Cerita Ramadhan #20 : Belajar Dimanapun

by - Thursday, July 09, 2015



Ayah pernah berkata bahwa jika aku sedang menunggu, menulislah. Meski menulis adalah kegiatan yang sangat kusukai, nyatanya aku tak bisa menulis dalam keadaan ramai. Aku tahu bahwa menulis adalah kegiatan yang menyenangkan dan mampu mengusir rasa bosan. Namun rupanya aku tak bisa menulis dengan baik saat menunggu. Aku butuh suasana hening dan sendiri. Dengan begitu aku bisa menulis dengan penuh keceriaan, penuh cinta dan kepuasan.

Dalam keramaian, aku hanya bisa menulis kata kunci atau ide yang mendadak muncul. Meski begitu aku berterimakasih pada diri. Proses menunggu yang kulakukan ternyata ada hasilnya, yaitu ide-ide tulisan yang akan kukembangkan nanti.

Menunggu telah mengajarkanku untuk memperhatikan dan mendengarkan orang lain. Proses pengamatan berbuah pemahaman baru akan kehidupan. Menunggu bukanlah hal yang membosankan, tapi merupakan sarana belajar.

Belajar adalah proses sepanjang hidup. Menurut A Deda, untuk menjadi murid kehidupan, kita harus berprinsip:
  1. Setiap orang adalah guru
  2. Setiap tempat adalah kelas
  3. Setiap kejadian adalah ilmu
Peganglah 3 prinsip itu, maka jadilah pembelajar sepanjang hidup. Berbahagialah bagi orang yang menyambut gembira apapun kejadian yang menimpa dirinya. Sebab ia sadar bahwa setiap orang, setiap tempat dan setiap kejadian adalah sarana belajar.

Bila ada yang membenci kita, tenanglah. Ini artinya kamu sedang belajar kesabaran dan pengendalian diri. Bila kamu sedang membenci seseorang, evaluasi. Ini artinya kamu sedang belajar memaafkan dan menguatkan diri untuk tidak membenci. Tidak mau kan hidup dengan kebencian pada orang lain?

Ada satu nasihat kehidupan yang memberi pembelajaran untuk berpikir positif. Dalam nasihat itu disebutkan: hendaknya kita berpikir bahwa setiap orang yang kita temui adalah lebih baik dari diri kita. Bisa jadi kedudukan orang lain lebih baik dan lebih tinggi dari kita.

Jika bertemu anak kecil, ucapkanlah : "Anak ini belum bermaksiat pada Allah, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat pada-Nya. Tentu anak ini jauh lebih baik dariku."
Jika bertemu orang tua, ucapkanlah : "Dia telah beribadah pada Allah jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dari aku."
Jika bertemu dengan seorang yang berilmu, ucapkanlah : "Orang ini memperoleh karunia yang tidak aku peroleh, mencapai kedudukan yang tidak akan pernah kucapai, mengetahui apa yang tidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya. Tentu dia lebih baik dariku." 
Jika bertemu dengan seorang yang bodoh, ucapkanlah : "Orang ini bermaksiat pada Allah karena dia bodoh (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat pada-Nya padahal aku mengetahui akibatnya. Tentu dia lebih baik dariku." 
Jika bertemu orang kafir, ucapkanlah : "Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, bisa jadi di akhir usianya dia memeluk agama islam dan beramal sholeh. Dan bisa jadi di akhir usia, diriku kufur dan berbuat buruk"
Nasihat Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani ra

Nasihat tersebut mengajarkan kita untuk berpikir positif dan bermuhasabah. Bahkan pada orang bodoh sekalipun, terdapat nilai pembelajaran. Sungguh, tiada satupun kejadian yang sia-sia. Asal kita yakin bahwa setiap perkara adalah pembelajaran.

Semoga kita senantiasa bergembira atas kehidupan dan menjadi pembelajar yang diridhoi Allah.

Aamiin :)




***

Ini adalah cerita ke-duapuluh dari rangkaian Cerita Ramadhan yang ditulis selama bulan Ramadhan

***

~ Ijaah ~ 














You May Also Like

0 comments

Terimakasih sudah berkunjung di Ijaah. Silakan tinggalkan komentar di bawah ini :)