Leisure Time in Bamboo Village

No comments:

Seakan ingin melepas penat selepas bekerja, seorang kawan memberi usulan untuk menikmati keindahan alam Bandung Utara. Ada banyak sekali pilihan tempat disana, namun hati kami jatuh pada Bamboo Village atau Dusun Bambu.

Terletak di Jl. Kolonel Masturi Lembang, akses menuju Dusun Bambu dapat ditempuh melalui 3 jalur, yakni:

  1. Pasteur
  2. Cimahi
  3. Lembang

Mudah. Sangat mudah menemukan lokasi Dusun Bambu ini. Maka tak heran bila banyak sekali wisatawan lokal maupun asing yang berkunjung ke tempat ini.


Dusun Bambu Family Leisure Park

Dengan membayar Rp. 10.000/orang, kami dapat mamasuki kawasan Dusun Bambu. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini, nampak pepohonan hijau dan danau seakan beriringan menyambut kami. Ada hamparan sawah hijau yang membentang, pepohonan tinggi, pakis haji, hingga beraneka ragam jenis bambu.

Hijau. Hijau. Hijau.

Entah bagaimana, hanya dengan melihat pemandangan yang serba hijau, dapat dengan sukses membuat pikiranku menjadi lebih tenang dan segar. Barangkali karena kadar oksigen yang menyeruak dari sela dedaunan atau juga dari pemandangan yang serba asri. Pohon, sawah dan danau begitu dirawat dengan baik. Ah, betapa ini indah sekali!

Melihat segala keindahan yang ditawarkan Dusun Bambu, tak lengkap rasanya bila tak mengambil foto. Masing-masing dari kami menangkap gambar dengan kamera handphone masing-masing. Namun untuk mengambil gambar dari kami semua, diperlukan bantuan seseorang atau alat yang disebut dengan monopod.

Monopod atau yang lebih dikenal dengan nama tongsis (tongkat narsis) telah menjadi primadona bagi kami. Karena di setiap sudut sama indahnya, kami ber-tongsis ria di mana saja!

Deretan Kampung Layung dan sawah, serta kami yang tak tahan untuk ber-tongsis ria! :D

Seperti halnya saat melihat hamparan sawah hijau yang membentang, kami sungguh tak sabar ingin turun ke pematang sawah dan melakukan selfie dengan tongsis.

Kedatangan kami di sore hari mampu membuat hasil gambar tampak sempurna. Sore hari adalah golden time untuk mengambil gambar karena pencahayaannya yang bagus.

Tongis lagi...

Saat memasuki kawasan lebih dalam, tampak sawah telah menghilang dari pandangan. Kini yang menjadi pemandangan umum adalah bambu-bambu dari segala varietas yang tampak menjulang tinggi. Selain itu, ada pula mobil keliling yang dihiasi bebungaan yang berfungsi untuk mengantarkan wisatawan dari resto untuk kembali ke parkir spot atau sebaliknya. Ya, ada dua cara untuk memasuki kawasan resto Dusun Bambu, yakni dengan berjalan kaki dan naik mobil hias. Saat pulang nanti, kami berencana ingin menaiki mobil itu, selain karena ingin mencoba, juga karena ingin menjaga tubuh agar tak begitu lelah berjalan. *bilangajamalasjalan*

Bambu dan mobil hias

Ikon Dusun Bambu adalah rangkaian bambu yang disusun tinggi menjulang dengan bagian atas yang sengaja dibuat mekar dengan tancapan bambu-bambu kecil. Jika berkunjung ke Dusun Bambu, jangan lewatkan kesempatan untuk selfie di tempat ini.

Bamboo
Dusun Bambu juga memiliki sungai bebatuan dengan arus yang tenang. Kita dapat duduk bersantai di atas batu dan menikmati aliran air yang menyentuh syaraf kaki. Entah bagaimana aku merasa tempat ini menjadi begitu sangat romantis. Pasti menyenangkan jika saja datang ke tempat ini dengan orang yang dicinta.



Memasuki kawasan Cafe Burangrang, kami disajikan dekorasi interior menawan yang serba bambu. Nampak hiasan lampu dari bambu menggantung di langit-langit cafe. Selain itu, cafe ini dikelilingi kaca sehingga kami dapat menyantap makanan dengan melihat pemandangan alam yang indah.

Hiasan langit-langit dari bambu
Keluar dari Cafe Burangrang, kita akan disajikan pemandangan sore yang indah dari danau Purbasari dan Saung Purbasari Restaurant, sebuah tempat privat untuk menikmati santapan dengan lesehan. Nampak ada sebuah perahu yang melintasi danau. Hal ini tentu saja semakin membuat pemandangan nampak lebih asri.

Sore hari yang indah di dataran tinggi Bandung

Lagi dan lagi. Kami sungguh tak bisa menahan diri untuk selfie di tempat ini. Jangan lewatkan ber-tongsis ria dengan latar belakang danau Purbasari ya!

Lagi dan Lagi: Tongsis!

Dusun Bambu tak hanya menawarkan keindahan alam Parahyangan dan Resto dengan pemandangan terbaik. Ada beragam aktivitas yang dapat dilakukan di tempat ini yakni team building, biking, camping dan disediakan pula children play centre.

Balad Lodaya Children Corps
Ikon Dusun Bambu yang lain adalah adanya sangkar burung raksasa yang didalamnya terdapat meja serta bantalan untuk bersantai. Inilah Lutung Kasarung, sebuah tempat yang didesain khusus bagi pemuda-pemudi yang memiliki jiwa petualang untuk menikmati sensasi makan di atas pohon. Bayangkan saja, menikmati makan di atas pohon dengan orang yang dicinta ditambah dengan semilir angin yang semakin menambah keakraban. Romantis!

Lutung Kasarung
Lagi, jangan sampai lewatkan berfoto di Lutung Kasarung ya! Kita bisa mengambil gambar dengan selfie atau tongsis: tongkat naris / tolong dong siiiisss...

Semua gambar diambil dengan tongsis: tolong dong siiis...

Rasakanlah sensasi keakraban dengan alam di tempat ini. Sembuhkanlah rasa lelah dengan menikmati semilir angin sejuk, pepohonan tinggi, hamparan sawah hijau, sungai dan danau dengan arus tenang, bebungaan yang cantik serta sajian makanan yang nikmat.

Ya, berkunjung sejenak di Dusun Bambu adalah sebuah keharusan bila ingin mengecap keindahan dataran tinggi Parahyangan.

Yuk ke Bandung! :)

~ Ijaah ~

Seblak: Cemilan Khas Urang Bandung

No comments:
Ada banyak alasan mengapa wisatawan pergi ke Bandung. Salah satunya adalah untuk mencicipi sajian kuliner khas kota ini. Ada batagor, seblak, basreng, cilok, cimol, kue cubit dan sebagainya. Mendapati jajanan tersebut tak perlu ke pusat kota, karena hampir di semua tempat di Bandung pasti ada.

Seblak telah menjadi primadona urang Bandung. Hampir semua orang suka dan dimana-mana ada penjual seblak. Sebenarnya seblak adalah cemilan urang Bandung sejak lama namun keberadaan penjual seblak yang marak baru dirasa 3-4 tahun terakhir. 

Saat jaman sekolah dulu, seringkali saya dan teman-teman memasak untuk mempererat kebersamaan. Masakan yang kami buat adalah nasi liwet, rujak dan juga seblak. Bahan seblak yang seringnya kami pilih adalah kerupuk putih. Karena seblak itu identik dengan pedas, cabe rawit yang digunakan haruslah banyak agar rasanya lebih nendang.

Mulanya, seblak adalah kerupuk yang direbus lantas ditumis dengan bawang, kencur dan cabe rawit. Namun kini seblak tak melulu kerupuk. Banyak orang yang memodifikasi seblak dengan telur, makaroni, kwetiaw, batagor, ceker, siomay, ati ampela, kepala ayam, tulang lunak, hingga sosis dan baso.

Kini, seblak tak melulu kerupuk :)

Ada dua jenis seblak yaitu basah dan kering. Cara membuat seblak basah ada dua. Pertama dengan cara merebus kerupuk atau bahan seblak lainnya kemudian ditumis dengan bawang, kencur dan cabe rawit (atau tambahkan telur jika suka). Cara kedua adalah dengan menumis bumbu seblak kemudian masukan kerupuk kering lalu tambahkan air secukupnya.

Tahap pembuatan seblak basah, dimulai dengan oseng telur lalu campurkan bumbu dan bahan seblak

Jika memasak seblak sendiri, saya jarang menggunakan telur. Saya lebih suka memasak seblak dengan komposisi konvensional yakni kerupuk, bawang, kencur dan cabe rawit. Jika seblak sudah matang, acapkali saya tuangkan seblak di atas ulekan tempat tadi mengulek bumbu seblak. Entahlah, saya sangat suka sensasi makan seblak di ulekan. :D


Seblak basah yang merupakan campuran dari telur, kerupuk dan batagor. (bukan buatan sendiri)


Sedangkan seblak kering dapat dengan mudah ditemukan di toko, swalayan atau food car yang marak di jalanan kota Bandung. Seiring berjalannya waktu, seblak juga dijual di toko online. Betapa mudahnya menemukan seblak ya. :)


Gak Sehat Tapi Enak


Ucapan itu seringkali saya dengar dari kicauan Erikar Lebang, penggiat Food Combining. Sesekali waktu ia mengunduh foto makanan yang penuh dengan lemak dan minyak di akun twitternya. Jadi meski ia pelaku pola hidup sehat, terkadang ia mencicipi makanan yang 'gak sehat tapi enak'.

Menurut pandangan saya, seblak masuk dalam kategori 'gak sehat tapi enak'. Bahan seblak yang minim vitamin dan mineral, ditambah dengan komposisi cabe rawit yang banyak serta kandungan vetsin di dalamnya dapat membahayakan tubuh jika dikonsumsi berlebih. Tapi hey, sesekali boleh saja! Karena seblak ini enak sekali rasanya, apalagi bagi penggemar pedas.:)

Jadi, tips bagi kalian yang ingin membuat seblak enak dan bersih: buatlah sendiri. Namun jika ingin mengeksplor seblak di luar rumah, pilihlah yang bersih. Jika ingin seblak kering, pilihlah seblak yang memiliki tanggal kadaluarsa yang masih jauh. Dan jika ingin menyegarkan tubuh kembali, perbanyak konsumsi buah-buahan dan sayuran.

Jika ke Bandung, jangan lewatkan seblak ya. 

Dijamin ngeunah! :)


~ Ijaah ~

Baju Renang ala Muslimah

No comments:
Siap-siap snorkeling di danau Kakaban :)
Dulu saat pertama kali memutuskan untuk berhijab, aku dilanda kebingungaan saat memilih pakaian yang nyaman untuk latihan renang. Jika teman-temanku pada umumnya menggunakan celana dan kaos olahraga lengan pendek, aku harus menggunakan baju olahraga panjang yang kubeli sendiri di toko busana, lengkap dengan jilbabnya. (bukan seragam OR karena pada saat itu masih jarang siswa berjilbab)

Jika saja tempat renang yang dipilih oleh pihak sekolah adalah di Al-Ma'soem, aku bisa memakai pakaian renangku yang nyaman. Namun karena tempat latihan renang kami bercampur, aku harus menjaga diri dengan tetap memakai jilbab.

Sungguh berat rasanya saat pertama kali berenang dengan memakai celana training panjang, kaos lengan panjang dan juga jilbab. Ditambah dengan tantangan lain yaitu terangkatnya kaos dan jilbab jika sedang berenang. Untuk mengantisipasi itu, aku harus memasukan kaos ke dalam celana dan jilbab ke dalam kaos. Namun dengan seperti itu, kaos dan jilbabku jadi mengembang terisi air. 

Walau berat, nyatanya aku bisa melalui latihan dan ujian renang dengan baik. Ya, jilbab bukan penghalang bagi seorang muslimah untuk berenang, malah dianjurkan. Bukankah begitu?

***
Setelah dewasa, keinginan untuk berkelana dan menikmati keindahan ekosistem bawah laut semakin menggebu. Kemampuan berenang yang alakadarnya tidak menghentikan diriku untuk dapat melihat keindahan nemo dan terumbu karang. Pengalaman pertama melihat ekosistem bawah laut adalah saat snorkeling di Tanjung Benoa, tentu saja dengan kaos, celana panjang dan jilbab.

Merasa terkena virus adiksi, aku memutuskan untuk membeli baju renang muslimah. Sengaja aku memilih baju renang yang longgar dengan penutup kepala yang menutup leher. Walau begitu, aku tetap melapisi kepalaku dengan ciput ninja resleting yang menutup dada. Supaya lebih aman :).

Bahan baju renang yang mudah mengering membuatku merasa nyaman, tidak takut untuk masuk angin karena melulu kedinginan. Selesai berenang, beberapa kawan melapisi tubuh dengan kain pantai, namun aku tidak. Aku memilih mengenakan rok dan jilbab lebar untuk melindungi dan menghangatkan tubuh.

Maratua, Kep. Derawan

Kini, model baju renang muslimah semakin beragam. Lihat saja Dian Pelangi, ia memperlihatkan model baju renang terbaru dengan gaya 'kelelawar' dan turban yang diberi hiasan bunga. Cantik!

Dian Pelangi

Dengan perkembangan fashion busana muslim yang menggeliat, seyogyanya tak perlu ada lagi rasa khawatir yang mendera untuk memilih busana muslim saat berenang atau berolahraga. Inspirasi busana muslim, dalam hal ini baju renang muslimah, dapat kita temukan di dunia maya. 

Yuk, mari berenang dan melihat keindahan ekosistem bawah laut. Selain untuk berekreasi dan menikmati keindahan alam, ini adalah salah satu cara untuk melihat kemahaan-Nya. :)

~ Ijaah ~

Papakan Bukan Sekadar 'Papakan'

No comments:
Zahra mau oleh-oleh apa dari Kalimantan?

Pertanyaan itu keluar dari seorang kawan yang tinggal dan bekerja di Kalimantan. Seminggu lagi papakan nasional, itu berarti sebentar lagi kita akan bersua.

Apa ya... makanan aja deh. Bawain aku amplang yang banyak ya. Huehehe...

Ia tertawa dan menyetujui permintaanku. Tak lupa ia meminta oleh-oleh dari Bandung, makanan juga. Sebelum percakapan ditutup, ia berkata bahwa akan memberikanku hadiah istimewa dari Kalimantan.

Hadiah istimewa? Apaan?

Nanti lah, kau akan tahu saat papakan nanti. Kan kejutan...

Dengan terpaksa aku mengiyakan ucapan kawanku dan semakin tak sabar untuk pergi ke Macau: papakan nasional, juga bertemu dengan hadiah istimewaku.

 ***
Sudah lebih dari setahun percakapan itu berlangsung, namun gaungnya masih kerap terasa. Rasa senang saat mengetahui bahwa tempat papakan nasional bukanlah di Indonesia, buatku girang bukan kepalang. Macau, menjadi pilihan berlangsungnya papakan nasional.

Aku menyiapkan segala sesuatunya dengan paripurna. Karena disana sedang musim dingin, jaket dan syal menjadi hal yang utama. Selain itu, kusiapkan pula pakaian tebal dan boots pink. Biar terkesan feminin, mungkin...

Rupanya papakan bukan sekedar papakan, namun juga sebagai sarana untuk saling mempererat persatuan sesama individu dalam perusahaan. Ya, setidaknya itu salah satu alasan diadakannya papakan. Namun aku punya versi lain, alasan mengapa aku selalu menantikan papakan nasional, yaitu:
  1. Berkesempatan untuk jalan-jalan.
  2. Silaturahim dengan rekan-rekan seperjuangan dari Aceh hingga Papua.
  3. Saling tukar cinderamata dari masing-masing daerah.
  4. Melatih kemampuan berbahasa Inggris.
  5. Bergosip!
Aku menyukai semua poin di atas, kecuali no. 5. Dengan papakan, aku dapat menjelajahi kota bahkan negara lain yang belum pernah aku sambangi. Meski memang tujuan utamanya adalah papakan, tetap saja senang karena berkesempatan keluar dari Bandung, menjelajahi angkasa, menikmati sensasi menginap di hotel mewah dan jalan-jalan.

Dulu aku bertanya-tanya, apa alasan perusahaan memilih hotel mewah sebagai tempat papakan dan menginap. Rupanya hal itu terjawab setelah aku merasakan langsung bagaimana lelahnya tubuh saat papakan berlangsung. Meski kebanyakan di dalam ruangan, namun lelah fisik dan pikiran menjadi hal yang dialami seluruh karyawan. Maka tak ayal perusahaan memilih hotel mewah sebagai kompensasi dari rasa lelah yang dirasa.

The Westin Resort, Nusa Dua Bali (2015)






The Venetian Macau (2014)
The Santosa Villas Lombok (2013)
Pullman Hotel Bali (2012)

Papakan juga menjadi sarana untuk bersilaturahim dengan rekan-rekan dari berbagai daerah di Indonesia, dari mulai Aceh hingga Papua. Lucu saat mendengar mereka berceloteh dalam bahasa Indonesia yang bercampur dengan logat daerahnya. Ada juga acara saling menukar oleh-oleh yang sangat aku sukai. Senang tak terkira saat aku bisa menikmati gurihnya rendang asli Padang, bolu Meranti keju dari Medan, sambal pedas Bu Rudy dari Surabaya, amplang dari Kalimantan dan lain sebagainya. Hal ini tentunya semakin menambah keakraban di antara sesama.

Selain itu, aku menganggap bahwa papakan adalah sarana bagiku untuk melatih kemampuan berbahasa Inggris. Hal ini dikarenakan bos-bos besar adalah orang asing. Belum lagi dengan slide presentasi yang semuanya berbahasa Inggris. Hal ini semakin menambah kemampuanku untuk dapat berbicara dalam bahasa Inggris.

Seakan mengingat momen tak terlupakan di dalam pesawat SQ dari Hongkong menuju Jakarta. Pada saat itu aku duduk bersisian dengan Mr. A (pak bos bule). Selama perjalanan, kami berbicara tentang apa saja, dari mulai perusahaan hingga menceritakan momen saat kanak-kanak. Mr. A juga bercerita tentang karirnya yang melesat bak meteor. Usianya baru menginjak awal 30-an dan belum menikah. Tampan sudah pasti, tapi itu tidak sampai membuatku jatuh hati.

***

Seperti yang kuceritakan di awal, aku begitu menantikan hadiah istimewa yang diberikan seorang kawan dari Kalimantan. Hari pertama di Macau, aku belum berjumpa dengannya karena terlalu asyik keliling The Venetian dan juga papakan per bagian. Bolen keju dan brownies bakar yang kusimpan di koper barangkali sudah mencari tuannya. Besok, aku harus segera bertemu dengan kawan itu dan saling menukar oleh-oleh.

Hingga pada saat bertemu, aku membiarkan dia yang menyerahkan oleh-oleh padaku terlebih dahulu. Dalam bayangan, aku menaksir bahwa tas yang digandengnya berisi amplang yang banyak. Aku menelan ludah. Semoga dia membawa banyak amplang, sehingga ada yang bisa kubawa pulang ke Bandung.

Amplang-nya aku bagi-bagiin sama temen-temen yang lain. Abis, hehe...

Aku diam seribu manyun. Ingin rasanya aku sembunyikan tas plastik berisi brownies dan bolen seraya mengatakan padanya: 'Sorry ya, oleh-olehnya ketinggalan di Bandung!' Namun nyatanya nasi telah menjadi bubur. Sudah kadung ada di depan wajah menyebalkannya, aku harus menyerahkan oleh-oleh itu.

Hehe... Jangan marah dong. Ini aku kasih hadiah istimewa dari Kalimantan.

Gelang Batu Kalimantan

Itulah gelang batu Kalimantan, hadiah istimewa dari kawanku. Ucap terimakasih kuhaturkan padanya seraya manyun. Rupanya aku belum bisa menerima sikap dia yang tak menyisakan amplang untukku. Ternyata sifat kekanak-kanakan masih mengakar di diriku.

Gelang batu itu berwarna biru muda dengan tambahan bunga dan daun yang menggantung di salah satu sisi gelang. Yang membuat gelang ini unik adalah ada manik gelang yang meliuk seperti sabit, ada pula yang bulat. Ukuran gelang itu besar sehingga longgar di tanganku yang imut. Aku suka dari segi modelnya walau pada akhirnya tidak pernah aku pakai.

Sebagai ganjaran atas ketidaknyamanan dalam hal pertukaran oleh-oleh, aku hanya memberikan brownies pada kawan Kalimantanku ini. Ia nyengir dan aku terbahak-bahak. Lain kali, kamu harus patuhi janji.

***

Pada papakan nasional selanjutnya, aku tak berjumpa lagi dengan kawan Kalimantan itu. Kucoba mengirim message di BBM namun kontak namanya sudah tak ada. Usut punya usut, rupanya ia memutuskan untuk mencari pekerjaan di perusahaan lain.

Ternyata, ada satu poin yang luput kutuliskan dalam alasan mengapa aku begitu menantikan papakan:

6. Berjumpa dengan kawan dan meninggalkan kesan baik baginya. Karena siapa tahu, waktu tak berpihak untuk saling mempertemukan kembali.

 ~ Ijaah ~

Mendadak Akik

No comments:
Disini Akik... Disana Akik... Dimana-mana adanya Akik...

Virus batu akik, bolehlah aku menyebutnya demikian. Jika menemukan sekelompok orang menggandrungi sebuah lapak di trotoar, bisa jadi yang sedang mereka lihat adalah batu akik. Di berbagai spot trotoar di jalanan kota Bandung, mudah bagi kita menemukan penjual batu akik berikut dengan fans-nya.

Katanya, batu akik bisa membawa keberuntungan, bikin sugih. Kemudian, aku juga mendengar kabar jika di dalam batu akik itu tertanam jin agar si empunya akik jadi punya daya ikat dan aura positif. Iyakah? Ah, bukan ranahku untuk membahas ini, tapi yang pasti akik itu bukan batu sembarangan, katanya.


Ternyata, virus batu akik telah menginfeksi ayah juga. Ayahku mendadak akik! Aku takut, jangan-jangan di dalam batu itu ada jin-nya. Saat kutanyakan pada ayah apakah ayah percaya, ayah bilang:

Ayah tidak percaya itu. Ayah percaya bahwa tiap batu punya karakter masing-masing.

Gitu.

Ayah menunjukkan beberapa batu yang dimilikinya. Untuk orang seperti aku yang begitu awam tentang akik, aku hanya bisa berhem-hem ria.

Ini namanya Batu Lavender, yang ini Batu Badar Lumut, yang ini Batu Fosil Kayu...

Batu Fosil Kayu. Ini bukan tangan aku ya -.-

Daan... Ini batu yang paling mahal. Namanya Pirus (Turquoise), rekonstruksi pengrajin batu persia. Coba teteh tebak harganya berapa? Huehehe...

Pirus Turquoise. Ini bukan tangan aku juga ya -,-

Menilik cara ayah yang tertawa penuh kemenangan, aku menaksir harga Pirus sekitar 10 juta, harga yang menurutku sudah luar biasa untuk sebuah batu. Tapi ternyata jawaban ayah membuat mataku terbelalak.

Hah?! Batu kecil kaya gini harganya hampir 100 juta?!

Ayah nyengir.

Ayah jual yah, buat modal teteh nikah!

Ayah terjengkang!

Well, perbincanganku dengan ayah membuat pandanganku terhadap akik menjadi lebih tinggi. Jika dulu seringkali aku menganggap lelaki yang memakai akik identik dengan om-om senang, kini tak lagi. (iyalah, ayahku bukan om-om senang!)

Kini batu akik telah menjadi sarana untuk berinvestasi. Maka tak heran harganya bisa melejit tinggi hingga ratusan juta. Bahkan kini, batu akik memiliki sertifikat seperti halnya emas. Selain itu, usut punya usut, di benua Australia banyak orang yang beralih untuk berinvestasi dalam bentuk batu, yaitu Batu Kalimaya.

Akik. ternyata namanya keren-keren ya...

Hingga kini, aku belum terinfeksi virus batu akik. Jika nanti aku ditakdirkan memiliki akik, akan kupakai akik sebagai sarana untuk berinvestasi (tentu yang harus ada sertifikatnya). Untuk perhiasan? Mmm tidak, aku tidak siap disebut sebagai tante girang ~~~


~ Ijaah ~

Mabit saat New Year's Eve

No comments:

Sedari kecil, aku dibiasakan untuk tidak merayakan tahun baru Masehi. Ibu dan ayah tidak pernah membelikan kami terompet juga membawa kami ke tempat hiburan umum pada malam puncak tahun baru. Bersempit-sempit ria di tengah keramaian adalah hal yang menakutkan bagi kami, belum lagi dengan bisingnya terompet dan klakson di jalanan.

Kebiasaan itu telah mengakar pada diriku. Sehingga setelah dewasa aku cukup diam di rumah, menonton dan bila beruntung dapat melihat kembang api yang seperti serentak ditembakan dari atas bumi.

Adalah lebih beruntung lagi bila ada kegiatan positif untuk mengisi malam tahun baru. Maka tersebutlah Malam Bina Iman dan Taqwa (MABIT) DKM An-Nuur Bio Farma "Meraih Keberkahan Hidup" pada malam 31 Desember 2014. Tanpa perlu berpikir panjang, aku berniat untuk mengikuti acara tersebut.

Mabit (menginap di mesjid) pada malam tahun baru bukan berarti sebuah bentuk perayaan. Ini adalah langkah yang diambil oleh pihak terkait untuk mengisi waktu libur dengan bermuhasabah dan menuntut ilmu bersama. Ini juga berarti memberi sarana bagi siapapun untuk mengalihkan kegiatan pada malam tahun baru dengan kegiatan yang lebih manfaat.

Mabit yang bertempat di Masjid An-Nuur Biofarma Bandung ini diselenggarakan dan didanai oleh PT. Biofarma. Mengundang Salim A Fillah dan Setia Furqan Kholid, masjid dipenuhi jamaah baik akhwat maupun ikhwan.

Aku datang tepat pada saat adzan Maghrib berkumandang. Saat memasuki pintu masjid, nampak sekelompok panitia yang bertugas untuk meregistrasi peserta mabit dan juga memberikan nasi box dan air mineral botol secara gratis.

Setia Furqon Khalid

Sosok lelaki asal Bandung ini memiliki gaya komunikasi seperti Aa Gym: dari segi berinteraksi dengan peserta, melucu sampai nada suara. Di usianya yang masih muda, yakni 26 tahun, kang Furqon telah menerbitkan buku, menikah dan haji bersama kedua orang tuanya. Sebuah pencapaian yang patut diteladani oleh kaum muda.

Segala apa yang telah dicapai oleh beliau bukan berarti sebuah bentuk kesombongan. Ada kalanya kita harus berani menampilkan pencapaian diri pada orang lain sebagai bentuk kesyukuran dan juga kemanfaatan.Ya, tergantung pada niatnya.

Kang Furqon senang sekali berkelakar. Setiap materi yang disampaikan selalu saja mengundang tawa hadirin. Karena beliau adalah trainer seminar motivasi, maka tak ayal teriakan motivasi berdengung riuh di seantero masjid.

Satu hal yang membuatnya sukses pada usia muda adalah dari membaca. Beliau sangat terinspirasi pada sosok Fahri dalam novel Ayat-Ayat Cinta. Fahri yang selalu memiliki target dalam hidupnya. Maka Kang Furqon mengikuti jejak Fahri untuk selalu menulis target dalam hidupnya, 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun.

Aku selalu kagum pada sosok motivator karena daya kreatif yang dimiliki. Seperti kang Furqon ini yang begitu kreatif merangkai kata SETIA (nama depannya) sebagai singkatan dari ciri-ciri muslim sukses.
  • S : Spirit
  • E : Emotional
  • T : True Financial
  • I  : Intelectual
  • A : Action Power
Diakhir sesi, kang Furqon mengajak kita untuk sama-sama belajar dari cicak. Seekor cicak yang menempel pada dinding dan harus makan nyamuk yang terbang untuk bertahan hidup. Betapa hidup yang sulit bagi cicak. Namun cicak tak pernah mengeluh karena mereka bergantung sepenuhnya pada Allah.

Salim A Fillah

Ini adalah kali kedua aku bertemu ustadz Salim. Dulu, tahun 2010 aku berjumpa dengan beliau pada saat bedah buku di Universitas Indonesia. Teringat dulu aku menangis sesenggukan saat memasuki UI, betapa aku sangat ingin kuliah.

Kini aku tak lagi menangis. Aku bahagia karena hari itu aku mendengar kembali ceramah beliau tentang keberkahan hidup. Tersebut bahwa bermesraan dengan Allah adalah keberkahan hidup yang sejati. Beliau pun menyebutkan bahwa keberkahan dalam doa bukan terletak pada cepatnya doa dikabulkan namun pada kemanfaatan bagi sebesar-besarnya alam. Seperti doa yang diucapkan Ibrahim yang memohon diberikan keberkahan pada Bakkah dengan dihadirkannya seorang lelaki yang membacakan ayat-ayatNya pada kaumnya sendiri. Namun rupanya doa tersebut baru Allah kabulkan 4200 tahun kemudian dengan kehadiran Nabi Muhammad yang membawa ajaran Islam hingga akhir zaman.

Berdoa bukanlah berarti kita memberitahu kebutuhan kita pada Allah karena Allah adalah Yang Maha Mengetahui. Doa adalah dialog dengan Allah, mengagungkanNya dan introspeksi diri sendiri. Pada saat kita merasa tak berdaya, berdoalah... Allah akan memampukan kita.

Sebagai wanita, aku selalu memohon pada Allah untuk dikaruniai suami dan keturunan yang sholeh. Namun ustadz Salim seakan menohok diriku dengan berucap: " Buat apa suami sholeh?! " Aku tercenung mendengar penuturan beliau itu. Rupanya beliau menyadarkan kami bahwa mintalah yang terbaik pada Allah. Bagaimana jika suami kita sholeh namun kita tidak? Maka perbaiki diri untuk menjadi seorang yang taat pada Allah. Kemudian ustadz Salim berkelakar: " Lihatlah Asiyah yang suaminya serem dan Maryam yang suaminya gak jelas! Keduanya adalah wanita sholeh dan dijamin masuk surga meski tanpa suami yang sholeh."

Aku tertohok!

Nabi Ibrahim as adalah seorang yang Allah berkahi. Dalam surat Asy-Syuara ayat 78-82 disebutkan bahwa Nabi Ibrahim memiliki keyakinan yang kuat pada Allah.

"(yaitu) Yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku." (26:78)

" dan Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku." (26:79)

" dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku." (26:80)

" dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali)." (26:81)

" dan Yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat." (26:82)

Ust Salim juga menyebutkan bahwa yang penuh keberkahan biasanya jalannya penuh liku. Seperti halnya keberkahan hidup yang dimiliki Yusuf. Pada masa kecilnya ia begitu dicintai ayahnya namun dibuang oleh saudaranya. Setelah dewasa ia begitu dibenci oleh Fir'aun namun kemudian menjadi menteri yang agung, hingga pada akhirnya ia berjumpa kembali dengan ayahnya setelah bertahun-tahun tak berjumpa.

Ustadz Salim mengingatkan pada kita bahwa terkadang kegagalan di dunia adalah keberkahan di akhirat. Seperti yang terjadi pada Nabi Yakub as. Beliau memiliki 12 anak: 10 anak berprilaku jahat, 2 sholeh, namun 1 anak sholeh beliau hilang (dibuang oleh saudaranya). Sebuah kisah yang menggetarkan hati. Bagaimana bisa seorang yang alim seperti Yakub memiliki anaki-anak yang membangkang? Hal ini seperti mengingatkan kita pada kisah-kisah di sekitar kita yang mana banyak anak-anak nakal yang terlahir dari orangtua yang sholeh. Berati tugas kita bukanlah mengutuk orang tua yang tak bisa mendidik anak dengan baik, karena siapa tahu Allah telah menyiapkan hadiah terindah bagi orang tua tersebut atas kesabaran dan usaha mereka untuk mendidik anak menjadi baik.

Terkait rezeki, ustadz Salim menyebutkan bahwa yang terpenting bukanlah jumlah yang dipunya, melainkan keberkahan dari rezeki tersebut. Contoh: jika kita mempunya uang 1 M, bisa jadi rezeki kita tidak sebesar itu. Bisa saja kita membeli makanan yang mahal, namun rezeki nikmat dalam menyantap makanan bisa jadi tidak kita rasakan. Bisa saja kita membeli ranjang mahal namun nikmat tidur lebih terasa bila beralaskan koran. Ya, Allah mendistribusikan rezeki dengan cara yang indah.

Imam Syafi'i pernah ditemui seorang pria yang mengeluh tentang istrinya yang galak serta anak-anaknya yang membantah. Alih-alih mendapatkan solusi baik dalam masalahnya, Imam Syafii malah menyuruh pria tersebut untuk meminta pengurangan gaji pada majikannya dari 5 dirham menjadi 4 dirham. Meski heran, pria tersebut melakukan nasihat Imam Syafi'i. Selang beberapa waktu, pria tersebut datang kembali ke Imam Syafi'i dan mengeluhkan hal yang sama. Maka Imam Syafi'i menyuruh pria tersebut untuk menurunkan gajinya menjadi 3 dirham. Ajaibnya, meski gaji pria tersebut kurang, kehidupan keluarganya menjadi penuh keberkahan dan bisa untuk berinfak.

Rezeki Allah datang darimana saja. Seperti kisah yang terjadi pada Siti Hajar yang berusaha mencari air demi bayinya Ismail dengan berjalan bolak-balik Safa Marwah. Namun ternyata air muncul di tempat diamnya mereka dengan kaki Ismail yang menepuk tanah. Ya, Allah berikan kejutan pada Siti Hajar atas usahanya.

Kemudian bila dalam pekerjaan kita tidak dibayar semestinya, tenang saja, kita sedang menabung rezeki di sisi Allah. Tidak perlu khawatir dengan harta dan rezeki. Yang perlu diperhatikan adalah setiap rezeki yang diberikan olehNya akan selalu ada pertanyaannya. Untuk apa kau gunakan?

Terakhir, mintalah rezeki yang banyak dan cukup. Karena percuma toh punya sepatu banyak tapi gak cukup? :D

Teruslah memohon hidayah padaNya kapanpun juga. Teruslah bermanja denganNya, yakini benar bahwa kita adalah hambaNya, Rabb Yang Maha Pencipta, Maha Pemelihara, Maha Pengatur, Maha Pemberi.

"Aku tak peduli apakah doaku dikabulkan atau tidak karena jika Allah memerintahkan bagiku untuk berdoa, Ia telah menyiapkan karunia yang terbaik. Yang aku takutkan adalah aku tidak berdoa! "  (Sayyidina Ali)

 ~ Ijaah ~

Lombok Sumbawa World Travel Writers Gathering (2) : Malam Ramah Tamah bersama BPPD NTB

No comments:
Lombok Sumbawa World Travel Writers Gathering adalah langkah konkrit yang dilakukan oleh BPPD NTB (Badan Promosi Pariwisata Daerah Nusa Tenggara Barat) untuk mempromosikan pariwisata NTB sehingga tercapainya tujuan peningkatan kunjungan wisata ke Nusa Tenggara Barat.
 ***
Mataku menyipit, terbangun dari lelapnya tidur dalam bis yang membawa kami kembali ke Mataram. Keceriaan siang tadi di air terjun Tiu Kelep nyatanya mampu membuat tidurku sangat nyenyak, bahkan dalam kondisi kaos, rok dan jilbab yang basah kuyup.

Pemandangan di luar sepenuhnya gelap. Malam telah tiba dan aku begitu mendamba kucuran air hangat dan kasur yang empuk. Tapi sebelum itu semua kulakukan, aku harus makan malam. Dan saat dikatakan bis ini melaju ke restoran ayam taliwang, cacing di perutku girang bukan kepalang.

Adalah Restoran Ayam Taliwang H. Moerad, tempat kami bersantap malam. Tak hanya menyoal mengisi perut, rupanya pihak restoran telah menyiapkan tempat khusus bagi kami untuk mengikuti demo masak ayam taliwang. Selain itu, setelah santap malam akan ada sesi presentasi dari BPPD NTB. Ya, ini adalah malam ramah tamah BPPD NTB dengan para blogger yang turut serta dalam World Travel Writers Gathering.



H. Moerad, pelopor Ayam Taliwang di Indonesia


Pak Taufan Rahmadi menyambut kami dengan gembira. Senyumnya yang selalu mengembang membuatku merasa nyaman berada disini. Rasa lelah yang tadi kurasa, nampaknya telah menguap begitu saja. Aku suka berada disini.

Pak Taufan adalah ketua BPPD NTB atau Badan Promosi Pariwisata Daerah Nusa Tenggara Barat. Beliau juga merupakan suami dari cucu H. Moerad, sang pelopor ayam taliwang. Ibu mertuanya, Hj. Sovia Moerad adalah generasi penerus restoran ini. Disebutkan bahwa nama taliwang diambil dari nama daerah di Lombok yaitu Karang Taliwang. Disanalah untuk pertama kalinya H.Moerad dan istrinya Salmah mulai memperkenalkan ayam taliwang.

Meski menjadi pelopor ayam taliwang, hal ini tak lantas membuat H. Moerad mematenkan masakannya. Beliau beranggapan bahwa dengan mematenkan ayam taliwang, pintu rezeki orang lain akan tertutup. Orang lain boleh saja menggunakan nama yang sama. Namun jelas, dari cita rasa masakan, ayam taliwang H. Moerad ini berbeda dibandingkan yang lain.


Demo Masak Ayam Taliwang


Melihat secara langsung cara memasak ayam taliwang dari keturunan 'sang pelopor' adalah pengalaman yang langka. Ditemani putrinya yang cantik, Hj. Sovia mulai mempraktekan cara memasak ayam taliwang, plecing kangkung dan beberok terong.

Hj. Sovia dan Ny. Taufan


Bahan masakan telah ditempatkan dengan rapi di atas meja. Ada ayam kampung (muda), terong, kangkung Lombok (tangkainya tebal), bumbu pelalah (pedas), bumbu plecing kangkung dan bumbu beberok terong. Ciri khas masakan Lombok adalah rasanya yang pedas, maka cabe merah dan cabe lombok menjadi bahan yang wajib. Jika hendak memasak sendiri, ada baiknya menggunakan terasi asli Lombok agar rasanya lebih nikmat.

ayam taliwang, plecing kangkung dan beberok terong

Jika ingin menikmati ayam taliwang perdana di Lombok atau bahkan di Indonesia, datanglah ke Rumah Makan Ayam Taliwang H. Moerad. Tentang harga, Hj. Sovia tidak mematok harga pas kepada setiap pengunjungnya. Bila ada konsumen yang tidak membawa uang cukup, beliau tetap menerimanya. Hal ini beliau lakukan atas dasar pesan sang ayah: dalam membuka restoran, tidak boleh mengharapkan untung besar, yang penting bisa membuat orang dapat makan dan merasa puas.

Video Promosi Pariwisata NTB dan Film Holiday is Lombok Sumbawa

Selepas santap malam, Pak Taufan memperlihatkan pada kami video promosi pariwisata NTB  yang berjudul Let's GO to Lombok and Sumbawa. Ada rasa kagum dan bangga saat menyaksikan video tersebut. Betapa NTB itu indah, memiliki kekayaan alam dan budaya yang melimpah.



Tak hanya di Youtube, West Nusa Tenggara Regional Tourism Promotion Board ini dapat kita saksikan di Audio and Video On Demand (AVOD) maskapai Garuda Indonesia. Aku melihat video tersebut pada saat pesawat baru saja landing di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali akhir Januari lalu. Menyaksikan video pariwisata NTB dapat dengan sukses menumbuhkan rasa cintaku pada Nusa Tenggara Barat.

Selain itu, Pak Taufan memperlihatkan pada kami trailer dari film Jangan Ke Lombok Nanti Gak Mau Pulang yang disutradarai oleh putera daerah Lombok. Film ini menceritakan kisah persahabatan yang berkelana di Lombok dan Sumbawa.

Acara ditutup dengan sesi testimoni dari para blogger. Ada Rayyan dari Malaysia, Tui dari Australia, Yong Jingyi dari Singapura, Yudasmoro, Barry Kusuma, Tekno Bolang, aku, Rifqy, Lulu, Adi Nugraha, Adi Wiratmo dan peserta WTW Gathering lainnya.

Ada hal lucu nan menggelitik. Pada saat menyampaikan testimoni, dikatakan bahwa aku berasal dari Bangkok. Praktis wajahku melongo tanda tak mengerti. Rupanya Bangkok adalah akronim dari Bandung Kota Kembang. Aku dan yang lainnya tertawa, hey aku baru tahu akronim itu!

Keseriusan pihak BPPD NTB dalam peningkatan promosi wisata NTB patut diacungi jempol. Aku sangat berterimakasih kepada BPPD NTB yang telah memberikan kesempatan baik ini padaku. Semoga dengan segala keindahan yang dimiliki NTB ditambah dengan keseriusan pemerintah dalam hal pariwisata, kunjungan wisatawan ke Lombok semakin meningkat.

Aku cinta Lombok dan ingin terus kembali ke Lombok. Aku juga cinta Sumbawa, meski kaki ini belum pernah berpijak di tanahnya. Karena segala hal yang kudengar tentang engkau, sudah cukup membuatku jatuh cinta.

Ya, aku cinta Lombok dan Sumbawa.

~ Ijaah ~

Follow me on Instagram