Tuesday, March 31, 2015

Kuliner Nusantara Dalam Kemasan Instan

Sadar telah dewasa, aku harus mulai bisa memasak. Maksudnya masak yang berat-berat. Maksudnya lagi yang banyak rempahnya. Jangan melulu masak telor, mie, nasi goreng, tumis kangkung, tahu pedas, karedok, sayur asem dan sayur bayam. Aku harus bisa masak rendang, ayam taliwang, ayam pop, gudeg, rawon dan lainnya. Aku harus move on dari masakan yang mudah. Ya, aku pasti bisa!

Untuk itu, aku harus pandai berlatih. Aku mulai gabung dalam website dapurmasak[dot]com dan menandai beberapa resep yang rencananya akan aku masak. Aku menandai cara memasak ayam, daging, kue, tumpeng dan lainnya. Namun sayang, rencana itu gagal -.-

Monday, March 30, 2015

Nonton Jazz Gratis di IFI Bandung

Semenjak aktif di Twitter, aku jadi tahu bahwa banyak sekali akun yang sangat berbaik hati berbagi ilmu dan motivasi. Salah satunya adalah ilmu bahasa asing. Aku follow beberapa akun belajar Bahasa Inggris dan Perancis. Kenapa Perancis? Karena menurutku bahasanya beda dan seksi!

Pencarianku berhasil mendarat pada Belajar Bahasa Perancis bersama Cherie, Talk in French, French Pod dan Institut Francais Indonesia (IFI). Aku follow semua akun itu dan kubuka website nya. Aku ikut kursus bersama Cherie dan subscribe newsletter IFI Bandung. 

Rasanya sangat ingin kursus Bahasa Perancis di IFI Bandung, karena pengajarnya native speaker, orang Perancis asli! Namun sayang, kesempatan itu belum ada, atau barangkali aku yang tidak menyempatkan waktu ya.

Keuntungan berlangganan berita di website IFI Bandung adalah aku banyak menerima e-mail tentang kegiatan pameran, musik dan pendidikan di kota Bandung. Salah satunya adalah diadakannya Pre Event Java Jazz Festival di auditorium IFI Bandung! Sebagai penyuka Jazz, tentunya aku tak ingin melewatkan kesempatan ini.

Cerita Tentang Dinda

Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dinda, apa kabar? 
Sudah lama ya kita tak berjumpa.
Kapan terakhir kita berjumpa, Dinda?
Ah ya, aku ingat!  
Sudah empat tahun kita tidak berjumpa.
Oh betapa itu waktu yang lama sekali! 
Seperti apakah rupa dirimu sekarang ?
Aku rindu. Sangat rindu... 

*** 

Friday, March 20, 2015

Matcha, Aku Padamu!

Sudah sejak lama aku menyukai teh hijau. Diminum selagi hangat (tanpa gula) dan diemut sebagai permen. Mungkin karena dulu jenis santapan berbahan teh hijau masih sedikit (atau juga karena aku kurang gaul), baru sebatas itu olahan teh hijau yang kusantap. 

Jika makan di restoran Jepang, pasti kita akan disuguhkan ocha a.k.a teh hijau Jepang. Aku lebih senang ocha panas dibandingkan ocha dingin. Karena gratis, biasanya aku minta berkali-kali sama mba pramusajinya :D.

Semakin kesini, aku mulai mengenal kata matcha. Setelah kuselidiki, ternyata matcha adalah teh hijau Jepang juga. Lho, lalu apa bedanya macha dengan ocha?

Thursday, March 19, 2015

Ini Bukan Novel, Ini Esprecielo!

Tadi sore, setelah memutuskan untuk tidak kerja malam, aku menerima ajakan temanku untuk belanja ke Yogya Riau Junction. Meski tak memiliki hasrat belanja, aku niatkan saja untuk cuci mata, siapa tahu ada inspirasi menulis. Selain itu, Yogya Riau Junction itu nyaman sekali.

Jika sedang ada di Bandung dan ingin menikmati one shop shopping serta tempat kuliner yang nyaman, pilih saja Yogya Riau Junction. Mencari apa saja, ada disini. Dari produk lokal sampai impor.

Sore ini aku kembali belajar, bahwa kekuatan niat itu besar sekali. Saat sedang asyik-asyiknya berkeliling, tetiba aku mendapat inspirasi menulis.

Itu novel?

Kumat Kufur | Sebuah Perenungan dari Bob Sadino dan Jaya YEA

Aneh ya...
Allah sudah kasih banyak nikmat, tapi keluhan seringkali terucap dari diri. 
Aneh ya...
Setiap hari makan dan tidur enak, tapi hati sedih karena diri sendiri tidak sesukses orang lain.
Aneh ya...
Sudah dapat pekerjaan dan usaha mapan, tapi seringkali mangkir kerja dan mengumpat boss juga perusahaan.
Aneh ya...
Saat lajang sering menangis karena terlalu lama sendiri, saat menikah sering berkeluh kesah karena sikap suami dan anak-anak.
Aneh ya...
Orang tua masih ada, namun sikap kita tidak mencerminkan rasa syukur akan itu. Membentak, memicingkan mata, meninggikan suara dan tak mengindahkan permintaan mereka.
Aneh ya...
Diberi kesempurnaan anggota tubuh, tapi tetap saja mengeluh diri ini tidak sempurna, tidak cantik. 
Aneh ya...
Kita seringkali kumat kufur. 
Bagaimana jika semua nikmat itu diambil? 
***

Wednesday, March 11, 2015

Nyanyian Boneka Untuk Ponakan Centil

Hujan rintik-rintik...
Air bergelombang...
Saya minta uang...
Untuk beli balon...
Tiga tambah tiga...
Sama dengan enam...
Enam dikali enam, sama dengan tiga enam...
Enam... Enam...
Diberi sudut 

Monday, March 9, 2015

Surat Cinta Untuk Suami Masa Depanku



Salam.

Semangat pagi, Suami Masa Depanku.

Aku tahu, surat ini sampai padamu saat gelap menyelimuti bumi. Tapi izinkanlah aku untuk mengucap semangat pagi padamu tak peduli pagi, siang maupun malam. Aku ingin jiwa kita selalu semangat seperti semangat di pagi hari.

Wahai suami masa depanku, aku sungguh buta siapa dirimu, dimana kau tinggal dan apa yang sedang kau kerjakan kini. Aku bahkan tak tahu apakah kita sudah bertemu atau belum. 

Meski aku tak tahu apapun tentang dirimu, namun kau harus tahu bahwa aku mencintaimu. Ya, i've loved you for a thousand years. Aku telah mencintaimu meski Tuhan belum mempertemukan kita dalam mahligai pernikahan.

Wahai suami masa depanku, aku sering menyebut nama-mu dalam doa. Kugelar sajadah sebagai alas terindah untuk menyatakan rinduku padamu kepada Tuhan kita. Suamiku, aku begitu menanti hadirnya dirimu. Meski begitu, aku tak meminta Tuhan mempercepat pertemuan kita. Aku meminta pada Tuhan untuk memperkaya diriku dengan ilmu sehingga saat kita bertemu nanti, aku telah siap dalam kondisi yang sebaik-baiknya. Aku meminta pada Tuhan untuk memberikan waktu yang terbaik pada kita. Karena aku percaya, skenario-Nya adalah yang terbaik.

Wahai suami masa depanku, kau sedang apa? Aku berharap kau selalu berada dalam jalan Tuhan dan tetap semangat dalam menggapai mimpimu. Aku menilaimu dari agamamu, kesungguhanmu, semangatmu, kecerdasanmu, kemandirianmu dan cintamu padaku. Tak mengapa di awal kau bawa aku dalam kehidupan materi yang serba tak ada. Namun aku harap, tekad dan semangatmu untuk memperbaiki kualitas hidup tetap ada pada dirimu. 

Wahai suami masa depanku, barangkali aku akan kepayahan menghadapi kesungguhanmu dalam meraih mimpi kita. Maka bimbinglah aku, berilah aku ilmu dan ajaklah aku dalam setiap titian langkahmu.

Wahai suami masa depanku, kau selalu menjadi orang pertama yang mengetahui seluk beluk tentang diriku. Kulihat kau begitu mendukung mimpiku. Kau tak merasa berat saat melihatku tenggelam dalam buku-buku dan tulisan. Kau tak mengekangku seperti yang kusir lakukan pada kuda. Kau mengikatku dengan kebebasan bertanggung jawab, yang membuat rasa cintaku padamu bertambah. Dan ini semakin membuatku ingin memberikan yang terbaik padamu.

Wahai suami masa depanku, pikiranku sering berkelana, bahwa kelak kita akan berhaji bersama serta menyusuri negara-negara di dunia bersama. Kau membiarkan punggungmu memikul tasku yang beratnya bukan kepalang. Kubalas pengorbananmu itu dengan pijatan yang melegakan. Di tangan kananmu, kau genggam tangan kiriku. Sedang tangan kirimu menggenggam kamera yang menjadi saksi kebersamaan kita.

Wahai suami masa depanku, barangkali di awal pernikahan nanti kau akan segera tahu betapa buruknya aku. Barangkali masakanku nanti tak senikmat masakan ibumu, namun aku berusaha untuk memperbaikinya. Sungguh, maafkanlah segala kekuranganku. Aku akan selalu berusaha untuk memperbaiki sikap dan keterampilanku. 

Wahai suami masa depanku, bersamamu aku ingin meniti langkah menuju surga. Tuntunlah aku selalu dalam kebaikan dan berilah aku nasihat bila aku keliru dalam mengambil langkah.

Wahai suami masa depanku, izinkanlah aku untuk mendendangkan sebuah lagu tentang dirimu, Pangeran Surgaku... 

"Di dalam hatiku tertulis harapan terindah
Yang selalu kupinta lirih dalam doaku
Kau mungkin rahasia, kunanti dalam ketaatan
Kupantaskan diriku dihadapNya"

"Berharap penuh keikhlasan
Kau menjadi Pangeran Surgaku
Kita merajut mimpi dalam pernikahan suci
Kabulkanlah..."

"Kuyakin namamu ada dalam masa depanku
Menguji kesabaranku melangkah, menunggu
Kau mungkin rahasia, kunanti dalam ketaatan
Kupantaskan diriku dihadapNya"

Wahai suami masa depanku, selamat berjuang. Selamat memperbaiki diri. Jemputlah aku bila kau telah siap. Aku menantimu dengan sabar, dalam balutan ketaatan padaNya.

Dari aku yang mencintaimu,
Istri Masa Depanmu. 


~ Ijaah ~

Sunday, March 8, 2015

Bismillah... Aku Berhijab

Seorang gadis membeli sebuah iPhone 6. Smartphone tersebut telah dilengkapi dengan pelindung layar dan 'flip cover' yang tak kalah cantiknya. Dia menunjukkan smartphone barunya tersebut ke ayahnya. Lalu, percakapan yang cukup menggugah pun dimulai:
Ayah : Wah, telepon genggam yang bagus. Berapa harga yang harus engkau bayar untuk itu?
Anak Perempuan : Saya membayar 700 dolar untuk telepon genggam ini, 20 dolar untuk penutup teleponnya, serta 5 dolar untuk pelindung layarnya.
Ayah : Oh, mengapa kamu menambahkan pelindung layar dan penutup teleponnya? Bukankah kamu dapat menghemat 25 dolar untuk itu? 
Anak Perempuan : Ayah, saya telah menghabiskan 700 dolar untuk mendapatkan telepon genggam ini. Jadi apa alasan saya tidak mengeluarkan 25 dolar untuk keamanannya? Dan lihatlah, penutup ini juga membuat telepon genggamku tampak lebih indah bukan?
Ayah : Bukankah itu sebuah penghinaan bagi perusahaan Apple, Inc. bahwa mereka tidak dapat membuat produk iPhone yang cukup aman?
Anak Perempuan : Tidak, Ayah! Mereka bahkan menyarankan kepada penggunanya untuk menggunakan pelindung layar dan penutup telepon ini untuk keamanannya. Dan saya tidak mau terjadi sesuatu yang dapat membahayakan iPhone baru saya.
Ayah : Apakah itu tidak akan mengurangi keindahan telepon itu? 
Anak Perempuan : Tidak, itu justru membuat telepon genggam saya terlihat lebih indah.
Lalu, sang Ayah menatap putrinya dan tersenyum dengan rasa kasih sayang. Sang Ayah pun berkata,
Putriku, kau tahu Ayah sangat menyayangimu. Kau membayar 700 dolar untuk membeli iPhone ini, serta 25 dolar untuk melindunginya. Aku telah membayarkan seluruh hidupku untukmu, lalu mengapa engkau tak menutup auratmu dengan hijab untuk keselamatanmu sendiri? Telepon ini, kelak tidak akan dipertanyakan di akhirat nanti. Namun kelak aku akan ditanyai oleh Allah tentangmu, putriku...
*** 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...