Kuliner Nusantara Dalam Kemasan Instan

No comments:
Sadar telah dewasa, aku harus mulai bisa memasak. Maksudnya masak yang berat-berat. Maksudnya lagi yang banyak rempahnya. Jangan melulu masak telor, mie, nasi goreng, tumis kangkung, tahu pedas, karedok, sayur asem dan sayur bayam. Aku harus bisa masak rendang, ayam taliwang, ayam pop, gudeg, rawon dan lainnya. Aku harus move on dari masakan yang mudah. Ya, aku pasti bisa!

Untuk itu, aku harus pandai berlatih. Aku mulai gabung dalam website dapurmasak[dot]com dan menandai beberapa resep yang rencananya akan aku masak. Aku menandai cara memasak ayam, daging, kue, tumpeng dan lainnya. Namun sayang, rencana itu gagal -.-
Sekarang aku lebih sering makan di luar karena aku hanya tinggal dengan adik lelakiku, Azhar. Dia tidak suka masakanku. Eh, jangan ngetawain ya! Azhar tidak suka sayur, sedang aku melulu masak sayur.

Gitu.

Jika mood masak sedang ada, aku sering membeli paket sop atau sayur asem yang sudah disiapkan oleh pihak supermarket. Tujuannya supaya porsi sop-nya pas untuk satu orang, hanya untukku. Aku juga suka membeli telur dan nugget untuk adikku.

Paket sup itu memudahkanku untuk memasak. Aku tak perlu mencari-cari bahan apa saja yang diperlukan untuk memasak sop. Cukup ambil satu paket sop, semua bahan hingga bumbu ada disana. Mudah!

Selain itu, aku memasak mie dan telor jika ingin memasak yang super duper mudah. Namun tentu setelah itu aku minum lemon hangat sebagai penetralisir dan juga agar badan segar kembali.

Jika belanja di supermarket besar, kita akan menyadari bahwa banyak sekali makanan dalam bentuk instan. Dari mulai nugget, baso, sosis yang dikemas dalam frozen pack. Selain itu, kita juga akan menjumpai banyak masakan khas nusantara yang dikemas dalam bentuk frozen. Aku menemukan beberapa kuliner khas nusantara seperti:

  • Ayam Taliwang
  • Ayam Pop
  • Ayam Woku
  • Ayam Rendang
  • Ayam Madu
  • Ayam Lada Hitam
  • Ayam Serundeng 
  • Ayam Tulang Lunak
  • Ayam Kecap
  • Ayam Kemiri
  • Ayam Bumbu Kuning
  • Iga Bakar Lada Hitam
  • Gepuk

Ayam Taliwang Instan
Ayam Kampung Bumbu Kuning Instan






Gepuk Instan
Cara memasaknya mudah. Biarkan sejenak makanan (contoh ayam serundeng) di suhu ruangan. Setelah suhu normal, goreng ayam hingga matang. Untuk bumbu, goreng serundeng hingga masak kemudian tuangkan. Mudah kan?

Ayam Serundeng Instan
Selain itu, kutemukan pula singkong keju, rujak cireng, pempek dan tekwan dalam bentuk instan. Ini tentu saja memudahkan bagi para ibu yang ingin menyajikan masakan yang berbeda bagi keluarga. Soal rasa, barangkali itu sesuai selera ya.

Rujak Cireng
Kemunculan kuliner nusantara dalam bentuk frozen ini memudahkan bagi wanita yang sibuk. Selain itu, ini juga sebagai sarana promosi kuliner Indonesia. Dengan dikemas seperti ini, peluang makanan khas Indonesia untuk diekspor ke luar negeri semakin besar bukan?

Meski kini ada banyak sekali masakan yang dikemas dalam bentuk instan, baik dalam bentuk frozen pack atau tidak, aku tetap ingin bisa memasak sendiri. Aku ingin lihai memasak karena aku perempuan, kelak akan memasak untuk suami, anak-anak, dan sanak saudara. Memasak itu sebuah keharusan bagi perempuan. 

Untuk sekarang, sepertinya aku akan lebih banyak memasak secara instan. Tapi nanti aku harus bisa memasak sendiri. Harus dan hukumnya wajib!


~ Ijaah ~

Nonton Jazz Gratis di IFI Bandung

No comments:
Semenjak aktif di Twitter, aku jadi tahu bahwa banyak sekali akun yang sangat berbaik hati berbagi ilmu dan motivasi. Salah satunya adalah ilmu bahasa asing. Aku follow beberapa akun belajar Bahasa Inggris dan Perancis. Kenapa Perancis? Karena menurutku bahasanya beda dan seksi!

Pencarianku berhasil mendarat pada Belajar Bahasa Perancis bersama Cherie, Talk in French, French Pod dan Institut Francais Indonesia (IFI). Aku follow semua akun itu dan kubuka website nya. Aku ikut kursus bersama Cherie dan subscribe newsletter IFI Bandung. 

Rasanya sangat ingin kursus Bahasa Perancis di IFI Bandung, karena pengajarnya native speaker, orang Perancis asli! Namun sayang, kesempatan itu belum ada, atau barangkali aku yang tidak menyempatkan waktu ya.

Keuntungan berlangganan berita di website IFI Bandung adalah aku banyak menerima e-mail tentang kegiatan pameran, musik dan pendidikan di kota Bandung. Salah satunya adalah diadakannya Pre Event Java Jazz Festival di auditorium IFI Bandung! Sebagai penyuka Jazz, tentunya aku tak ingin melewatkan kesempatan ini.


Namanya juga Pre, acara ini berlangsung sebelum Java Jazz dimulai. Karena aku tak bisa menghadiri Java Jazz, aku diuntungkan dapat menyaksikan acara ini. Selain bisa menikmati Jazz langsung, acara ini terbuka bagi umum dan gratis!

Aku mengajak dua orang temanku, salah satunya Mba Aini. Karena acara dimulai pukul 7 malam, kami bertiga jalan-jalan dulu di Riau Junction, spot favorit untuk belanja dan makan. Selain itu, jarak Riau Junction ke IFI cukup dekat.

Dasar wanita, sekalinya ke tempat belanjaan, matanya kemana-mana. Seperti Mba Aini, matanya jatuh pada kaos couple. Bentuknya lucu-lucu, tapi saat kutanya apakah kaos itu akan dibeli, ia berkata:
Nyari dulu couple-nya, Zah
Oh baiklah...

Segera dapet jodoh ya mba'e...
Terlambat satu jam, acara baru dimulai pukul 8 malam. Auditorium IFI nampak dipenuhi para penikmat Jazz seperti aku. Kulihat ada beberapa bule yang ikut menyaksikan juga. Acara dibuka oleh perwakilan IFI Bandung, beliau orang Perancis namun fasih berbahasa Indonesia.

Pertunjukan dibuka dengan sajian bass yang apik dari Chris Minh Doky yang berasal dari Denmark. Setelah memperlihatkan keahliannya dalam dua lagu, muncul musisi lain yakni: Jimi Tenor, pianist dan fluetis dari Finlandia; Magnus Lindgren, fluetis dan saksoponis dari Swedia dan Hanna Paulsberg, saksoponis dari Norwegia. Keempat musisi tersebut tergabung dalam NORDIC ALL STARS. Pertunjukkan mereka dibantu oleh musisi dari Indonesia yakni Johannes Radianto pada Gitar dan Elfa Zulham pada drum.

The band! (photo was taken by Aini)

Hanna, Magnus and Chris (photo was taken by Aini)
Aku mengabadikan performa NORDIC ALL STARS ini dengan menggunakan kamera iPhone 4. Namun sayang, kualitas foto yang dihasilkan kurang bagus. Sedangkan hasil bidikan Mba Aini bagus sekali. Tentu saja karena kamera HP nya super canggih: Sony Xperia Z10!

The CD's!
Beruntung sekali aku bisa menikmati sajian musik dari musisi Jazz Internasional. Keempatnya benar-benar mahir menghipnotis kami. Aku sampai tak bisa menghentikan bahu untuk bergoyang ke kiri dan kanan serta menghentakan kaki. Ah, Jazz selalu membuatku begitu!

Aku selalu bermimpi. Kelak aku ingin sekali menikmati Jazz bersama suami (baik yang gratis maupun yang bayar, muehehe!). Sekarang, cukuplah dengan teman yang sama-sama suka Jazz. Itu saja sudah membuat bahagia. Pastilah, karena aku suka Jazz!


~ Ijaah ~

Cerita Tentang Dinda

No comments:

Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dinda, apa kabar? 
Sudah lama ya kita tak berjumpa.
Kapan terakhir kita berjumpa, Dinda?
Ah ya, aku ingat!  
Sudah empat tahun kita tidak berjumpa.
Oh betapa itu waktu yang lama sekali! 
Seperti apakah rupa dirimu sekarang ?
Aku rindu. Sangat rindu... 

*** 

Aku seperti Raju Rastogi. Juga seperti Farhan Qureshi. Selama 5 tahun, keduanya mencari 'Rancho' Shamaldas Chancad, seorang sahabat yang berperan besar dalam membentuk kesuksesan keduanya.

Raju dan Farhan menempuh perjalanan jauh saat mengetahui keberadaan Rancho. Keduanya menempuh jalur beratur-ratus kilometer menuju Shimla yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan yang lebih jauh lagi menuju Ladakh.

Betapa pentingnya sosok Rancho bagi Raju dan Farhan, sehingga keduanya mau berlelah-lelah mencari Rancho. Apa saja nasihat Rancho bagi keduanya?

Aal izz well... Aal izz well... Aal izz well... (All is well)
Ikuti keunggulanmu, maka kesuksesan menghampirimu... 

Raju yang takut akan masa depannya, belajar untuk bersikap positif dan melatih hatinya untuk selalu berkata 'Aal izz well' bahkan disituasi mengerikan sekalipun. Farhan yang dipaksa untuk menjadi insinyur oleh kedua orang tuanya, belajar untuk membuktikan pada kedua orang tuanya bahwa ia memiliki bakat menjadi seorang fotografer, bukan sebagai insinyur.

Seperti itulah peran Rancho bagi Raju dan Farhan.

Rancho adalah inpirasi ...
Rancho adalah pemberi semangat ...
Rancho adalah gudang ilmu ...
Rancho adalah kutub positif ...
Rancho adalah pemberani ... 
Rancho adalah Dinda ...

Dinda adalah temanku. Ia yang usianya setahun lebih muda dariku, memiliki kedewasaan yang lebih dibanding aku. Dinda memiliki akhlak yang baik dan selalu ramah pada sesama. Dinda gemar sekali tersenyum. Dinda pandai berdagang dan menginspirasi sesama. Dinda gemar sekali shalat malam dan shaum. Dinda selalu berpakaian syar'i dengan jilbab yang menjuntai menutupi dada.

Teteh, pake rok yuk saat kerja!

Permintaan Dinda itu menohok hatiku. Saat kerja, aku memakai celana untuk memudahkan aktivitasku. Terkadang aku rindu untuk memakai rok namun aku takut akan omongan orang-orang disekitarku. Karena di lingkungan tempat kerjaku saat itu tidak ada yang memakai rok panjang.

Namun Dinda berbeda, Dinda tetap menggunakan rok dan jilbab panjangnya saat kerja. Aku malu pada diri sendiri yang belum bisa melakukan apa yang sebenarnya kuinginkan.

Teteh, jika kelak suami teteh perokok, bagaimana sikap Teteh?
Aku gak mau punya suami perokok
Bagaimana jika takdirnya demikian?
Gak mau. Aku gak mau punya suami perokok. Kelak, jika diharuskan memberi syarat pada calon suami, aku akan katakan bahwa aku tidak mau menikah dengan perokok.
Oh gitu. Mmm... Andai saja suami Teteh kelak adalah perokok, mengapa Teteh tidak berpendapat bahwa siapa tahu Teteh adalah jalan baginya untuk berhenti merokok?

Dinda...

Dinda adalah obat. Dinda adalah pendengar yang baik. Dinda adalah pemberi nasihat yang bijak. Dinda adalah penerang hatiku. Saat aku terpuruk dan jatuh dalam kehidupan yang tidak aku inginkan, Dinda meneguhkanku bahwa aku bisa melewati ini semua. Bahwa aku harus terus menghidupkan mimpi-mimpiku. Bahwa haruslah selalu ada iman dalam hati. Bahwa hidup ini indah, sangatlah patut disyukuri.

Allah, terimakasih atas kehadiran Dinda dalam hidupku. Selamanya, semoga Engkau selalu menyatukan kami dalam persahabatan yang indah. Lindungi dan sayangi Dinda selalu. Bahagiakan dia karena dia berhak mendapatkannya.


~ Ijaah ~

Matcha, Aku Padamu!

No comments:
Sudah sejak lama aku menyukai teh hijau. Diminum selagi hangat (tanpa gula) dan diemut sebagai permen. Mungkin karena dulu jenis santapan berbahan teh hijau masih sedikit (atau juga karena aku kurang gaul), baru sebatas itu olahan teh hijau yang kusantap. 

Jika makan di restoran Jepang, pasti kita akan disuguhkan ocha a.k.a teh hijau Jepang. Aku lebih senang ocha panas dibandingkan ocha dingin. Karena gratis, biasanya aku minta berkali-kali sama mba pramusajinya :D.

Semakin kesini, aku mulai mengenal kata matcha. Setelah kuselidiki, ternyata matcha adalah teh hijau Jepang juga. Lho, lalu apa bedanya macha dengan ocha?

Matcha
Ocha sendiri berarti teh (teh hijau). Sedangkan matcha adalah teh hijau bubuk yang dibuat dengan cara menggiling teh hijau hingga halus seperti tepung. Kini, olahan pangan dari matcha banyak sekali. Dari mulai latte, smoothies, mochi, es krim, bolu, cokelat hingga mousse. Bahkan saat ini ada kue cubit green tea yang menjadi kuliner khas Bandung. Kalau ke Bandung, cobain ya!

Bisa dibilang aku maniak matcha. Seperti saat di Macau lalu, tak peduli pagi, siang maupun malam, aku selalu menyantap es krim matcha. Setiap sarapan, aku selalu mengambil es krim matcha sebagai dessert. Sungguh, aku tak peduli perutku mules gegara makan es krim di pagi hari. Bahkan saat dinner di Macau Tower, aku menyiapkan ruang khusus untuk es krim matcha dengan cara sedikit mengkonsumsi hidangan utama. Una dan Sofi, kedua temanku yang sama-sama pergi ke Macau nampak sekali keheranan karena melulu es krim matcha yang aku santap.

Inilah es krim Matcha!

Es krim matcha telah menjadi keharusan bagiku saat berada di restoran Jepang. Seperti saat lunch di Matsuri (restoran Jepang baru di Jl. Setiabudi), aku memilih es krim matcha sebagai pilihan dessert. Oh ya untuk appetizer aku memilih edamame dan ocha hangat. Semuanya enak dan hijau. Green! Green! Green!

edamame dan ocha panas

Matcha juga telah menginspirasi para produsen cokelat dan permen untuk berinovasi dalam rasa. Seperti kini ada varian baru dari Kitkat yakni KitKat Green Tea. Selain itu, ada juga varian matcha lain seperti UHA Maccha Milk Candy, Allure Green Tea, Rit-to Green Tea dan masih banyak lagi.



Setelah mencoba beragam olahan pangan dari Matcha secara instan, aku ingin mencoba mengolah matcha sendiri. Setelah berseluncur di dunia maya tentang matcha, aku menemukan cara mengolahnya seperti yang ada di bawah ini:

Preparing Matcha Tea!

Nampaknya aku harus membeli pengaduk khusus itu ya. Namanya bamboo tea whisk (chasen). Oya sekalian aja beli tea bowl (matcha-chawan) dan tea ladle (chasaku) biar lebih mantap bikin matcha-nya. Selain itu aku ingin mencoba resep cara membuat matcha latte yang enak, bolu kukus, mousse dan kue cubit green tea yang enak. So excited!

Jadi sekarang aku mempunyai kebiasaan baru. Jika ingin es krim, aku pilih matcha. Jika ingin Rit-to, aku memilih matcha. Jika ingin latte, aku pilih matcha. Pokoknya aku suka serba-serbi matcha.

Ya matcha, aku padamu!


~ Ijaah ~

Sumber: google.com

Ini Bukan Novel, Ini Esprecielo!

No comments:
Tadi sore, setelah memutuskan untuk tidak kerja malam, aku menerima ajakan temanku untuk belanja ke Yogya Riau Junction. Meski tak memiliki hasrat belanja, aku niatkan saja untuk cuci mata, siapa tahu ada inspirasi menulis. Selain itu, Yogya Riau Junction itu nyaman sekali.

Jika sedang ada di Bandung dan ingin menikmati one shop shopping serta tempat kuliner yang nyaman, pilih saja Yogya Riau Junction. Mencari apa saja, ada disini. Dari produk lokal sampai impor.

Sore ini aku kembali belajar, bahwa kekuatan niat itu besar sekali. Saat sedang asyik-asyiknya berkeliling, tetiba aku mendapat inspirasi menulis.

Itu novel?

Novel? Di rak teh?
Setelah kudekati, rupanya itu adalah dus teh yang dibentuk menyerupai novel. Hey, ini Esprecielo! Aku pernah mencoba Tea Latte ini dan rasanya enak sekali. Paduan teh dan susu menciptakan cita rasa yang berkelas dan ringan di lidah. Aku baru mencoba dua rasa: Allure Green Tea dan Romance Red Tea. Keduanya aku suka!

Rupanya, selain memiliki kemasan D-Bag dan Economic Bag, Allure memiliki kemasan Novel Box. Bahkan sampai dibuat Trilogy!



Trilogi pertama adalah 'A Tea Story: ALLURE' yang mengangkat kisah menarik tentang persahabatan matcha dan susu yang menciptakan cita rasa berkelas. Sampul depan buku menampilkan testimoni dari Kafi Kurnia, seorang spesialis marketing Indonesia. Sedang sampul belakang menampilkan sinopsis 'A Tea Story: ALLURE', testimoni dari Ferry Tenka (owner disdus.com) dan Donna Oriza (newscaster PAS FM Jakarta), komposisi, informasi nilai gizi dan informasi produsen.

Trilogi kedua adalah 'A Tea Story: ROMANCE' yang mengangkat kisah percintaan teh merah Srilangka dan susu yang yang menghadirkan romantisme yang tak terlupakan dan abadi. Sampul depan buku menghadirkan terstimoni dari Tony Wahid (coffee blogger di www.cikopi.com). Sedang sampul belakang menampilkan sinopsis 'A Tea Story: ROMANCE', testimoni dari Kafi Kurnia dan Jiewa Kusumo (reviewer di www.inijie.com), komposisi, informasi nilai gizi dan informasi produsen.

Trilogi ketiga adalah 'A Tea Story: AFFAIR' yang mengangkat kisah hubungan kontroversial antara kopi, teh dan susu. Kisah persahabatan ketiganya penuh liku, diwarnai dengan suka duka, namun selalu tampak harmoni.
Trilogi ke 3 (www.esprecielo.com)
Kreatif! Penyajian dan kemasan yang unik, ditambah dengan cita rasa berkelas semakin memperkuat posisi Esprecielo sebagai produsen Premium Latte ternama. Yang lebih membanggakan adalah Esprecielo merupakan perusahaan dalam negeri yang berkantor pusat di Bandung. Saat ini Esprecielo memiliki beragam varian yakni Tea Latte, Coffe Latte, Special Blend dan Rit-to.



Rit-to adalah salah satu produksi Esprecielo yang aku suka. Pertama kali mencobanya saat pergi ke Derawan tahun lalu, diberikan gratis oleh seorang kawan yang ikut berkecimpung di bisnis Esprecielo. Sejak awal mencoba Rit-to Dark Matcha, aku telah jatuh cinta. Ya, inilah salah satu cokelat favoritku :).
Favorit <3 (www.esprecielo.com)
Esprecielo seakan mengerti keinginan konsumen. Esprecielo tak hanya memanjakan penikmat kopi, namun juga penikmat teh dan cokelat seperti aku.

Jika sedang bersantai dan ingin menikmati kenikmatan kopi atau teh, cobalah Esprecielo. Bisa dinikmati dengan air panas maupun air dingin. Rasanya berkelas dan dijamin memanjakan lidah.

Coffee is culture. Esprecielo is lifestyle. 

Sumber: www.esprecielo.com


~ Ijaah ~





Kumat Kufur | Sebuah Perenungan dari Bob Sadino dan Jaya YEA

1 comment:
Aneh ya...
Allah sudah kasih banyak nikmat, tapi keluhan seringkali terucap dari diri. 
Aneh ya...
Setiap hari makan dan tidur enak, tapi hati sedih karena diri sendiri tidak sesukses orang lain.
Aneh ya...
Sudah dapat pekerjaan dan usaha mapan, tapi seringkali mangkir kerja dan mengumpat boss juga perusahaan.
Aneh ya...
Saat lajang sering menangis karena terlalu lama sendiri, saat menikah sering berkeluh kesah karena sikap suami dan anak-anak.
Aneh ya...
Orang tua masih ada, namun sikap kita tidak mencerminkan rasa syukur akan itu. Membentak, memicingkan mata, meninggikan suara dan tak mengindahkan permintaan mereka.
Aneh ya...
Diberi kesempurnaan anggota tubuh, tapi tetap saja mengeluh diri ini tidak sempurna, tidak cantik. 
Aneh ya...
Kita seringkali kumat kufur. 
Bagaimana jika semua nikmat itu diambil? 
***
Adalah Ibu yang seringkali memergoki diriku mengumpat kehidupan. Aku sering mengeluh tentang pekerjaan, beban tanggungan, pendidikan dan penampilan yang aku punya.

Sabar dan syukur, Teh...

Sesungguhnya, apalah yang harus dikeluhkan? Menuliskan berbagai nikmat Allah yang diberi pada kita nyatanya lebih banyak dibandingkan hal-hal yang tidak kita punya. Namun, manusia itu tempatnya lupa. Diri ini sering lupa dengan nikmat yang Allah beri. Maka sudah tugas kita sebenarnya untuk mengingatnya, salah satu cara dengan menulis. Meski yakin, apa yang ditulis hanya sebutir pasir di pantai yang luas.

Siang itu, seseorang mengirimkan link via BBM. Dengan lekas, kubuka dan kulihat pesan itu. Tentang Jaya YEA? Oh ya aku ingat, beliau adalah pendiri Young Enterpreneur Academy dan telah meluluskan banyak pengusaha sukses di Indonesia.

Tulisan itu dibuat pada tahun 2010, lima tahun lalu. Cerita bermula saat Jaya YEA diundang oleh Bob Sadino ke rumahnya. Bob Sadino, seorang pengusaha sukses yang memiliki penampilan nyentrik. Kemanapun beliau pergi, busana yang digunakan hanya kemeja dan celana pendek


Bob Sadino. Sumber: http://spiritriau.com
Beberapa lalu lalu Om Bob Sadino menelepon saya, sekedar memberitakan bahwa beliau telah menerbitkan buku baru, berjudul “Bob Sadino; Orang Bilang Saya Gila”.Ehh, pas kebetulan saya sedang di Jakarta, Om Bob-pun mengatakan,”Jay, mampirdonk kesini, kangen nih aku ngobrol sama kamu!”. Spontan saja saya meluncur kesana. Untuk ketiga kalinya saya berkunjung ke rumah Om Bob, masih saja saya terkagum akan apa yang telah dicapainya. Di atas tanah seluas 2 hektar, berdiri bangunan bergaya klasik nan kokoh, memberikan kedamaian. Di halaman parkir, terdapat beberapa mobil mewah, antara lain 2 buah jaguar bernomor polisi ‘2121’. Jangan ditanya kenapa nomornya ‘2121’ (baca: tuan-tuan), pasti Om Bob akan menjawab,”Masa saya nyonya-nyonya!” Jika Anda menelusuri sepanjang rumah Om Bob, Anda hampir tidak percaya dibuatnya. Di kepadatan bangunan jalan Lebak Bulus P&K, terdapat pemandangan lain yaitu lapangan berkuda yang terletak di bawah beranda rumah Om Bob.
Cerita saya bukan untuk memamerkan kekayaan seseorang diantara kisah penderitaan sekitar kita. Namun saya hanya berusaha ‘menyerap’ energi di balik pencapaian-pencapaian Om Bob,”Apa sih rahasianya?”. Bagi sebagian Anda yang pernah menonton seminar atau talk show Om Bob, mungkin masih banyak yang bingung,”arahnya kemana sih omongan Om Bob itu?”. Sayapun saat pertama kali bertemu selama 3 jam di rumahnya, pulang dengan membawa kebingungan. Baru setelah pertemuan ketiga bersama beliau, saya ‘ngeh’, apa yang selalu ia gemborkan,”Bebaskan dari belenggu rasa takut dan jangan berharap!”. Yang pertama sih, sangat bisa dipahami, tapi yang kedua itu,”Jangan berharap”. Lho, bukannya orang hidup dan bertahan itu karena ‘harapan’? Apa sih maksudnya?
Ternyata Om Bob mengajarkan ke saya konsep ‘Zero yang pernah diajarkan oleh Pak Ary Ginanjar dalam ESQ. Saya tidak memahami benar-benar konsep ‘zero’ pada saat mengikuti ESQ. Namun saya mendapatkan ‘klik’nya dari Om Bob! Gimana sihmaksudnya? Orang yang melangkah dengan harapan, jika tidak tercapai, tentu saja akan kecewa atau menghibur diri dengan harapan-harapan baru, betulkah? Apa yang terjadi jika setiap kali kita membuat harapan dalam langkah kita, ternyata semuanya tidak tercapai? Depresi kan? Coba pikirkan yang satu ini,”Kenapa sih kita masih berharap lebih atas apa yang telah Allah berikan kepada kita?Bukannya ‘harapan-harapan’ itu membuktikan rasa ‘tidak syukur’ kita atas apa yang telah kita dapatkan? Kenapa tidak, apa yang kita lakukan atau akan lakukan adalah sebagai wujud syukur kita kepada Allah? Jika demikian pemikiran kita, maka ‘harapan’ akan hasil itu tidak diperlukan lagi.
Saya bukan ustad lho berbicara seperti ini, namun Pak Ary Ginanjar pernah menanyakan kepada saya,”Pak Jaya, apa yang Bapak dapatkan dari training ESQ?”. Saya menjawab sambil meneteskan air mata,”Selama ini saya hanya banyak ‘meminta’, namun saya jarang (bahkan hampir tidak pernah) bersyukur. Setelah mengikuti training ESQ, saya ‘takut’ untuk meminta. Saat saya berdoa, saya hanya berterimakasih atas apa yang Allah limpahkan kepada saya. Saat detik-detik anak saya lahir, saya penuh ketakutan, jangan-jangan ada yang kurang. Saya hitung jari-jemarinya, komplit 10. Saya adzankan di kedua telinganya, dia merespon tanda mendengar. Apa yang saya ucapkan? Alhamdulillaah! Terus apa lagi yang mau saya minta dari Allah? Pantaskah?” Terus apa sih intisari ‘zero’ itu? Ikhlas kali ya? Tawakal atau pasrah? Bisa jadi, tapi saya juga bingung bagaimana mengungkapkannya. Silakan Anda sendiri yang memaknainya. Yang saya dapatkan (akibat) dari ‘zero’ adalah, saya tidak memilki rasa takut akan masa depan saya, titik! (Sumber: https://jayayea.wordpress.com/2010/09/18/zero/)
Deg!

Aku tertohok!

Dear Zahra, berapa banyak waktu yang kau habiskan untuk mengumpat kehidupan? Mengharapkan dan membayangkan kehidupan yang tak dimiliki, bukannya memotivasi diri, namun malah membuat diri semakin terpuruk dalam kesedihan dan melupakan nikmat Tuhan.

Bebaskan... Bebaskan dari belenggu akan rasa takut dan jangan berharap! 
Lakukan... Lakukan saja apa yang mesti di lakukan!
Niatkan... Niatkan itu sebagai wujud syukur kita kepada Allah!
Bersyukurlah... Bersyukurlah... Bersyukurlah! 

Dear Ibu, terimakasih selalu mengingatkan teteh untuk bersyukur dan ikhlas. Melalui kesabaran ibu selama ini, Teteh belajar. Bahwa sabar dan syukur itu adalah sebuah kerja panjang yang selalu dilakukan selama iman ada di hati.


Berharaplah hanya pada Allah. 
Bukan pada manusia, benda juga impian.


~ Ijaah ~



Nyanyian Boneka Untuk Ponakan Centil

No comments:
Hujan rintik-rintik...
Air bergelombang...
Saya minta uang...
Untuk beli balon...
Tiga tambah tiga...
Sama dengan enam...
Enam dikali enam, sama dengan tiga enam...
Enam... Enam...
Diberi sudut 

Horeeee.... Lagi ateuuuu....
Okeeee... Okeee...
Hujan rintik-rintik...
Air bergelombang...
Saya minta uang...
Untuk beli balon...
Tiga tambah tiga...
Sama dengan enam...
Enam dikali enam, sama dengan tiga enam...
Enam... Enam...
Diberi sudut

Lagi ateuuu... yang besar-besaaar...
Hah? Lagi??? Udah gak ada tempat, Cantika...
Dihapus dulu ateu...!
Eaargh... Okeh sayanggg...!
Hujan rintik-rintik...
Air bergelombang...
Saya minta uang...
Untuk beli balon...
Tiga tambah tiga...
Sama dengan enam...
Enam dikali enam, sama dengan tiga enam...
Enam... Enam...
Diberi sudut

Lagi ateuuu... yang lebih besar lagi... disini... disini... disini... disiniiiii.....!!!
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA... TETEH AKU NYERAAAAAHHHHH....!


***
Begitulah.

Entah berapa puluh kali aku menyanyikan lagu itu demi memuaskan hati ponakan centil-ku, Cantika Mughni Iskandar. Rasanya mulut ini sampai berbusa dibuatnya. Entah berapa kali juga aku menghapus white board untuk kemudian menggambar kembali 'nyanyian boneka' yang tiap kali aku selesai menggambar, anak kecil ini cekikikan.

Kikikik... Ini kaya ateu...
Hah? Ateu mah cantik ini mah enggak...

Cantika nyengir, aku ngakak. Menjadi hal yang wajib berlagak narsis di depan ponakan. Kenapa? Agar nanti Cantika bisa cerita sama teman-temannya kalau ateu-nya ternyata cantik banget. Kalau Cantika bilang ateu-nya cantik, secara gak langsung dia sudah memprogram pikiran teman-temannya untuk bilang...

Pantesan kamu cantik, Cantika... Ateu-nya aja cantik...

Ya gitu deh.

Oke, kembali ke 'nyanyian boneka' tadi. Aku gak pernah sangka bahwa aku akan menyanyikan lagu itu sampai puluhan kali. Sungguh tidak! Pesona anak ini sungguh tak bisa membuatku berhenti menyanyi, atau juga karena takut Cantika menangis bila aku berhenti menyanyi.

'Nyanyian boneka' sangatlah terkenal di masa kecilku dan memiliki banyak versi gambar serta lagu. Lagunya yang sederhana dan gambar boneka yang lucu, membuatku dapat menghafalnya dengan baik bahkan hingga usiaku menginjak angka dua puluh tiga.

Cantika dan 'nyanyian boneka'

Cantika adalah anak kedua dari kakak sepupuku. Usianya baru 2 tahun tapi kelincahan dan kecerdasannya patut diacungi jempol. Belum genap usia setahun, Cantika sudah pandai berinteraksi. Pernah suatu ketika saat aku kehilangan kunci motor, adalah Cantika yang menemukannya.

Disini... Disini...

Cantika bisa menunjukkan letak kunci yang ada di saku tas-ku dengan tepat. Padahal, tasku memiliki banyak saku. Saat itu usianya baru setahun namun daya cermat dan pemahamannya sudah baik.

Selain pintar, Cantika itu sungguh jahil. Pernah suatu ketika Cantika menekan kepala adiknya yang baru lahir dengan cukup keras. Maka tak ayal, kakak sepupuku marah. Di depan ibunya, Cantika terlihat menangis, namun saat keluar kamar dan menghampiriku yang duduk di ruang TV, Cantika cekikikan dengan liciknya...

Kalau kata orang sunda: gumeulis :D

Cerita lucu Cantika diceritakan juga oleh ibuku. Saat itu tetiba Cantika bernyanyi seperti ini...

Cintaku kepek-kepek sama dia...!
Hah?! Lagu apa itu? Anak kecil lagunya bukan itu...

Cantika nyengir dan pergi meninggalkan ibuku. Namun sesaat kemudian...

Cintaku kepek-kepek sama mimih...!

Lihat? Cantika mengganti kata 'dia' dengan 'mimih', panggilannya untuk sang ibu. Sungguh cerita ini membuatku ngakak se-ngakak-ngakaknya.

Sedari kecil, kakak sepupuku sudah membiasakan Cantika dengan boneka dan segala benda berwarna pink. Selain itu, Cantika didandani dengan rok, kerudung bayi dan turban bayi yang semakin membuatnya menjadi lebih girly. Namun rupanya Cantika tak hanya bermain boneka, ia juga menyukai mainan laki-laki yang dipunya oleh kakaknya.

Halo... Kerudungku ada kepangnya... :)

Menurut ibu dan ayah, Cantika memiliki kemiripan sifat seperti aku. Dan aku mengakui itu benar adanya. Aku sungguh tak sabar menanti Cantika tumbuh besar sehingga aku bisa mengajaknya bermain, membaca dan jalan-jalan. Ingin melihat apakah saat besar nanti ia secantik ateu-nya atau tidak.

Hehe. Teteup :p


~ Ijaah ~

Surat Cinta Untuk Suami Masa Depanku

34 comments:


Salam.

Semangat pagi, Suami Masa Depanku.

Aku tahu, surat ini sampai padamu saat gelap menyelimuti bumi. Tapi izinkanlah aku untuk mengucap semangat pagi padamu tak peduli pagi, siang maupun malam. Aku ingin jiwa kita selalu semangat seperti semangat di pagi hari.

Wahai suami masa depanku, aku sungguh buta siapa dirimu, dimana kau tinggal dan apa yang sedang kau kerjakan kini. Aku bahkan tak tahu apakah kita sudah bertemu atau belum. 

Meski aku tak tahu apapun tentang dirimu, namun kau harus tahu bahwa aku mencintaimu. Ya, i've loved you for a thousand years. Aku telah mencintaimu meski Tuhan belum mempertemukan kita dalam mahligai pernikahan.

Wahai suami masa depanku, aku sering menyebut nama-mu dalam doa. Kugelar sajadah sebagai alas terindah untuk menyatakan rinduku padamu kepada Tuhan kita. Suamiku, aku begitu menanti hadirnya dirimu. Meski begitu, aku tak meminta Tuhan mempercepat pertemuan kita. Aku meminta pada Tuhan untuk memperkaya diriku dengan ilmu sehingga saat kita bertemu nanti, aku telah siap dalam kondisi yang sebaik-baiknya. Aku meminta pada Tuhan untuk memberikan waktu yang terbaik pada kita. Karena aku percaya, skenario-Nya adalah yang terbaik.

Wahai suami masa depanku, kau sedang apa? Aku berharap kau selalu berada dalam jalan Tuhan dan tetap semangat dalam menggapai mimpimu. Aku menilaimu dari agamamu, kesungguhanmu, semangatmu, kecerdasanmu, kemandirianmu dan cintamu padaku. Tak mengapa di awal kau bawa aku dalam kehidupan materi yang serba tak ada. Namun aku harap, tekad dan semangatmu untuk memperbaiki kualitas hidup tetap ada pada dirimu. 

Wahai suami masa depanku, barangkali aku akan kepayahan menghadapi kesungguhanmu dalam meraih mimpi kita. Maka bimbinglah aku, berilah aku ilmu dan ajaklah aku dalam setiap titian langkahmu.

Wahai suami masa depanku, kau selalu menjadi orang pertama yang mengetahui seluk beluk tentang diriku. Kulihat kau begitu mendukung mimpiku. Kau tak merasa berat saat melihatku tenggelam dalam buku-buku dan tulisan. Kau tak mengekangku seperti yang kusir lakukan pada kuda. Kau mengikatku dengan kebebasan bertanggung jawab, yang membuat rasa cintaku padamu bertambah. Dan ini semakin membuatku ingin memberikan yang terbaik padamu.

Wahai suami masa depanku, pikiranku sering berkelana, bahwa kelak kita akan berhaji bersama serta menyusuri negara-negara di dunia bersama. Kau membiarkan punggungmu memikul tasku yang beratnya bukan kepalang. Kubalas pengorbananmu itu dengan pijatan yang melegakan. Di tangan kananmu, kau genggam tangan kiriku. Sedang tangan kirimu menggenggam kamera yang menjadi saksi kebersamaan kita.

Wahai suami masa depanku, barangkali di awal pernikahan nanti kau akan segera tahu betapa buruknya aku. Barangkali masakanku nanti tak senikmat masakan ibumu, namun aku berusaha untuk memperbaikinya. Sungguh, maafkanlah segala kekuranganku. Aku akan selalu berusaha untuk memperbaiki sikap dan keterampilanku. 

Wahai suami masa depanku, bersamamu aku ingin meniti langkah menuju surga. Tuntunlah aku selalu dalam kebaikan dan berilah aku nasihat bila aku keliru dalam mengambil langkah.

Wahai suami masa depanku, izinkanlah aku untuk mendendangkan sebuah lagu tentang dirimu, Pangeran Surgaku... 

"Di dalam hatiku tertulis harapan terindah
Yang selalu kupinta lirih dalam doaku
Kau mungkin rahasia, kunanti dalam ketaatan
Kupantaskan diriku dihadapNya"

"Berharap penuh keikhlasan
Kau menjadi Pangeran Surgaku
Kita merajut mimpi dalam pernikahan suci
Kabulkanlah..."

"Kuyakin namamu ada dalam masa depanku
Menguji kesabaranku melangkah, menunggu
Kau mungkin rahasia, kunanti dalam ketaatan
Kupantaskan diriku dihadapNya"

Wahai suami masa depanku, selamat berjuang. Selamat memperbaiki diri. Jemputlah aku bila kau telah siap. Aku menantimu dengan sabar, dalam balutan ketaatan padaNya.

Dari aku yang mencintaimu,
Istri Masa Depanmu. 


~ Ijaah ~

Bismillah... Aku Berhijab

2 comments:
Seorang gadis membeli sebuah iPhone 6. Smartphone tersebut telah dilengkapi dengan pelindung layar dan 'flip cover' yang tak kalah cantiknya. Dia menunjukkan smartphone barunya tersebut ke ayahnya. Lalu, percakapan yang cukup menggugah pun dimulai:
Ayah : Wah, telepon genggam yang bagus. Berapa harga yang harus engkau bayar untuk itu?
Anak Perempuan : Saya membayar 700 dolar untuk telepon genggam ini, 20 dolar untuk penutup teleponnya, serta 5 dolar untuk pelindung layarnya.
Ayah : Oh, mengapa kamu menambahkan pelindung layar dan penutup teleponnya? Bukankah kamu dapat menghemat 25 dolar untuk itu? 
Anak Perempuan : Ayah, saya telah menghabiskan 700 dolar untuk mendapatkan telepon genggam ini. Jadi apa alasan saya tidak mengeluarkan 25 dolar untuk keamanannya? Dan lihatlah, penutup ini juga membuat telepon genggamku tampak lebih indah bukan?
Ayah : Bukankah itu sebuah penghinaan bagi perusahaan Apple, Inc. bahwa mereka tidak dapat membuat produk iPhone yang cukup aman?
Anak Perempuan : Tidak, Ayah! Mereka bahkan menyarankan kepada penggunanya untuk menggunakan pelindung layar dan penutup telepon ini untuk keamanannya. Dan saya tidak mau terjadi sesuatu yang dapat membahayakan iPhone baru saya.
Ayah : Apakah itu tidak akan mengurangi keindahan telepon itu? 
Anak Perempuan : Tidak, itu justru membuat telepon genggam saya terlihat lebih indah.
Lalu, sang Ayah menatap putrinya dan tersenyum dengan rasa kasih sayang. Sang Ayah pun berkata,
Putriku, kau tahu Ayah sangat menyayangimu. Kau membayar 700 dolar untuk membeli iPhone ini, serta 25 dolar untuk melindunginya. Aku telah membayarkan seluruh hidupku untukmu, lalu mengapa engkau tak menutup auratmu dengan hijab untuk keselamatanmu sendiri? Telepon ini, kelak tidak akan dipertanyakan di akhirat nanti. Namun kelak aku akan ditanyai oleh Allah tentangmu, putriku...
*** 

Adalah seorang kawan yang memperlihatkan broadcast message itu padaku. Seraya tersenyum, dia berkata bahwa pesan ini telah menyentuh hatinya. Aku membalas perkataannya dengan senyuman. Ada binar di matanya yang kuterjemahkan sebagai ketenangan dan keyakinan yang kuat.

Di pengajian dr. Heri kemarin, ustadz mengatakan jika kita seringkali di dzalimi orang lain, berarti ada yang salah dengan diri kita.

Aku mengiyakan ucapannya dan kulihat binar itu masih ada dimatanya.

Aku mau mulai pake jilbab Sabtu ini, Zah...

Subhanallah! Siang itu, aku tersenyum dengan penuh bahagia. Seorang kawan yang kukenal baik hatinya, telah memutuskan untuk berhijab. Kesadaran itu hadir di hatinya atas karunia Allah dan tanpa paksaan. Kesadaran yang hadir atas upayanya untuk menjemput keyakinan akan berhijab.

Doakan aku, Zah. Semoga aku istiqomah dan menjadi insan yang lebih baik.

***

Dialah Ekasari. Aku biasa memanggilnya Teh Eka karena usiaku satu tahun lebih muda darinya. Aku mengenalnya sejak tahun 2012 saat aku kembali dan bekerja di Bandung. Pertemanan kami semakin dekat saat dia memutuskan untuk bekerja satu perusahaan denganku pada tahun 2014.

Dua kata yang menggambarkan dirinya adalah cantik dan ramah. Teh Eka selalu bersikap baik bahkan pada orang yang telah menyakitinya. Ia juga memiliki cara pandang yang positif, tidak menyukai hal yang berlebihan dan selalu tersenyum. Maka tak heran bila banyak orang yang menyukainya. Ya, aku banyak belajar dari Teh Eka atas keramahannya yang patut aku contoh.

Beberapa minggu sebelum berhijab, Teh Eka sering bercerita tentang jilbab yang baru saja dibeli olehnya. Teh Eka juga banyak bertanya pada kawan-kawan tentang cara mengenakan jilbab dengan beragam model.

Aku sering melihat Teh Eka mengenakan jilbab saat pengajian mingguan pada Rabu malam. Namun ia seringkali mengeluh akan pipinya yang menjadi lebih tembem (chubby) saat mengenakan jilbab. Apalagi saat ada kawan lain yang menertawakan pipi tembemnya, Teh Eka manyun jadinya.

Meski merasa lebih chubby, hal itu tak menyurutkan Teh Eka untuk terus belajar berhijab. Beragam model jilbab dicoba olehnya dan kesemuanya nampak cocok di mukanya. Memang, kalau orang cantik mah cocok-cocok aja ya :)

Belajar berhijab :)

Hari pertama Teh Eka mengenakan hijab adalah pada hari Sabtu, 14 Februari 2015. Esoknya, saat menghadiri undangan pernikahan puteri dr. Heri Fadjari, Teh Eka mengenakan hijab dengan setelan rok batik biru, kaos hitam dan jilbab toska. Penampilan barunya ini sontak mengejutkan rekan-rekan yang hadir di undangan itu.

Hari ke-dua . cantik ya :)

Pada saat masuk kantor di hari Senin, seluruh karyawan tampak terkejut dan memberikan selamat pada Teh Eka. Semuanya mengatakan bahwa ia nampak lebih cantik dan anggun dengan mengenakan hijab.

Banyak orang yang menyambut gembira akan penampilan baru Teh Eka. Beberapa kawan bahkan menghadiahi-nya jilbab beragam corak dan model. Hal ini tentu membuat Teh Eka semakin bahagia akan hijabnya.

Namun hal yang lebih membahagiakan dari itu semua adalah saat mengamati lelaki yang bersikap lebih hormat dan sopan pada Teh Eka.

Dengan memakai hijab, sesungguhnya kita telah melakukan seleksi pada lelaki yang hendak meminang kita.

Ya, nasihat itu memang benar adanya. :)


Ini Aku Yang Baru!

Nikmatilah kejutanku... Ini aku yang Baru!

Lagu 'Baru' yang dibawakan oleh Tulus seakan menari-nari di otakku, memaksaku untuk menyanyikannya. Namun sayang aku harus menahannya karena saat itu kami sedang berada di ruang dokter.

Kamu lebih cantik dulu, Ka. Gak pake jilbab. Model rambut kamu cocok banget sama muka kamu.

Begitulah tanggapan salah satu dokter saat melihat penampilan baru Teh Eka. Namun dengan penuh kemantapan, ia menanggapinya dengan,

Ini aku yang baru, Dok.

Betapa bahagianya aku saat mendengar ucapannya tersebut. Ia tetap yakin dengan pilihannya meski ada pihak yang tak menyukai penampilan barunya. Hey, bukankah kita dididik untuk taat dan meraih ridho-Nya, bukan untuk sekedar mencari-cari perhatian manusia?

Iya kan?

Ini aku yang baru! :)

Melalui kisah ini aku belajar, bahwa keyakinan bisa jadi tidak diturunkan begitu saja. Banyak orang yang menyatakan ingin berhijab, namun keinginan itu belum terlaksana sepenuhnya. Mereka bilang ingin memperbaiki hati dulu, menikah dulu, baru berjilbab. Barangkali, keyakinan untuk berhijab harus dijemput dengan cara belajar agama dengan baik, berteman dalam kebaikan dan meningkatakan kualitas ibadah pada Tuhan. InsyaAllah.


Hari ke-5 pake jilbab :) *ingetbanget*

Tulisan ini adalah wujud dari rasa syukur dan bahagia. Tulisan ini aku persembahkan untuk aku yang mudah goyah, untuk Teh Eka yang sedang mengecap manis berhijab, juga untuk semua muslimah yang sedang membaca tulisan ini.

Dan untuk meneguhkan hati kita, wahai teman-teman sesama muslimah. Mari kita baca kembali kalimat indah ini:

Berjilbab tidak berarti kamu sempurna, tetapi semoga menjadi awal untuk membuktikan kesungguhanmu menyempurnakan diri di hadapanNya. -Asma Nadia-

Ya!

Kawan, semoga istiqomah dan selamat mengecap manisnya berhijab ya! :)

~ Ijaah ~