat kebersamaan kita tak lagi sama?
Kuantitas pertemuan kita barangkali memang tak akan sama seperti dulu, namun itu seharusnya tidak menjadi alasan kerenggangan ini. Persahabatan bagaimanapun akan tetap terjalin meski tak sering bertemu.

Aku harus membicarakan ini denganmu, kawan. Namun tidak sekarang, sebab aku sedang mengumpulkan keberanianku untuk dapat berbicara denganmu.

Besar harapku kita seperti dahulu kembali. Tuhan sedang mengujiku dengan ini. Sungguh, kenikmatan persahabatan itu luar biasa indahnya. Maka bagi siapapun yang membaca ini, jagalah sahabatmu.

Sahabat adalah pelangi, kenikmatan yang Tuhan beri.


Palembang, 26 Oktober 2016


~ijaah~

Monday, August 15, 2016

Berguru Kepada Ibu Atalia

" Mulailah dari sesuatu yang kecil, nyata, dekat, aplikatif dan memiliki dampak. Pahlawan tak semata berbentuk uang dan materi, tetapi ia memiliki eksistensi dan kontribusi nyata. Mulailah dari diri kita dan dari hal-hal kecil yang kita bisa. Itulah ide saya untuk perempuan sebagai pahlawan keluarga dan masyarakat"
Seorang kawan berkata demikian dalam sesi pelatihan Public Speaking bersama Indari Mastuti dan Ibu Atalia Kamil beberapa waktu yang lalu. Ia menggambarkan bahwa perempuan tak semata urusan dapur, sumur dan kasur. Ia dapat mewujud menjadi sosok yang penting dalam masyarakat dengan kemampuan serta kecerdasan yang dipunya.

Bagiku pelatihan ini tak semata sebagai bentuk pencarian ilmu, tapi juga sebagai momen untuk berkontemplasi. Satu. dua, lima. sepuluh, dua puluh tahun lagi, akan menjadi perempuan seperti apakah aku?

Bertemu dengan banyak perempuan dengan berbagai profesi membuatku semakin yakin bahwa profesi ibu adalah pemicu bagi kompetensi lain yang ada dalam diri. Ada banyak di antara mereka yang justru melesat saat telah membina keluarga. Ya, menikah dan membangun keluarga bukanlah penghalang bagi kaum perempuan untuk berkarya.

Cerminan perempuan berdaya semakin kentara saat Ibu Atalia Kamil memberi inspirasi. Ia berkata bahwa perempuan harus memiliki kepercayaan diri dan komunikasi yang baik. Dengan begitu, perempuan dapat membantu suami untuk melesat lebih jauh. Seperti halnya Pak Ridwan Kamil yang merasa terbantu oleh kepandaian Ibu Atalia. Mereka bergerak bersama-sama.

Thursday, July 14, 2016

Sense And Sensibility


Pernahkah aku menceritakan pada kalian bahwa aku sangat menyukai karya Jane Austen dan semua film adaptasinya? Aku jatuh hati pada kisah cinta yang berbalut kesopanan dan kelembutan, aku cinta pada cara wanita abad ke-18 bertutur kata, berpakaian dan berinteraksi dengan lawan jenis, aku suka pada kuda-kuda yang menari di ladang hijau.

Sebelumnya aku pernah menulis tentang Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy yang merupakan karakter utama dalam Pride and Prejudice. Pride bagi Mr. Darcy dan Prejudice bagi Elizabeth. Kali ini aku ingin menceritakan kisah cinta dari Elinor dan Marianne dalam Sense and Sensibility. Sense bagi Elinor dan Sensibility bagi Marianne.

Tips Perjalanan : Riasan Natural Hingga Asuransi Untuk Perjalanan

"Make up should never make you look plastic, it should only enhance the beauty that always been there."
Bobbie Brown

Adakah yang menginat film A Walk To Remember? Film romantis yang kerap mengundang tangis ini dibintangi oleh Mandy Moore yang berperan sebagai Jamie Sullivan, seorang gadis sederhana yang cantik dan cerdas. Sejak awal menyaksikan film ini, aku langsung jatuh hati pada gaya busana dan riasan Jamie. Sederhana, natural dan elegan.

Jamie selalu berpenampilan sopan, sederhana, cantik dan tidak pernah dandan berlebihan. Itulah yang justru membuat Jamie terlihat sangat menarik. Riasan minimalis yang digunakan Jamie telah menjadi acuan bagiku saat merias wajah. Saat hendak bekerja, pergi ke pesta pernikahan, saat sedang dalam perjalanan, aku selalu ingin berdandan minimalis. Bahkan saat menikah nanti, aku ingin berdandan minimalis.

Jatuh Hati Pada Mr. Darcy ❤


 "You have bewitched me body and soul. And I love, I love you. I never wish to be parted from you from this day on." - Mr. Darcy 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...