Bertemu Mang Dadeng, Juragan Mih Kocok Bandung

No comments:
Seumur-umur jadi orang Bandung, rasanya baru sekali aku makan disini. Mih Kocok Mang Dadeng. Padahal, pamor mih kocok ini tersebar ke seluruh penjuru nusantara. Banyak pelancong dari luar Jawa yang datang ke tempat ini untuk menikmati mih kocok legendaris Mang Dadeng.

Tunggu. Kenapa nulisnya 'Mih'?

Hey Bung, ini tanah Sunda! Orang Sunda terbiasa menyelipkan huruf 'h' dalam kata-kata. Seperti teh, mah, silahkan dan lain sebagainya. Jadi jelas ya kenapa namanya Mih, bukannya Mie?


Siang tadi, mendadak temanku mengajak untuk makan siang di Mih Kocok Mang Dadeng. Aku segera mengiyakan karena sudah kangen makan mie kocok. Selain itu, aku punya niat untuk menulis tentang mie kocok legendaris ini. Sambil menyelam minum air, toh?


Ini siang dan seperti sudah ditebak, Mih Kocok Mang Dadeng ini langsung diserbu pengunjung. Dari mulai yang bermotor sepertiku, hingga pengunjung bermobil sport mewah. Tempat ini sungguh ramai, padahal ini hari Jumat. Aku tak bisa membayangkan bagaimana kondisinya di hari Sabtu dan Minggu.

Ada beragam pilihan menu di tempat ini. Ada mie kocok biasa, mie kocok spesial (plus sumsum), sop kaki biasa, sop kaki spesial, mih baso ceker dan mih yamin baso ceker. Aku memilih mih kocok spesial dengan setengah porsi. Itu saja sudah banyak lho, apalagi satu porsi.

mih kocok spesial, sumsum berwarna kuning. ini setengah porsi. Banyak ya?
Setelah puas menyantap mih kocok spesial dengan tingkat kepedasan yang mantap, aku mengintip dapur tempat ini. Sepertinya karyawan Mang Dadeng ini semua sadar kamera. Mulai deh ketiganya berpose. Setelah itu, ketiganya bertanya: nanti tulisannya terbit di koran apa teh? --- Wahaha, Alhamdulillah didoakan. Sementara ini aku nulis tentang Mang Dadeng di blog Ijaah ya. :D


Kepada salah satu karyawan, aku meminta untuk dipertemukan dengan Mang Dadeng. Aku ingin mengetahui sejarah tempat ini dan rahasia dibalik suksesnya mih kocok racikan beliau.

Kabita? = Tergoda?
Hanya perlu menunggu sebentar, akhirnya juragan mih kocok muncul dihadapanku. Melihat sosok Mang Dadeng pertama kali, aku langsung ingat dengan sosok Bob Sadino. Penampilan Mang Dadeng sangat sederhana dan apa adanya. Beliau hanya mengenakan kemeja kotak-kotak, celana pendek, kalung akik (?) sambil menghisap sebatang rokok.

Inilah Mang Dadeng. Pemilik Mih Kocok Mang Dadeng
Mang Dadeng telah menjalankan usaha mih kocok ini dari tahun 1958. Bayangkan itu! Dulu Mang Dadeng memulai usaha mih kocok dari gerobak sederhana. Baru pada tahun 1965, Mang Dadeng mendirikan tempat untuk usaha mih kocoknya. Jika sudah selama itu, kurang lebih 57 tahun usaha ini berdiri, kira-kira usia Mang Dadeng berapa?

Bersama Mang atau Aki Dadeng :)
Usia bapak mah gak jauh lah sama neng. Dua puluh tujuh!

Aku mengernyit. Tidak langsung percaya.

Tujuh puluh dua ya, Mang?

Tawa Mang Dadeng membuncah dan aku bisa melihat deretan giginya yang agak menguning karena rokok. Usia sudah kepala tujuh namun beliau masih nampak gagah dan sehat.

Hidup mah dinikmati aja Neng. Mau ada yang menipu usaha, gagal kerjasama, lepasin aja semua beban. Semua penyakit itu sumbernya dari pikiran.

Sangat setuju.

Saat ini ada dua outlet Mih Kocok Mang Dadeng. Satu di Jl. Banteng (depan Hotel Horison) dan satu lagi di Street Food Trans Studio Mall. Sebenarnya dulu outletnya ada banyak, namun karena satu sebab akhirnya outlet itu berguguran. Aku sempat bertanya tentang outlet Mie Kocok Mang Dadeng di Jl. Riau, ternyata outlet itu bukanlah cabang dari Mih Kocok Mang Dadeng yang asli. Jadi, soal rasa jelas berbeda.

Dalam sehari, outlet Mih Kocok Mang Dadeng bisa melayani ratusan pelanggan dengan omzet 15-20 juta per hari. Bayangkan! Semua itu didapat dengan usaha yang gigih dan konsisten selama berpuluh-puluh tahun. Cita rasa Mih Kocok Mang Dadeng yang khas, mampu mengambil hati banyak konsumen untuk kembali ke tempat ini. Bahkan kabarnya, penyanyi Syahrini selalu mampir ke Mih Kocok Mang Dadeng setiap kali datang ke Bandung.

Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan Mang Dadeng dan berbicara banyak hal. Tidak sulit bertemu karena beliau selalu ada di tempat ini. Jadi kalau ke Bandung, datanglah ke Mih Kocok Mang Dadeng yang begitu tersohor.

Selamat menikmati kuliner khas Bandung! :)


~ Ijaah ~

Yippie, Ramadhan Sebentar Lagi!

No comments:

Sungguh, waktu itu berlalu dengan cepat ya. Rasanya baru kemarin berpuasa di bulan Ramadhan, sekarang sudah mau Ramadhan lagi. Setahun berlalu, adakah akhlaq-ku semakin baik? Adakah ibadahku semakin berkualitas? Adakah pemahaman agamaku meningkat?

Duh!

Demi Masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. QS. Al-'Asr : 103

Dalam waktu kurang dari 1 bulan, InsyaAllah kita akan berjumpa dengan Ramadhan. Sebuah perbincangan hangat dengan teman-temanku nan sholihah mengingatkanku akan sebuah pertanyaan: target Ramadhan tahun ini apa saja?

Alhamdulillah aku sudah mulai merinci target Ramadhan tahun ini. Mau berapa kali khatam? Mau baca buku apa? Mau ikut kajian dimana? Mau i'tikaf dimana? Mau nulis tentang apa? Mau bersedekah dan zakat tahunan dimana? dan sebagainya.

Nah, biasanya di awal Ramadhan kita sangat bersemangat. Masuk ke pertengahan bulan, mulai deh loyo. (Ssst, saya suka gitu! Sedih banget kan?) Untuk menjaga agar ibadah kita konsisten (di bulan Ramadhan dan bulan lain), tentu kita harus latihan dulu.

Mentorku, Teh Sissy, mengingatkan kami tentang sahabat nabi yang mulai membiasakan diri menyambut Ramadhan pada dua bulan sebelumnya, yakni di bulan Rajab dan Sya'ban. Jadi maksudnya seperti ini, jika kita ingin khatam Al-Qur'an 3 kali di bulan Ramadhan, latih diri untuk khatam 1.5 atau 2 juz perhari di bulan Rajab dan Sya'ban.

InsyaAllah dengan pembiasaan di bulan Rajab dan Sya'ban, target di bulan Ramadhan akan tercapai. Bukan karena terpaksa ya, karena sebelumnya kita sudah latihan.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana melatih diri agar target Ramadhan tercapai? Bagaimana melatih diri agar konsisten tilawah perhari? Bagaimana melatih diri agar konsisten tahajud dan dhuha? Bagaimana melatih diri untuk konsisten berbagi setiap hari? Bagaimana melatih diri untuk berakhlaq lebih baik dan mempersiapkan Ramadhan dengan lebih baik?

Jawabannya adalah LAKUKAN! Ya, lakukan. Sayang sekali kan jika niat dan target sudah ada tapi tidak dilakukan?

Selain LAKUKAN, cara terbaik untuk melatih diri untuk konsisten (dalam ibadah) adalah meluruskan NIAT kita. Jika hati masih saja berat untuk tilawah, kita harus bertanya pada hati, adakah yang salah dengan niat kita untuk tilawah?

Jangan-jangan, selama ini tilawah hanya untuk mengejar target harian (dari ODOJ misalnya)?

Jangan-jangan selama ini tilawah hanya untuk mengambil hati orang lain? 

Niat harus karena Allah, jika sudah begitu, semua ibadah yang dilakukan akan terasa ringan. Mengapa? Karena kita BUTUH tilawah. Jika sehari saja tidak tilawah, hati akan terasa kering.

Karena sudah terbiasa tilawah, kita akan merasa BUTUH tilawah. Jika sehari tidak tilawah, hari-hari akan terasa gersang. Ibarat sehari tidak makan, hari-hari akan dihantui kelaparan. 

Luruskan niat saat tilawah hanya untuk Allah, bukan untuk mencapai target. Contohnya adalah dengan membiasakan bertanya pada diri: Hari ini, berapa banyak waktu yang akan aku habiskan untuk dekat dengan Allah via tilawah ya?

InsyaAllah, dengan menggeser sedikit saja niat (dari mengejar target menjadi karena Allah semata), tilawah akan ringan sekali dilakukan. Bahkan nagih. Sungguh!

Selain itu, untuk pembiasaan Dhuha dan Tahajud, coba posisikan Dhuha atau Tahajud dalam aktivitas keseharian kita. Misalnya: Saat saya tiba di kantor, saya harus segera Dhuha. Saya harus membiasakan belajar pada jam sebelum subuh, tetapi sebelum itu, saya harus Tahajud dulu. Dengan menyertakan Dhuha dan Tahajud dalam kegiatan sehari-hari, maka dua ibadah sunnah itu tak akan berat lagi dilakukan. Lagi-lagi kita akan merasa BUTUH.

Jadi, mari kita sama-sama melakukan pembiasaan terhadap ibadah dan kebiasaan baik lainnya. Memang sih, saya akui, bahwa ada masa dimana kita akan merasa malas untuk melakukannya. Tapi itu jangan lama-lama ya, kita harus segera bangkit!

Saya jadi teringat buku Habit karya Felix Siauw bahwa sebenarnya manusia dirancang untuk melatih kebiasaan selama 1 bulan. Nah, Ramadhan itu satu bulan kan? Jadi Ramadhan adalah bulan latihan bagi kita untuk membiasakan diri selalu dekat dengan Allah, sebagai persiapan pada 11 bulan berikutnya.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, kita sama-sama mengingatkan yuk! Bahwa setiap ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan bukanlah untuk mencapai target -meski kita sudah membuatnya-. Ibadah yang kita lakukan adalah semata-mata karena Allah. Adapun target adalah sebagai pengingat diri agar kita tetap semangat.

Yup. Selamat menyambut Ramadhan teman-temanku yang baik :)


~ Ijaah ~

Bedah Buku Garis Batas Karya Agustinus Wibowo

No comments:
Pertama kali mendengar nama Agustinus Wibowo adalah saat membaca itenerary Lombok Trip bersama Muslimah Backpacker pada tahun 2013. Salah satu kegiatan dalam trip itu adalah talkshow kepenulisan bersama Agustinus Wibowo. Tunggu. Agustinus Wibowo? Siapakah dia? Saat itu aku tak tahu menahu soal Agustinus Wibowo. Bukunya pun aku tak tahu!

Namun sayang saat Lombok Trip berlangsung, Agustinus berhalangan hadir karena harus menghadiri agenda kepenulisan di Bali. Agak lupa, apakah itu Ubud Writers & Readers Festival?

Meski tak jadi bertemu, aku mencari informasi tentang Agustinus Wibowo lewat internet. Ternyata beliau adalah seorang jurnalis dan penulis hebat. Aku merasa tersindir karena baru mengetahui nama dan karya beliau pada tahun 2013. Zahra, where have you been?

Buku karya Agustinus Wibowo yang pertama kali kubaca adalah Selimut Debu. Buku ini adalah buku pertamanya, menceritakan tentang perjalanan Mas Agustinus selama 3 tahun di negeri antah berantah: Afghanistan.

Saat ini aku sedang membaca Garis Batas, buku kedua Agustinus Wibowo. Buku ini menceritakan perjalanan beliau di negeri-negeri stan, sebuah negeri impian bagi seorang Afghan. Seperti biasa, aku seakan diajak bersama mengarungi sebuah negeri dengan dunia literasi. Di tangan beliau, cerita rumit sekalipun menjadi sangat asyik. Ah, aku sangat ingin bertemu dan mencerna ilmu darinya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba! Saat sedang asyik-asyiknya membaca Garis Batas, aku menemukan informasi mengenai bedah buku Garis Batas di Masjid Salman ITB. Betapa ini adalah kesempatan yang tak boleh kusia-siakan. Aku harus datang kesana, demi menuntaskan rasa penasaranku sejak tahun 2013.

***

Sore itu, aku sudah duduk manis di teras Masjid Salman ITB. Menunggu. Sudah jam 15.45 namun acara Bedah Buku itu belum mulai juga. Kulihat panitia sedang menyulap halaman Masjid Salman menjadi tempat pelaksanaan bedah buku. 

Tepat pukul 16.00, panitia mempersilakan kami -para peserta- untuk berkumpul di halaman Masjid Salman. Kulihat peserta acara bedah buku ini masih sedikit. Di salah satu sisi halaman, terdapat stand Gramedia yang menjual buku-buku karya Agustinus Wibowo dan terbitan Gramedia lainnya. Meski ini acara bedah buku Garis Batas, namun rupanya buku itu tidak ada. 

Garis Batas yang kupinjam dari Imazahra :P
Gumaman kecewa terlontar dari peserta bedah buku. Menyayangkan kenapa buku itu bisa habis. Untung saja aku bisa membaca buku ini setelah meminjam dari Mba Imazahra. Aku meminjam buku ini sejak dua bulan lalu dan sampai sekarang belum selesai! Selain karena aku sambi dengan membaca buku lain, aku begitu menikmati setiap kata yang Mas Agustinus tulis di buku ini.


Agustinus Wibowo, seorang pemuda Lumajang yang menamatkan pendidikannya di jurusan komputer Universitas Tsinghua Beijing, bercita-cita untuk menjadi seorang jurnalis selepas kuliah. Meski tak memiliki pendidikan jurnalisme, -dan tak berniat untuk mengambil jurusan tersebut- Agustinus yakin bahwa Ia bisa menjadi jurnalis dengan banyak melakukan perjalanan. Maka Ia memutuskan untuk berkeliling dunia dengan bermodalkan uang 2000 dolar, uang yang ditabungnya selama masa kuliah. Perencanaan disusun. Perjalanan dimulai dengan menjelajahi negara-negara dari China hingga Afrika Selatan selama 5 tahun.

Dengan uang yang pas-pasan, Agustinus harus memutar otak agar uangnya tak cepat habis selama perjalanan. Dari Beijing, Agustinus menumpang bis dan truk menuju Tibet. Di Tibet, Ia menyamar menjadi seorang warga China agar bisa mendapatkan akses gratis masuk tibet. Karena menyamar menjadi warga China ilegal, Agustinus harus berkejaran dengan polisi dan tentara. Bayangkan itu!

Dari Tibet, Agustinus melangkah maju menuju Nepal, India, kemudian tinggal di Pakistan selama 6 bulan. Setelah itu, Ia memutuskan tinggal di Afghanistan selama 3 tahun lamanya. Agustinus telah menjelajahi semua sisi Afghanistan. Bahkan Ia pernah tinggal di Kandahar, -daerah paling berbahaya di Afghanistan- dengan menyamar sebagai seorang muslim.

Ada satu daerah, di sebelah timur laut Afghanistan, yang disebut-sebut sebagai surganya Afghan. Itulah koridor Wakhan. Di tempat ini, tak pernah terjadi perang saudara. Tak ada Uni Soviet, pun begitu Taliban. Koridor Wakhan adalah daerah artifisial untuk membatasi kekuasaan dari dua imperialis raksasa, yakni Rusia dan British India.

Di koridor Wakhan ini, Agustinus dibuat takjub oleh sebuah sungai yang membatasi koridor Wakhan dengan negara-negara jajahan Rusia. Itulah sungai Amu Darya, yang membentang sejauh 5000 km. Saat musim panas, sungai ini memiliki lebar 100 meter, sedang saat musim dingin menciut menjadi 20 meter. Sungai ini seperi tembok tembus pandang, membatasi Afghanistan dengan Tajikistan dan negara jajahan rusia lainnya.

Dari tepian sungai Amu, Agustinus dapat melihat kehidupan negeri di seberang sungai yakni Tajikistan, yang kentara sekali perbedaannya dengan Afghanistan. Di negeri impian itu, terdapat listrik, mobil, rumah indah, jalan mulus, tentara dengan senapannya dan janji kehidupan yang lebih baik.

Hanya selebar 20 meter, namun Agustinus harus menempuh perjalanan beribu-ribu kilometer untuk sampai ke Tajikistan. Ia harus kembali ke Kabul untuk mengurus visa -dengan birokrasi penuh korupsi- untuk kemudian diizinkan masuk ke Tajikistan.

Ya, sungai Amu adalah garis batas yang memisahkan manusia dalam negeri-negeri. Agustinus menegaskan bahwa garis batas memisahkan manusia dalam kotak-kotak tersendiri. Memisahkan kehidupan dalam misteri-misteri. Memisahkan takdir dan mimpi.


Membaca buku karya Agustinus dan mendengar pemaparannya membuatku ingin mengetahui lebih jauh tentang proses kreatif dan buku yang telah memengaruhi gaya penulisannya. Agustinus berkata bahwa buku yang sangat berpengaruh bagi perjalanannya adalah Among The Believers karya V.S. Naipaul. Buku ini menceritakan perjalanan Naipaul di Iran, Pakistan, Malaysia dan Indonesia. Menurut Agustinus, seharusnya seperti inilah isi dari sebuah buku perjalanan.

Kejutan lain dari Agustinus Wibowo adalah buku ketiganya, yakni Titik Nol, akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Selain itu, Agustinus memiliki mimpi besar tentang Indonesia. Agustinus ingin menulis tentang Indonesia. Jangan sampai melulu orang asing yang menulis tentang Indonesia.

Indonesia adalah misteri. Indonesia memiliki kemiripan dengan negara-negara berakhiran stan, yakni memiliki bahasa, suku, agama dan ideologi yang sangat beragam. Sebuah perbedaan yang mudah sekali untuk dipecah-belah. Hingga pada tahun 1998 saat Indonesia chaos, banyak yang meramalkan bahwa Indonesia akan bernasib seperti negara-negara pecahan Uni Soviet.

Namun itu tidak terjadi!

Untuk itulah Agustinus ingin melakukan perjalanan panjang keliling Indonesia untuk menemukan jawaban atas misteri besar Indonesia: Apakah hal yang menyebabkan Indonesia tetap bersatu dalam keanekaragaman?

Sebagai penggemar tulisan Agustinus, aku sangat menantikan karyanya.

Sukses terus Mas, Indonesia butuh penulis besar seperti dirimu. :)


~ Ijaah ~






Mangkok Manis : Sensasi Makan Es Krim Dalam Batok Kelapa

4 comments:
Saya adalah seorang penggemar es krim greentea. Dimanapun, bila saya dihadapkan pada pilihan rasa es krim, saya pasti akan memilih rasa greentea. Karena kesukaan itulah yang membawa saya ke tempat ini : Mangkok Manis.

Outlet Mangkok Manis di Cihampelas
Outlet Mangkok Manis yang saya datangi terletak di Jl. Cihampelas 101 Bandung, tepat di depan Hotel Vio. Akses jalan yang searah memudahkan kita untuk menemukan outlet Mangkok Manis ini.


Awalnya saya mengira bahwa saya akan duduk manis di dalam ruangan seraya menyantap es krim. Namun rupanya konsep outlet Mangkok Manis ini di luar ruangan. Mirip dengan kaki lima namun lebih modern.

Orang ini sudah dua kali saya posting di blog! :P

Ada banyak pilihan es krim di tempat ini. Semuanya sukses membuat saya bingung saat memilih es krim. Menu es krim yang ada di Mangkok Manis adalah:
  1. COCONUT DELIGHT / PREMIUM
  2. PUDDING FAVORITE
  3. SWEET POTATO DESERT
  4. GREENTEA CRONUT CREAM
  5. MANGO BLISS
  6. CONE FESTIVAL

Jenis es krim di tempat ini terbagi ke dalam dua kategori. Pertama adalah Regular Ice Cream yang terdiri dari es krim vanila, cokelat dan stroberi. Kedua adalah Premium Ice Cream yakni green tea dan rhum raisin.

Setelah memilih es krim yang diinginkan, langkah selanjutnya adalah memilih jenis pudding. Ada puding vanila, telur, blackforest, rainbow, bahkan ada selasih dan nata de coco.

Selanjutnya adalah memilih 5 topping yang berbeda. Ada pilihan topping buah-buahan seperti stroberi, mangga, peach, longan, leci dan kiwi. Ada juga pilihan topping sereal seperti choco crunch, corn flakes, froot loops dan honey star. Selain itu, ada pula pilihan cokelat seperti choco chips, cispy ball, rainbow chocochips dan Kitkat.

Terakhir ada pilihan biskuit (oreo, stroop wafel) dan mochi.

Manakah yang saya pilih?

Setelah berpikir banyak, saya memutuskan untuk memilih Coconut Premium, yakni Greentea Ice Cream dengan 5 varian topping (kiwi, leci, longan, rainbow chocochips dan grass jelly) yang disajikan dalam batok kelapa kecil. Segar!

Pilihanku!

Salah seorang teman memilih Coconut Delight yaitu es krim vanila dengan 5 topping berbeda yang disajikan dalam batok kelapa.

Coconot Delight dan Coconut Premium

Harga untuk satu mangkok Coconut Delight adalah Rp. 25.000 sedangkan untuk Coconut Premium sebesar Rp. 30.000.

Selesai menyantap es krim, saya membuka dan mengikuti Instagram @mangkokmanis. Duh! Gambar-gambar es krim-nya sangat menggoda, apalagi setelah melihat gambar ini:

Cone Festival!

Cone Festival! Saya harus mencoba ini pada kunjungan selanjutnya di Mangkok Manis :)

Bagi para pelancong yang sedang berkunjung ke Bandung, dan sedang berbelanja di Cihampelas, mampirlah sejenak di Mangkok Manis ini. Highly recommended!


Mangkok Manis
Jl. Cihampelas 101 Bandung
0813 2069 2006

Noah's Barn Coffeenery, Dago

No comments:
Andai kata aku tak menghadiri undangan Blogger Meet Up dari XL, entah kapan aku dapat mengetahui keberadaan Noah's Barn Coffeenery. Kafe ini terletak di Jl. Dayang Sumbi Dago, tepat di depan Beehive. Bayangkan saja, hampir tiap minggu aku melewati jalan ini, namun aku tidak sadar bahwa ada kafe bernama Noah's Barn Coffeenery!

Sungguh terlalu!


Noah's Barn Dago baru beroperasi pada Desember 2014 dan merupakan cabang dari Noah's Barn yang terletak di Jalan Garuda. Aku sendiri belum pernah datang ke Noah's Barn Garuda, namun berdasarkan informasi yang kudapat, Noah's Barn Dago lebih luas dan lebih homy.

Ya, it's homier. Aku merasa dimanjakan saat memasuki kafe ini. Bagaimana tidak? Dekorasi kafe ini dominan kayu dan berwarna cokelat. Belum lagi dengan pencahayaan yang lembut juga sofa yang begitu empuk.


Saat memasuki kafe, benda pertama yang akan kita lihat adalah communal table yang berbentuk unik. Jika pengunjung memutuskan untuk duduk disini, pengunjung akan disajikan deretan kopi yang tersusun rapi di rak dinding. Selain itu, cobalah mendongak ke atas. Pengunjung akan disajikan dengan cahaya lembut dari puluhan bohlam yang tergantung di langit-langit.

Bohlam yang menggantung di atas communal table

Kopi yang disimpan dalam rak dinding
Pada bagian sudut kafe, terdapat dekorasi ruangan bergaya vintage. Hal ini ditandai dengan model kaca dan kursi yang mengingatkan kita pada dekorasi rumah tahun 60-an.


Kafe selalu identik dengan coffee atau kopi. Noah's Barn menawarkan sensasi minum kopi yang berbeda. Selain di communal table dan ruangan bergaya vintage, pengunjung juga bisa duduk di coffee bar. Disini, pengunjung bisa melihat secara langsung bagaimana barista menyajikan kopi dan membuat latte art.

coffee bar
Kafe tanpa musik ibarat sayur tanpa garam. Noah's Barn menyajikan pula live music, namun sepertinya musik akan mengalun di malam hari.

live music 
Di bagian belakang kafe, terdapat outdoor area yang menghadap ke air terjun buatan. Outdoor area lebih luas dibandingkan dengan indoor, sehingga dapat menampung pengunjung lebih banyak. Tempat ini cocok sekali untuk meeting.




Sumber : http://myfunfoodiary.com/
Puas menikmati suasana Noah's Barn, sekarang saatnya untuk makan. Siang itu aku memilih Melted Chilli Cheese Nacos sebagai hidangan pembuka. Mengapa? Karena aku sangat menyukai melted keju. Yummie!


Temanku memilih Deep Fried Calamary sebagai hidangan pembuka. Karena merasa tergoda, akhirnya aku menyicipi Calamary ala Noah's Barn. Rasanya pas, lezat dan crunchy.



Sebagai hidangan utama, aku memilih Grilled Chicken Steak. Ternyata porsinya besar sekali. Meski begitu, habis juga rupanya. Haha! Oya, ini kali pertama aku menjumpai steak yang diberikan saus alpukat. Sebagai penggemar alpukat, aku sangat menikmati hidangan ini. Peucah!


Untuk urusan minum, aku ingin sesuatu yang segar dan lembut. Maka aku memilih Strawberry Juice, cocok sekali diminum saat siang hari.


Noah's Barn Coffeenery ini terkenal akan latte art nya. Sayang, pada kunjungan pertama ini aku belum merasakan sensasi meminum coffee latte di tempat ini. Aku berjanji pada diriku, bahwa bila nanti berkunjung lagi ke Noah's Barn, aku harus mencoba minum kopi di tempat ini.

Harus!


Noah's Barn Coffeenery
Jl. Dayang Sumbi no. 2 Bandung 40132
Twitter : @noahsbarn
Website : www.noahsbarn.com


~ Ijaah ~