Cerita Tentang Dinda

by - Monday, March 30, 2015


Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dinda, apa kabar? 
Sudah lama ya kita tak berjumpa.
Kapan terakhir kita berjumpa, Dinda?
Ah ya, aku ingat!  
Sudah empat tahun kita tidak berjumpa.
Oh betapa itu waktu yang lama sekali! 
Seperti apakah rupa dirimu sekarang ?
Aku rindu. Sangat rindu... 

*** 

Aku seperti Raju Rastogi. Juga seperti Farhan Qureshi. Selama 5 tahun, keduanya mencari 'Rancho' Shamaldas Chancad, seorang sahabat yang berperan besar dalam membentuk kesuksesan keduanya.

Raju dan Farhan menempuh perjalanan jauh saat mengetahui keberadaan Rancho. Keduanya menempuh jalur beratur-ratus kilometer menuju Shimla yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan yang lebih jauh lagi menuju Ladakh.

Betapa pentingnya sosok Rancho bagi Raju dan Farhan, sehingga keduanya mau berlelah-lelah mencari Rancho. Apa saja nasihat Rancho bagi keduanya?

Aal izz well... Aal izz well... Aal izz well... (All is well)
Ikuti keunggulanmu, maka kesuksesan menghampirimu... 

Raju yang takut akan masa depannya, belajar untuk bersikap positif dan melatih hatinya untuk selalu berkata 'Aal izz well' bahkan disituasi mengerikan sekalipun. Farhan yang dipaksa untuk menjadi insinyur oleh kedua orang tuanya, belajar untuk membuktikan pada kedua orang tuanya bahwa ia memiliki bakat menjadi seorang fotografer, bukan sebagai insinyur.

Seperti itulah peran Rancho bagi Raju dan Farhan.

Rancho adalah inpirasi ...
Rancho adalah pemberi semangat ...
Rancho adalah gudang ilmu ...
Rancho adalah kutub positif ...
Rancho adalah pemberani ... 
Rancho adalah Dinda ...

Dinda adalah temanku. Ia yang usianya setahun lebih muda dariku, memiliki kedewasaan yang lebih dibanding aku. Dinda memiliki akhlak yang baik dan selalu ramah pada sesama. Dinda gemar sekali tersenyum. Dinda pandai berdagang dan menginspirasi sesama. Dinda gemar sekali shalat malam dan shaum. Dinda selalu berpakaian syar'i dengan jilbab yang menjuntai menutupi dada.

Teteh, pake rok yuk saat kerja!

Permintaan Dinda itu menohok hatiku. Saat kerja, aku memakai celana untuk memudahkan aktivitasku. Terkadang aku rindu untuk memakai rok namun aku takut akan omongan orang-orang disekitarku. Karena di lingkungan tempat kerjaku saat itu tidak ada yang memakai rok panjang.

Namun Dinda berbeda, Dinda tetap menggunakan rok dan jilbab panjangnya saat kerja. Aku malu pada diri sendiri yang belum bisa melakukan apa yang sebenarnya kuinginkan.

Teteh, jika kelak suami teteh perokok, bagaimana sikap Teteh?
Aku gak mau punya suami perokok
Bagaimana jika takdirnya demikian?
Gak mau. Aku gak mau punya suami perokok. Kelak, jika diharuskan memberi syarat pada calon suami, aku akan katakan bahwa aku tidak mau menikah dengan perokok.
Oh gitu. Mmm... Andai saja suami Teteh kelak adalah perokok, mengapa Teteh tidak berpendapat bahwa siapa tahu Teteh adalah jalan baginya untuk berhenti merokok?

Dinda...

Dinda adalah obat. Dinda adalah pendengar yang baik. Dinda adalah pemberi nasihat yang bijak. Dinda adalah penerang hatiku. Saat aku terpuruk dan jatuh dalam kehidupan yang tidak aku inginkan, Dinda meneguhkanku bahwa aku bisa melewati ini semua. Bahwa aku harus terus menghidupkan mimpi-mimpiku. Bahwa haruslah selalu ada iman dalam hati. Bahwa hidup ini indah, sangatlah patut disyukuri.

Allah, terimakasih atas kehadiran Dinda dalam hidupku. Selamanya, semoga Engkau selalu menyatukan kami dalam persahabatan yang indah. Lindungi dan sayangi Dinda selalu. Bahagiakan dia karena dia berhak mendapatkannya.


~ Ijaah ~

You May Also Like

0 comments

Terimakasih sudah berkunjung di Ijaah. Silakan tinggalkan komentar di bawah ini :)