Sunday, December 18, 2016

Menanti Suami di Coban Rondo

Alkisah, tersebutlah sepasang muda mudi yang baru saja melangsungkan pernikahan. Mereka adalah Dewi Anjarwati yang berasal dari Gunung Kawi dan Raden Baron Kusuma yang berasal dari Gunung Anjasmoro. Keduanya hidup dalam pernikahan yang penuh kebahagiaan. Pada suatu ketika, Dewi Anjarwati mengajak sang suami berkunjung ke Gunung Anjasmoro. Namun niat Dewi Anjarwati tersebut mendapat penolakan dari orang tuanya sebab kedua mempelai baru menikah selama 36 hari (selapan).
Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, pasangan pengantin yang belum memasuki masa selapan tidak diperkenankan untuk bepergian jauh karena sesuatu yang buruk akan menimpa mereka. Namun kedua mempelai mengabaikan anjuran orang tua Dewi Anjarwati dan bersikeras untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Anjasmoro. 
Di tengah perjalanan, keduanya dikejutkan oleh kehadiran Joko Lelono yang tidak jelas asal usulnya. Nampaknya Joko Lelono terpikat pada pesona kecantikan Dewi Anjarwati dan berniat untuk merebutnya dari sang suami. Perkelahian antar lelaki tak terhindarkan. Kepada punakawan, Raden Baron Kusuma menginstruksikan agar Dewi Anjarwati disembunyikan di sebuah tempat yang ada coban-nya (air terjun). Perkelahian berlangsung sengit dan pada akhirnya kedua lelaki yang berselisih itu gugur. 

Wednesday, October 26, 2016

Tercerabut

Entahlah.

Ada bagian dalam hidupku yang hilang, tercerabut. Entah kapan itu semua bermula, terjadi begitu saja. Sebuah kebersamaan yang terjalin begitu harmonis, kini terasa sangat hambar. Biasanya, tak ada satu hari tanpa kabar, tak ada satu kegiatan tanpa saling ajak.

Renggang. Ada jarak yang memisahkan kami. Padahal kami masih sering bertemu, masih satu naungan, masih dalam kota yang sama. Adakah salahku, kawan? Kita masih bertegur sapa tentu saja, tapi ada ruang kosong dalam persahabatan ini yang sungguh tak aku pahami apa alasannya.
Adakah perkataan atau perbuatanku yang melukaimu?
Untuk membicarakan ini saja lidahku begitu kelu. Aku tak mampu bertanya padamu, pasal apakah yang membuat keakraban ini tercerabut. Bahkan untuk menceritakan kebahagiaanku saja aku tak mampu.

Berkali-kali aku mencoba untuk menyapa dan bertanya dengan riang seperti biasa, tapi yang kurasa adalah kehampaan dalam jawabanmu. Bahkan pada saat berkata bahwa aku akan segera dikhitbah, kau menjawab seadanya. Terlalu besar jarak ini, dan aku tak pernah menyangka bahwa episode ini akan datang pada persahabatan kita.
Apakah karena tugasku sekarang membuat kebersamaan kita tak lagi sama?
Kuantitas pertemuan kita barangkali memang tak akan sama seperti dulu, namun itu seharusnya tidak menjadi alasan kerenggangan ini. Persahabatan bagaimanapun akan tetap terjalin meski tak sering bertemu.

Aku harus membicarakan ini denganmu, kawan. Namun tidak sekarang, sebab aku sedang mengumpulkan keberanianku untuk dapat berbicara denganmu.

Besar harapku kita seperti dahulu kembali. Tuhan sedang mengujiku dengan ini. Sungguh, kenikmatan persahabatan itu luar biasa indahnya. Maka bagi siapapun yang membaca ini, jagalah sahabatmu.

Sahabat adalah pelangi, kenikmatan yang Tuhan beri.


Palembang, 26 Oktober 2016


~ijaah~

Monday, August 15, 2016

Berguru Kepada Ibu Atalia

" Mulailah dari sesuatu yang kecil, nyata, dekat, aplikatif dan memiliki dampak. Pahlawan tak semata berbentuk uang dan materi, tetapi ia memiliki eksistensi dan kontribusi nyata. Mulailah dari diri kita dan dari hal-hal kecil yang kita bisa. Itulah ide saya untuk perempuan sebagai pahlawan keluarga dan masyarakat"
Seorang kawan berkata demikian dalam sesi pelatihan Public Speaking bersama Indari Mastuti dan Ibu Atalia Kamil beberapa waktu yang lalu. Ia menggambarkan bahwa perempuan tak semata urusan dapur, sumur dan kasur. Ia dapat mewujud menjadi sosok yang penting dalam masyarakat dengan kemampuan serta kecerdasan yang dipunya.

Bagiku pelatihan ini tak semata sebagai bentuk pencarian ilmu, tapi juga sebagai momen untuk berkontemplasi. Satu. dua, lima. sepuluh, dua puluh tahun lagi, akan menjadi perempuan seperti apakah aku?

Bertemu dengan banyak perempuan dengan berbagai profesi membuatku semakin yakin bahwa profesi ibu adalah pemicu bagi kompetensi lain yang ada dalam diri. Ada banyak di antara mereka yang justru melesat saat telah membina keluarga. Ya, menikah dan membangun keluarga bukanlah penghalang bagi kaum perempuan untuk berkarya.

Cerminan perempuan berdaya semakin kentara saat Ibu Atalia Kamil memberi inspirasi. Ia berkata bahwa perempuan harus memiliki kepercayaan diri dan komunikasi yang baik. Dengan begitu, perempuan dapat membantu suami untuk melesat lebih jauh. Seperti halnya Pak Ridwan Kamil yang merasa terbantu oleh kepandaian Ibu Atalia. Mereka bergerak bersama-sama.

Thursday, July 14, 2016

Sense And Sensibility


Pernahkah aku menceritakan pada kalian bahwa aku sangat menyukai karya Jane Austen dan semua film adaptasinya? Aku jatuh hati pada kisah cinta yang berbalut kesopanan dan kelembutan, aku cinta pada cara wanita abad ke-18 bertutur kata, berpakaian dan berinteraksi dengan lawan jenis, aku suka pada kuda-kuda yang menari di ladang hijau.

Sebelumnya aku pernah menulis tentang Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy yang merupakan karakter utama dalam Pride and Prejudice. Pride bagi Mr. Darcy dan Prejudice bagi Elizabeth. Kali ini aku ingin menceritakan kisah cinta dari Elinor dan Marianne dalam Sense and Sensibility. Sense bagi Elinor dan Sensibility bagi Marianne.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...