Kumat Kufur | Sebuah Perenungan dari Bob Sadino dan Jaya YEA

by - Thursday, March 19, 2015

Aneh ya...
Allah sudah kasih banyak nikmat, tapi keluhan seringkali terucap dari diri. 
Aneh ya...
Setiap hari makan dan tidur enak, tapi hati sedih karena diri sendiri tidak sesukses orang lain.
Aneh ya...
Sudah dapat pekerjaan dan usaha mapan, tapi seringkali mangkir kerja dan mengumpat boss juga perusahaan.
Aneh ya...
Saat lajang sering menangis karena terlalu lama sendiri, saat menikah sering berkeluh kesah karena sikap suami dan anak-anak.
Aneh ya...
Orang tua masih ada, namun sikap kita tidak mencerminkan rasa syukur akan itu. Membentak, memicingkan mata, meninggikan suara dan tak mengindahkan permintaan mereka.
Aneh ya...
Diberi kesempurnaan anggota tubuh, tapi tetap saja mengeluh diri ini tidak sempurna, tidak cantik. 
Aneh ya...
Kita seringkali kumat kufur. 
Bagaimana jika semua nikmat itu diambil? 
***
Adalah Ibu yang seringkali memergoki diriku mengumpat kehidupan. Aku sering mengeluh tentang pekerjaan, beban tanggungan, pendidikan dan penampilan yang aku punya.

Sabar dan syukur, Teh...

Sesungguhnya, apalah yang harus dikeluhkan? Menuliskan berbagai nikmat Allah yang diberi pada kita nyatanya lebih banyak dibandingkan hal-hal yang tidak kita punya. Namun, manusia itu tempatnya lupa. Diri ini sering lupa dengan nikmat yang Allah beri. Maka sudah tugas kita sebenarnya untuk mengingatnya, salah satu cara dengan menulis. Meski yakin, apa yang ditulis hanya sebutir pasir di pantai yang luas.

Siang itu, seseorang mengirimkan link via BBM. Dengan lekas, kubuka dan kulihat pesan itu. Tentang Jaya YEA? Oh ya aku ingat, beliau adalah pendiri Young Enterpreneur Academy dan telah meluluskan banyak pengusaha sukses di Indonesia.

Tulisan itu dibuat pada tahun 2010, lima tahun lalu. Cerita bermula saat Jaya YEA diundang oleh Bob Sadino ke rumahnya. Bob Sadino, seorang pengusaha sukses yang memiliki penampilan nyentrik. Kemanapun beliau pergi, busana yang digunakan hanya kemeja dan celana pendek


Bob Sadino. Sumber: http://spiritriau.com
Beberapa lalu lalu Om Bob Sadino menelepon saya, sekedar memberitakan bahwa beliau telah menerbitkan buku baru, berjudul “Bob Sadino; Orang Bilang Saya Gila”.Ehh, pas kebetulan saya sedang di Jakarta, Om Bob-pun mengatakan,”Jay, mampirdonk kesini, kangen nih aku ngobrol sama kamu!”. Spontan saja saya meluncur kesana. Untuk ketiga kalinya saya berkunjung ke rumah Om Bob, masih saja saya terkagum akan apa yang telah dicapainya. Di atas tanah seluas 2 hektar, berdiri bangunan bergaya klasik nan kokoh, memberikan kedamaian. Di halaman parkir, terdapat beberapa mobil mewah, antara lain 2 buah jaguar bernomor polisi ‘2121’. Jangan ditanya kenapa nomornya ‘2121’ (baca: tuan-tuan), pasti Om Bob akan menjawab,”Masa saya nyonya-nyonya!” Jika Anda menelusuri sepanjang rumah Om Bob, Anda hampir tidak percaya dibuatnya. Di kepadatan bangunan jalan Lebak Bulus P&K, terdapat pemandangan lain yaitu lapangan berkuda yang terletak di bawah beranda rumah Om Bob.
Cerita saya bukan untuk memamerkan kekayaan seseorang diantara kisah penderitaan sekitar kita. Namun saya hanya berusaha ‘menyerap’ energi di balik pencapaian-pencapaian Om Bob,”Apa sih rahasianya?”. Bagi sebagian Anda yang pernah menonton seminar atau talk show Om Bob, mungkin masih banyak yang bingung,”arahnya kemana sih omongan Om Bob itu?”. Sayapun saat pertama kali bertemu selama 3 jam di rumahnya, pulang dengan membawa kebingungan. Baru setelah pertemuan ketiga bersama beliau, saya ‘ngeh’, apa yang selalu ia gemborkan,”Bebaskan dari belenggu rasa takut dan jangan berharap!”. Yang pertama sih, sangat bisa dipahami, tapi yang kedua itu,”Jangan berharap”. Lho, bukannya orang hidup dan bertahan itu karena ‘harapan’? Apa sih maksudnya?
Ternyata Om Bob mengajarkan ke saya konsep ‘Zero yang pernah diajarkan oleh Pak Ary Ginanjar dalam ESQ. Saya tidak memahami benar-benar konsep ‘zero’ pada saat mengikuti ESQ. Namun saya mendapatkan ‘klik’nya dari Om Bob! Gimana sihmaksudnya? Orang yang melangkah dengan harapan, jika tidak tercapai, tentu saja akan kecewa atau menghibur diri dengan harapan-harapan baru, betulkah? Apa yang terjadi jika setiap kali kita membuat harapan dalam langkah kita, ternyata semuanya tidak tercapai? Depresi kan? Coba pikirkan yang satu ini,”Kenapa sih kita masih berharap lebih atas apa yang telah Allah berikan kepada kita?Bukannya ‘harapan-harapan’ itu membuktikan rasa ‘tidak syukur’ kita atas apa yang telah kita dapatkan? Kenapa tidak, apa yang kita lakukan atau akan lakukan adalah sebagai wujud syukur kita kepada Allah? Jika demikian pemikiran kita, maka ‘harapan’ akan hasil itu tidak diperlukan lagi.
Saya bukan ustad lho berbicara seperti ini, namun Pak Ary Ginanjar pernah menanyakan kepada saya,”Pak Jaya, apa yang Bapak dapatkan dari training ESQ?”. Saya menjawab sambil meneteskan air mata,”Selama ini saya hanya banyak ‘meminta’, namun saya jarang (bahkan hampir tidak pernah) bersyukur. Setelah mengikuti training ESQ, saya ‘takut’ untuk meminta. Saat saya berdoa, saya hanya berterimakasih atas apa yang Allah limpahkan kepada saya. Saat detik-detik anak saya lahir, saya penuh ketakutan, jangan-jangan ada yang kurang. Saya hitung jari-jemarinya, komplit 10. Saya adzankan di kedua telinganya, dia merespon tanda mendengar. Apa yang saya ucapkan? Alhamdulillaah! Terus apa lagi yang mau saya minta dari Allah? Pantaskah?” Terus apa sih intisari ‘zero’ itu? Ikhlas kali ya? Tawakal atau pasrah? Bisa jadi, tapi saya juga bingung bagaimana mengungkapkannya. Silakan Anda sendiri yang memaknainya. Yang saya dapatkan (akibat) dari ‘zero’ adalah, saya tidak memilki rasa takut akan masa depan saya, titik! (Sumber: https://jayayea.wordpress.com/2010/09/18/zero/)
Deg!

Aku tertohok!

Dear Zahra, berapa banyak waktu yang kau habiskan untuk mengumpat kehidupan? Mengharapkan dan membayangkan kehidupan yang tak dimiliki, bukannya memotivasi diri, namun malah membuat diri semakin terpuruk dalam kesedihan dan melupakan nikmat Tuhan.

Bebaskan... Bebaskan dari belenggu akan rasa takut dan jangan berharap! 
Lakukan... Lakukan saja apa yang mesti di lakukan!
Niatkan... Niatkan itu sebagai wujud syukur kita kepada Allah!
Bersyukurlah... Bersyukurlah... Bersyukurlah! 

Dear Ibu, terimakasih selalu mengingatkan teteh untuk bersyukur dan ikhlas. Melalui kesabaran ibu selama ini, Teteh belajar. Bahwa sabar dan syukur itu adalah sebuah kerja panjang yang selalu dilakukan selama iman ada di hati.


Berharaplah hanya pada Allah. 
Bukan pada manusia, benda juga impian.


~ Ijaah ~



You May Also Like

1 comments

  1. Alhamdulillah, setiap pagi membaca tulisan teteh yang seperti ini, menjalani hidup serasa lebih ringan. Bersyukur bersyukur dan bersyukur, itu kunci nikmat kehidupan... Terima Kasih -You're The Inspiration- by Chicago

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung di Ijaah. Silakan tinggalkan komentar di bawah ini :)