Nyanyian Boneka Untuk Ponakan Centil

by - Wednesday, March 11, 2015

Hujan rintik-rintik...
Air bergelombang...
Saya minta uang...
Untuk beli balon...
Tiga tambah tiga...
Sama dengan enam...
Enam dikali enam, sama dengan tiga enam...
Enam... Enam...
Diberi sudut 

Horeeee.... Lagi ateuuuu....
Okeeee... Okeee...
Hujan rintik-rintik...
Air bergelombang...
Saya minta uang...
Untuk beli balon...
Tiga tambah tiga...
Sama dengan enam...
Enam dikali enam, sama dengan tiga enam...
Enam... Enam...
Diberi sudut

Lagi ateuuu... yang besar-besaaar...
Hah? Lagi??? Udah gak ada tempat, Cantika...
Dihapus dulu ateu...!
Eaargh... Okeh sayanggg...!
Hujan rintik-rintik...
Air bergelombang...
Saya minta uang...
Untuk beli balon...
Tiga tambah tiga...
Sama dengan enam...
Enam dikali enam, sama dengan tiga enam...
Enam... Enam...
Diberi sudut

Lagi ateuuu... yang lebih besar lagi... disini... disini... disini... disiniiiii.....!!!
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA... TETEH AKU NYERAAAAAHHHHH....!


***
Begitulah.

Entah berapa puluh kali aku menyanyikan lagu itu demi memuaskan hati ponakan centil-ku, Cantika Mughni Iskandar. Rasanya mulut ini sampai berbusa dibuatnya. Entah berapa kali juga aku menghapus white board untuk kemudian menggambar kembali 'nyanyian boneka' yang tiap kali aku selesai menggambar, anak kecil ini cekikikan.

Kikikik... Ini kaya ateu...
Hah? Ateu mah cantik ini mah enggak...

Cantika nyengir, aku ngakak. Menjadi hal yang wajib berlagak narsis di depan ponakan. Kenapa? Agar nanti Cantika bisa cerita sama teman-temannya kalau ateu-nya ternyata cantik banget. Kalau Cantika bilang ateu-nya cantik, secara gak langsung dia sudah memprogram pikiran teman-temannya untuk bilang...

Pantesan kamu cantik, Cantika... Ateu-nya aja cantik...

Ya gitu deh.

Oke, kembali ke 'nyanyian boneka' tadi. Aku gak pernah sangka bahwa aku akan menyanyikan lagu itu sampai puluhan kali. Sungguh tidak! Pesona anak ini sungguh tak bisa membuatku berhenti menyanyi, atau juga karena takut Cantika menangis bila aku berhenti menyanyi.

'Nyanyian boneka' sangatlah terkenal di masa kecilku dan memiliki banyak versi gambar serta lagu. Lagunya yang sederhana dan gambar boneka yang lucu, membuatku dapat menghafalnya dengan baik bahkan hingga usiaku menginjak angka dua puluh tiga.

Cantika dan 'nyanyian boneka'

Cantika adalah anak kedua dari kakak sepupuku. Usianya baru 2 tahun tapi kelincahan dan kecerdasannya patut diacungi jempol. Belum genap usia setahun, Cantika sudah pandai berinteraksi. Pernah suatu ketika saat aku kehilangan kunci motor, adalah Cantika yang menemukannya.

Disini... Disini...

Cantika bisa menunjukkan letak kunci yang ada di saku tas-ku dengan tepat. Padahal, tasku memiliki banyak saku. Saat itu usianya baru setahun namun daya cermat dan pemahamannya sudah baik.

Selain pintar, Cantika itu sungguh jahil. Pernah suatu ketika Cantika menekan kepala adiknya yang baru lahir dengan cukup keras. Maka tak ayal, kakak sepupuku marah. Di depan ibunya, Cantika terlihat menangis, namun saat keluar kamar dan menghampiriku yang duduk di ruang TV, Cantika cekikikan dengan liciknya...

Kalau kata orang sunda: gumeulis :D

Cerita lucu Cantika diceritakan juga oleh ibuku. Saat itu tetiba Cantika bernyanyi seperti ini...

Cintaku kepek-kepek sama dia...!
Hah?! Lagu apa itu? Anak kecil lagunya bukan itu...

Cantika nyengir dan pergi meninggalkan ibuku. Namun sesaat kemudian...

Cintaku kepek-kepek sama mimih...!

Lihat? Cantika mengganti kata 'dia' dengan 'mimih', panggilannya untuk sang ibu. Sungguh cerita ini membuatku ngakak se-ngakak-ngakaknya.

Sedari kecil, kakak sepupuku sudah membiasakan Cantika dengan boneka dan segala benda berwarna pink. Selain itu, Cantika didandani dengan rok, kerudung bayi dan turban bayi yang semakin membuatnya menjadi lebih girly. Namun rupanya Cantika tak hanya bermain boneka, ia juga menyukai mainan laki-laki yang dipunya oleh kakaknya.

Halo... Kerudungku ada kepangnya... :)

Menurut ibu dan ayah, Cantika memiliki kemiripan sifat seperti aku. Dan aku mengakui itu benar adanya. Aku sungguh tak sabar menanti Cantika tumbuh besar sehingga aku bisa mengajaknya bermain, membaca dan jalan-jalan. Ingin melihat apakah saat besar nanti ia secantik ateu-nya atau tidak.

Hehe. Teteup :p


~ Ijaah ~

You May Also Like

0 comments

Terimakasih sudah berkunjung di Ijaah. Silakan tinggalkan komentar di bawah ini :)