Cerita Ramadhan #3 : Restoran Ini Tutup 30 Hari Selama Ramadhan

by - Sunday, June 21, 2015


Selama Ramadhan, banyak diantara kita yang mendadak menjadi penjual. Entah itu menjual makanan untuk berbuka, kue kering, petasan hingga baju untuk lebaran. Saat sore tiba, banyak jalanan yang disulap menjadi pasar kaget, menjajakan beragam panganan manis hingga berat untuk berbuka. Supermarket penuh luar biasa. Jalanan macet.

Ilustrasi kejadian tersebut terjadi di berbagai tempat di Indonesia. Sebagai contoh, Superindo di dekat rumah dipadati pelanggan pada jam-jam mendekati berbuka. Parkiran tampak penuh. Belum lagi dengan antrian di kasir. Penah sekali waktu berbelanja sayuran di sore hari, aku kapok luar biasa.

Ramadhan adalah bulan penuh rezeki dan hal ini diamini oleh banyak orang. Para pengelola restoran tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Ada yang tetap buka saat siang di bulan Ramadhan. Ada juga yang buka di sore hari, saat dimana banyak orang yang berencana untuk berbuka puasa bersama. Dimana-mana, restoran tampak penuh pada waktu-waktu berbuka. 

Namun tidak pada restoran satu ini. Rumah Makan Padang Bu Mus Buah Batu, tutup selama bulan Ramadhan dan seminggu setelah Idul Fitri. Pemilik restoran meyakini bahwa bulan Ramadhan adalah bulan ibadah, maka sudah sewajarnya bulan ini diisi dengan ibadah ibadah dan ibadah. Betul bahwa berdagang adalah ibadah, namun beliau tidak ingin aktivitas melayani pelanggan mengganggu waktu-waktu berharga saat Ramadhan. Beliau tak ingin lelahnya bekerja malah mengganggu fokus ibadah karyawannya. Seperti mengganggu shalat wajib tepat waktu, tilawah dan tarawih.

Maka sebelum Ramadhan tiba, pemilik restoran telah memberikan gaji sebulan penuh (selama 30 hari Ramadhan) plus THR kepada karyawannya. Tujuannya agar karyawan tidak merasakan kesempitan rezeki saat tidak bekerja. 

Nyatanya, meski tutup selama bulan Ramadhan, restoran ini tidak kesepian pelanggan. Banyak pelanggan yang merasa rindu untuk menikmati sajian di restoran ini. Maka selama 11 bulan ke depan, restoran ini selalu dipenuhi pelanggan. Hal ini diamini oleh Ust Darlis Fajar, pengisah cerita RM Padang Bu Mus ini.

Ustadz menuturkan bahwa Ramadhan adalah bulan penuh rahim (sayang). Rahim bersifat khusus. Allah berikan rahim-nya kepada orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya. Sedangkan rahman bersifat umum. Allah berikan rahman-Nya kepada setiap umat manusia.

Ramadhan adalah bentuk rahim Allah kepada orang-orang yang bertakwa. Allah memberikan jamuan khusus penuh maghfirah dan berkah di bulan suci ini. Maka siapapun yang memahami ini, ibadah akan menjadi fokusnya. Meski begitu, masih banyak orang yang sibuk mengejar rahman di bulan Ramadhan ini. Padahal, rahman sudah pasti dijamin oleh Allah. 

Saat mendengar kisah ini aku tertegun. Betapa pemilik restoran Bu Mus ini begitu yakin akan rezeki Allah. Meski begitu, kita tak boleh menyamaratakan kisah ini dengan restoran lain. Toh kita masih butuh restoran sebagai tempat berbuka, kan? Bayangkan bila sedang dalam perjalanan kita tak menemukan satupun restoran yang buka. 

Sebagai penutup. Jika yakin bahwa aktivitas berjualan tidak mengganggu ibadah, usaha tidak perlu ditutup selama Ramadhan. Toh memberi fasilitas tempat dan kenyamanan saat berbuka merupakan sebuah nilai ibadah. Kembali lagi, hasil Ramadhan tergantung dari keyakinan kita terhadap Ramadhan itu sendiri


***

Ini adalah cerita ketiga dari rangkaian Cerita Ramadhan yang ditulis selama bulan Ramadhan

***

~ Ijaah ~

You May Also Like

0 comments

Terimakasih sudah berkunjung di Ijaah. Silakan tinggalkan komentar di bawah ini :)