Cerita Ramadhan #8 : Harta Sedih Jika Tidak Dimanfaatkan

by - Friday, June 26, 2015


Senang sekali saat membaca tulisan Teh Rosi Meilani tentang Charity Shop di Inggris. Toko tersebut menjual barang-barang bekas berkualitas baik yang berasal dari sumbangan warga atau perusahaan. Barang-barang yang dijual di toko ini beragam, dari mulai perlengkapan anak-anak hingga dewasa. Dari mulai perlengkapan sehari-hari seperti baju, tas, sepatu; hingga perlengkapan rumah seperti dekorasi rumah, spring bed, kulkas, TV dan sebagainya.

Keuntungan dari penjualan barang tersebut untuk kegiatan amal. Seperti untuk penderita kanker, jantung, bahkan untuk disumbangkan ke luar negeri. Sungguh hebat ide ini karena keuntungan terjadi di semua pihak.

Sebenarnya budaya saling memberi barang-barang bekas sudah ada di Indonesia sejak lama. Biasanya diberikan sendiri, disalurkan ke masjid atau ke lembaga kemanusiaan seperti misalnya Rumah Zakat. Namun yang membedakan Charity Shop di Inggris dengan budaya memberi di Indonesia terletak pada bentuk pemberiannya. Bila Charity Shop memberi uang pada orang yang membutuhkan (keuntungan dari pembelian barang), budaya memberi barang bekas di Indonesia hanya memberi barang nya saja. Oya, sebenarnya di Bandung ada juga toko yang menjual barang bekas. Namanya Babe. Namun toko ini bersifat komersil, tidak seperti Charity Shop di Inggris.

Lantas, mengapa ada budaya memberi barang-barang bekas?

Seiring berjalannya waktu, tentu kita bertumbuh dan hasrat untuk tampil lebih baik selalu ada. Maka pakaian atau benda yang dulu dipakai menjadi tidak berfungsi lagi bagi kita. Selain itu, penerapan ilmu ekonomi juga harus diterapkan : beli satu, keluar satu. Hal ini untuk mencegah penumpukan barang di rumah dan juga agar bermanfaat bagi sesama.

Pernah suatu ketika, saat berusia 12 tahun, saya memberikan dompet Mickey Mouse kepada wanita hebat yang membantu pekerjaan di rumah. Selang sepuluh tahun kemudian, saat saya berusia 22 tahun, dompet Mickey Mouse yang dulu saya berikan, sedang ditenteng oleh anak wanita hebat itu di hari raya. Rasa haru muncul di hati. Betapa dompet yang dulu saya berikan, sangat berharga di mata anaknya.

Semenjak saat itu, saya tidak lagi meremehkan barang yang sudah tidak saya gunakan. Semua barang yang saya berikan, bisa bernilai di mata orang lain. Maka di momentum Ramadhan ini, mari kita rapikan barang-barang kita, pilih mana yang layak kita berikan pada orang lain. Sesungguhnya cara ini untuk kebaikan bersama, agar harta kita tidak menangis karena tidak dimanfaatkan, agar orang lain memperolah kebahagiaan dari apa yang kita beri.


***

Ini adalah cerita kedelapan dari rangkaian Cerita Ramadhan yang ditulis selama bulan Ramadhan

***

~ Ijaah ~

You May Also Like

0 comments

Terimakasih sudah berkunjung di Ijaah. Silakan tinggalkan komentar di bawah ini :)