Sunday, June 21, 2015

Cerita Ramadhan #4 : Mengikhlaskan Keterpaksaan


Mengenai keterpaksaan, semua orang pasti pernah mengalaminya. Ada yang terpaksa melanjutkan pendidikan di jurusan yang tidak disukai, menikah dengan orang yang tak dicintai atau bekerja di tempat yang tak diinginkan. Apapun itu contohnya, keterpaksaan terkadang memberi pahit di muka.

Keterpaksaan dialami pula oleh Ahmad Fuadi, penulis novel best seller Negeri 5 Menara. Semasa hidupnya, ia dipaksa oleh ibunda tercinta untuk melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Gontor. Padahal saat itu, Uda Fuadi -begitu sapaannya- sangat ingin melanjutkan pendidikan ke SMA negeri favorit. Uda Fuadi menerima keputusan ibunya dengan berat. Ia sangat takut tak patuh kepada ibunya. Daripada jadi malin kundang dan dikutuk jadi batu akik? Begitu kelakarnya.

Menerima keterpaksaan adalah sungguh berat di muka. Uda Fuadi merasa bahwa impiannya sudah terpatahkan. Bayangan masa depan telah terpampang dengan jelas bila ia bersekolah di Gontor. Akan menjadi ustadz seperti apakah aku nanti?

Namun ternyata keadaan berubah saat ia berada di Gontor. Semangatnya kembali dengan rumus jitu Man Jadda Wa Jadda - Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Ternyata pilihan ibunya tidak salah. Sebab di Gontor-lah, Uda Fuadi mendapatkan pendidikan dan kesempatan hidup yang besar: menjadi seorang jurnalis, pengelana dan penulis ternama.

Menerima saja tidak cukup. Uda Fuadi menekankan bahwa kita harus mengikhlaskan keterpaksaan. Karena dengan begitu, kita bisa melihat keterpaksaan menjadi lebih mudah dan indah. Ya, keikhlasan selalu membuahkan akhir yang manis.

Semangat inilah yang harus tertanam pada diriku. Tahunan telah kulewati dengan sekedar menerima. Namun ternyata keterpaksaan itu selalu menghantui. Aku harus mengikhlaskan ini dan itulah jalan terbaik agar segalanya menjadi lebih indah. Aku tak munafik bahwa keterpaksaan sering membuatku merasa di bawah dan tidak bersyukur. Namun upaya untuk mengikhlaskan harus tetap ada, sampai kapanpun.

Mengikhlaskan keterpaksaan, karena dengan begitu Uda Fuadi menemukan esensi kesuksesan dalam hidup. Mengikhlaskan keterpaksaan, maka aku takkan malas untuk melanjutkan hidup. Mengikhlaskan keterpaksaan, maka dengan begitu aku menemukan semangat meraih impianku kembali. Mengikhlaskan keterpaksaan, karena seorang pemenanglah yang mampu melalui ujian yang berat dalam hidupnya.

Ya Allah, aku berlindung padamu dari rasa sedih dan gelisah, dan aku berlindung padamu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung padamu dari sikap pengecut dan bakhil, dan aku berlindung padamu dari lilitan hutang dan penindasan manusia.

***

Ini adalah cerita keempat dari rangkaian Cerita Ramadhan yang ditulis selama bulan Ramadhan

***

~ Ijaah ~

No comments :

Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung di Ijaah. Silakan tinggalkan komentar di bawah ini :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...