Pernikahan Impian Ijaah

40 comments:
Setiap perempuan di belahan bumi manapun pasti memiliki pernikahan impian tersendiri. Tak terkecuali diriku. Pasalnya, menikah adalah proses penyatuan dua insan yang penuh kesakralan. Pernikahan juga selalu menjadikan mempelai wanita seperti ratu dalam istana cinta *uhuk*. Oleh karena itu pikiranku sering bertanya, akan seperti apa konsep pernikahanku nanti? Apakah berkonsep fairytale, garden party, atau sit down dinner?

Karena terlahir sebagai orang Sunda, konsep pernikahan yang kuimpikan adalah pernikahan adat Sunda dengan sentuhan Islami. Aku tetap ingin mengikuti rangkaian adat Sunda dari mulai pilihan gaun, riasan, upacara adat dan musik. Namun harus ada unsur Islami di pernikahanku nanti. Konsep pernikahan impian ini terinspirasi dari pernikahan teman-temanku, juga dari video pernikahan yang tersebar di Youtube.

Lalu, seperti apakah konsep pernikahan Sunda - islami yang kumaksud?


1. Gaun Pernikahan Syar'i dan Riasan Natural

Gaun pernikahan impian <3

Momen suci harus dirayakan dengan cara yang baik. Aku tidak mau memakai gaun pernikahan yang ketat sehingga membentuk lekuk tubuh. Aku juga tidak mau memakai kerudung yang kainnya tidak menutupi dada. Untuk itulah aku memilih gaun pernikahan syar'i. 

Cukup dua gaun saja yang kusediakan saat pernikahan nanti. Pertama adalah pada saat akad. Aku memilih gaun tradisional Sunda berwarna putih dengan sentuhan batik di bagian bawah. Pada saat resepsi, aku memilih gaun yang berkonsep lebih modern : gaun brokat berlapis sebagai dalaman dan kain chiffon sebagai luaran. Pilihan warna gaun untuk resepsi bisa disesuaikan nanti dengan calon pasangan, namun warna yang dipilih haruslah warna-warna yang lembut dan kalem.

Jilbab untuk kedua gaunku haruslah menutupi dada. Aku tak ingin model jilbab melilit leher yang kemudian ada tambahan kain di dada. Pilihan jilbab yang kumaksud adalah jilbab lebar dengan model seperti biasa saja, namun tetap diberi hiasan di kepala (juga siger -mahkota adat Sunda-) sehingga kesan ratu akan tetap terlihat.

Perihal riasan, aku tetap ingin dirias dengan kesan natural. Memang sih banyak orang bilang jika pengantin itu harus terkesan glamor dalam riasan. Tapi bukankah natural makeup tetap dapat memberi kesan cantik dan elegan? Coba lihat pernikahan Risty Tagor, Sefira Meyda atau pernikahan-pernikahan orang 'bule'. Riasan mereka natural dan tetap terlihat cantik.


2. Degung Sunda Live


Salah satu hal yang membuatku bosan berada di pernikahan adalah musik yang disajikan (baca : dangdut). Aku seringkali terganggu dengan kehebohan para penyanyi juga lagu-lagu yang mereka nyanyikan. Katanya pernikahan itu momen bahagia, tapi kenapa lagu yang dinyanyikan bernada sedih?

Sebenarnya aku masih mengizinkan ada band dalam pernikahanku, hanya saja aku harus memastikan bahwa lagu yang mereka bawakan itu adalah lagu bahagia dan berunsur musik jazz. Aku juga harus memastikan bahwa penyanyi lagu tersebut berpakaian sopan. 

Untuk mencegah hal-hal tidak kuinginkan jika aku memilih band, akhirnya aku memilih Degung Sunda yang dimainkan secara live (instrumental dan shalawat). Alunan musik yang merdu akan semakin menambah syahdu. Degung Sunda semakin menonjolkan unsur Sunda dalam pernikahanku nanti.


3. Mapag Panganten

 

Mapag (jemput) Panganten (Pengantin) adalah salah satu ritual yang menjadi bagian dari seluruh rangkaian upacara adat perkawinan Sunda. Upacara ini dilakukan pada saat resepsi pernikahan. Ada berbagai atraksi seni dalam Mapag Panganten yakni Tari Merak, seni karawitan dan bodoran (komedi). Hal unik yang ditunggu-tunggu oleh para tamu undangan adalah Ki Lengser. Sosok berwajah tua yang seringkali membuat tamu undangan tertawa ini akan memandu pengantin menuju pelaminan.

Sebagai catatan, aku ingin penari merak di pernikahanku nanti lengannya tertutup. Karena di beberapa pernikahan masih ada yang bagian lengannya terbuka. 

Itulah 3 unsur penting yang ada dalam konsep pernikahan Sunda - islami yang kupilih. Hal-hal seperti dekorasi, apakah gedung/tidak, katering, undangan dan souvenir bisa dibicarakan nanti.

Hal penting lain yang harus kuperhatikan adalah FOTO. Aku ingin memilih vendor foto wedding bandung yang pandai mengambil foto kami berdua secara sembunyi-sembunyi. Sepertinya menarik melihat ekspresi bahagia aku dan pasangan yang tampak natural dan apa adanya, tanpa harus diberi arahan oleh fotografer :)

Selain itu aku ingin difoto dengan gaya konyol atau levitasi bersama pasangan. Seru! Hal-hal seperti ini yang menurutku bisa memecah kecanggungan di antara kami berdua. Hehe...




Yup. Itu dia pernikahan impian ala Ijaah. Oya tambahan. Pernikahanku tidak harus mewah. Yang terpenting adalah bahwa akad dan resepsi pernikahan bisa membuatku semakin paham dengan posisi baru yang kuemban. Aku harus mendengar nasihat pernikahan pada saat akad, aku harus memahami bahagia juga rasa haru kedua orang tuaku, aku harus yakin bahwa perjumpaan yang melahirkan pernikahan ini adalah karena-Nya. Sehingga pernikahan menjadi momen penuh rasa syukur, penuh kebahagiaan.



~ Ijaah ~


Postingan ini diikutsertakan dalam Giveaway Pernikahan dan Souvenir.

Aki Nangka

10 comments:


Beberapa waktu terakhir ini saya mempunyai rutinitas baru, yakni membeli nangka di gerobak Aki. Aki (kakek) adalah penjual buah keliling di kawasan komplek Margahayu Raya. Setiap harinya, Aki keliling komplek untuk menukar barang dagangannya dengan uang. Ada beragam jenis buah yang Aki jual. Seperti mangga, melon, pisang, semangka, jeruk dan nangka.

Setelah keliling komplek, Aki akan menepi di kedai makanan dekat rumah. Jika pulang sore, saya selalu mampir ke gerobak Aki untuk membeli setengah kilo nangka dan mangga. Aki tidak pernah gagal memilih nangka yang enak untuk pelanggannya. Setiap kali ada penjual yang membeli nangka, Aki selalu membersihkan nangka dari serat putihnya. Saya sangat menyukai kegesitan Aki saat menggerakan pisau untuk memotong dan membersihkan buah nangka. Sudah expert, begitu kata orang.
Aki, sudah berapa lama jualan nangka?
Deretan kalimat yang Aki sebutkan membuatku terpana. Seribu sembilan ratus delapan puluh dua adalah tahun di mana Aki memulai usahanya dengan gerobak keliling. Jika dihitung, berarti total sudah 33 tahun Aki berjualan. Rentang waktu yang tak sedikit. Meski begitu, Aki nampak selalu bahagia. Hal ini terlihat dari gerak tubuhnya yang selalu penuh semangat.

Aki berasal dari Tanjung Sari, Sumedang. Sudah tiga puluh tahun lebih Aki tinggal mengontrak di Jalan Rancabolang Bandung bersama keluarganya. Selama itu, apakah Aki merasa bosan, gagal atau menyesal dalam hidup?
Aki, ini udah lebih dari setengah kilo.
Saya mencegah Aki untuk menambahkan nangka di atas timbangan kunonya.
Biarin atuh Neng, Aki tambahin aja. Sok mangga cobain lagi nangkanya.
Saya hanya bisa tersenyum manis menanggapi ucapan Aki. Sudah 2 buah nangka yang saya coba, Aki masih saja menyuruh saya untuk mencoba lagi. Beliau benar-benar baik, tulus dan ikhlas. Menerima hidup dengan penuh kebahagiaan. Hal tersebut terpancar lewat raut mukanya.

Pesan hikmah seperti ini yang tidak saya temukan jika berbelanja di supermarket. Selama ada Aki, saya tidak akan membeli nangka dan mangga di supermarket. Karena selain merasa lebih menyenangkan berbelanja ke Aki, kualitas buah yang disediakan Aki sangatlah baik.

Mendengar kisah hidup Aki, saya seperti ditegur secara langsung oleh Tuhan. Berkali-kali saya merasa kecewa dengan apa yang sedang saya lakukan. Lewat Aki saya belajar bahwa hidup harus menerima dan terus menyambutnya dengan suka cita.


" Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus dimengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus. " - Tere Liye


Terimakasih atas nasihat hidupnya, Aki. Meski saya tahu Aki takkan pernah tahu tentang tulisan ini, saya berharap pada Allah agar Aki selalu bahagia, selalu diridhoi oleh-Nya.

Aamiin.



~ Ijaah ~ 

Carpe Diem

10 comments:

Barangkali di antara teman-teman ada yang bertanya (pede banget :p), kenapa sebulan ini aku menulis tentang perenungan? Jawabannya karena aku butuh pengingat untuk menjalani hidup. Dengan menulis, aku bisa lebih memahami maksud nasihat kehidupan. Harapannya agar aku terus semangat dalam menjalani hidup, sebesar apapun halangan dan rintangan yang menghadang.

Aku berkali-kali menulis tentang 'hidup hari ini'. Dan postingan ini membahas itu lagi, Carpe Diem : menggenggam hari ini. Mengapa aku melulu bahas ini? Sebab aku masih kesulitan untuk merayakan hari dalam setiap detiknya. Seringnya aku mengeluh dan tidak mau melakukan hal yang seharusnya kulakukan.

Aku selalu merasa bahwa hal yang kulakukan sekarang adalah penyebab dari kekecewaan dalam hidupku. Meski benar bahwa aku tidak menyukai 'sesuatu' ini, tapi aku tetap tidak boleh menyalahkan 'sesuatu' yang aku pilih sendiri. Aku harus ingat apa-apa saja yang kudapat dari 'sesuatu' ini, sebab nyatanya aku belum bisa melepasnya. Aku terus mempertahankan. Karena ada ketakutan saat melepasnya, aku akan jatuh ke antah berantah, ke situasi dan nasib yang lebih buruk dari yang kubayangkan.
Lucu ya. Aku lebih suka menjalani hidup yang penuh kekecewaan ketimbang mengambil resiko menjalani hidup yang belum pasti.
Jika memang aku kecewa, seharusnya aku berupaya untuk mencari bidang yang sesuai dengan passion-ku. Nyatanya hingga sekarang upaya itu belum maksimal. Aku melulu terpuruk dalam kekecewaan.

Aku harus bangkit dan memandang hal yang sedang aku kerjakan sebagai hal baik, seperti yang dulu aku lihat. Kata orang, formula ajaib untuk hidup bahagia adalah bersyukur dan hidup hari ini. Nikmati setiap detik yang kita lalui, mau itu sedih ataupun senang. Senyum dan nikmati saja. Mudah? Berdasarkan pengalamanku sih tidak. Aku seringkali kalah terhadap kekecewaan. Tapi bukan berarti aku tidak bisa mengalahkan kekecewaan.

Pada saat aku menyerah pada hidup, aku seringkali menangis. Kemudian yang ada dipikiranku selanjutnya adalah pembiaran rasa sedihku ini sehingga orang-orang akan simpati terhadapku. Nyatanya? Aku malah semakin terpuruk dan tak ada simpati-simpati itu. Pikiran negatif seperti ini adalah pengganggu terbesar dalam hidup.

Aku harus melihat lebih luas lagi. Hampir semua orang sukses mengalami fase kritis dalam hidupnya, juga fase kekecewaan terbesar dalam hidupnya. Mereka mampu melewati itu, maka aku pun bisa. 


Kekecewaan hadir akibat rasa syukur yang kurang. Wahai hati, ingatlah kembali. Bahwa apa yang sedang kita miliki dan jalani adalah yang terbaik. Kalau saja kita tahu bagaimana Allah berencana pada hidup kita, hati kita akan luluh demi melihat kecintaan-Nya.

Bersyukur dan bersyukur. Carpe diem. Melakukan hal yang disukai. Hal-hal ini harus tetap kulakukan. Berdoa dan terus berdoa semoga setiap detik yang kita lalui berharga, bernilai ibadah di mata-Nya.


~ Ijaah ~

Kecewa Tapi Kemudian Melangkah

2 comments:
Alkisah, hiduplah seorang anak perempuan yang memiliki kecerdasan yang cemerlang. Ia bermimpi bahwa suatu hari akan kuliah ke luar negeri. Namun karena kondisi kedua orang tuanya yang tidak memungkinkan, anak perempuan itu memilih untuk tenggelam dalam perasaan kecewa dan marah. Ia lupa memanfaatkan bakat lainnya untuk melakukan yang terbaik yang dia bisa. Tak cukup bujukan, dorongan dan bantuan dari ahli yang dapat membantunya keluar dari cara berpikirnya yang salah, yakni hidupnya kurang beruntung. Akibatnya dia menolak menjalani hidup secara produktif dan menghabiskan waktunya dengan menyendiri seperti pertapa, terkurung dalam ketidakbahagiaannya dan depresi hingga akhir hayatnya.

Kisah di atas adalah nyata dan disampaikan oleh Desi Anwar dalam salah satu bukunya. Aku bisa mengerti bagaimana perasaan gadis itu, sebab aku pernah merasakan hal yang serupa. Namun sayangnya dia memilih untuk tenggelam dalam kesedihannya. Sayang seribu sayang, dia lupa bahwa bahagia itu tak semata dari terwujudnya impian.

Memiliki dan mengejar impian adalah menyenangkan. Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia, begitu kata Nidji. Tapi jangan sampai kita terbelenggu oleh mimpi. Sehingga menjadikan kita budak kekecewaan dari mimpi yang tidak menjadi nyata.

Harus ada manajemen 'rela'. Sebab untuk menjalani hidup yang penuh, kita harus rela melepaskan segala bentuk kekecewaan di masa lalu. Mudah? Oh sungguh tidak. Karena kerelaan melepaskan sesuatu mengharuskan kita memutus keterikatan dengan masa lalu.

Masa lalu acap kali menggoda kita untuk mendekati dan mengingatnya kembali. Oleh karena itu, manusia selalu melihat ke belakang dan tenggelam di dalamnya. Lupa bahwa untuk menyambut masa depan adalah dengan melangkah ke depan.

Source : Pinterest

I released myself from my past. I let go all the negative experiences and I no longer allow them to have any power over me. I am grateful for all the lessons that I have learned through my past experiences.
Today I make peace with my past and I begin to live in the present moment, which is all there ever is. 

Ya, lepaskan segala bentuk kekecewaan di masa lalu. Jadikan masa lalu sebagai pembelajaran, bukan sarana bagi kita untuk mengutuknya. Lepaskan dan hiduplah hari ini. Siapa tahu saat kita rela melepaskannya, kita bukannya terjerumus ke jurang tanpa dasar, tetapi terbang tinggi dengan kepakan sayap yang indah menuju matahari.


Source : A Simple Life by Desi Anwar


~ Ijaah ~

Kamu, Kenapa Lepas Jilbab?

8 comments:
Zah aku mau nanya donk. Pendapat kamu setelah baca artikel ini apa?

Aku mengerutkan kening. Link artikel yang disodorkan temanku itu membuatku setengah kaget. Artikel yang berjudul : Facing Hostility After Removing My Headscarf dari sebuah situs feminis dan pluralis Indonesia itu, mau tak mau membuatku ingin segera membacanya. Penasaran. Ingin tahu lebih jauh apa latar belakang penulis sehingga memutuskan untuk melepas jilbab.

Oke. Pertama aku ingin mengatakan bahwa situs tersebut adalah wadah aspirasi bagi wanita yang terpinggirkan secara sosial, bagi mereka yang tidak takut untuk berbeda (tidak sesuai dengan norma yang berlaku), juga bagi mereka yang melakukan hal-hal tabu. Jelas pada saat membaca artikel di website tersebut, aku harus memiliki tameng yang kuat serta memberi ruang sedikit untuk mengerti mengapa mereka menulis hal-hal semacam itu.

Kembali ke artikel tentang jilbab yang diberikan temanku. Aku harus membaca artikel tersebut secara utuh. Jangan lantas mendakwa : Ini orang kok lepas jilbab sih? Aneh! Aku harus mengerti apa yang menyebabkan keputusan ini terjadi.

Kisah dibuka dengan latar belakang keluarga. Penulis mengatakan bahwa Ia berasal dari keluarga Islami yang ketat. Setelah perceraian kedua orang tuanya 20 tahun lalu, ibu si penulis semakin religius dan mulai mengenakan jilbab serta mengikuti kajian Islam eksklusif. Hal ini membuat kehidupan keluarga si penulis menjadi sangat religius.

Penulis kemudian mengenakan jilbab. Tentu saja hal ini merupakan permintaan dari ibunya. Namun yang penulis rasakan adalah sebuah paksaan, bukan keyakinan kuat yang datang dari hati untuk berjilbab. Jika tidak menaati aturan harus berjilbab, dia akan dikucilkan dari keluarga.

Mengenakan jilbab selama 13 tahun, pada akhirnya Ia melepaskannya di tahun 2013. Reaksi dari keluarga, teman dan masyarakat jelas membuat penulis harus memiliki kesabaran ekstra. Ia dicap sebagai seorang yang liberalis dan aneh. Mengapa Ia mau bersusah payah dikucilkan orang lain dengan melepas jilbab? Penulis menyatakan bahwa Ia ingin mencari jati diri dan melakukan sesuatu karena keyakinannya.

Source : Pinterest
Itulah rangkuman cerita artikel tersebut. Pada saat selesai membacanya, aku teringat tentang kisah Marshanda (hampir semua orang tahu beritanya), juga tanteku yang memutuskan untuk melepas jilbab di usia hampir 30 tahun. Alasannya adalah karena calon suaminya tidak ingin dia berjilbab. Aku mengerutkan kening. Selain itu, pasti ada alasan lain. Kalau tidak, mengapa dia melepas jilbab begitu saja? Pasti ada alasan lain, hanya saja aku tak mengetahuinya.

Ada juga kisah salah satu karyawan HRD di perusahaan farmasi multinasional, tempat aku bekerja dulu. Pada saat sesi motivasi, Mbak tersebut memberikan cerita inspiratif (menurut dia) tentang keberanian terbesar yang pernah dia lakukan. Seperti biasanya, aku begitu antusias mendengarkan kisah sukses dari orang-orang yang sudah mapan. Namun celakanya, keberanian yang dia maksud terdengar begitu sumbang di telingaku : keberanian untuk melepas jilbab.

Ia bercerita dengan derai air mata. Berasal dari keluarga yang agamis, Ia mengenakan jilbab semenjak kuliah di salah satu perguruan tinggi islam. Pada saat bekerja, entah apa yang dia rasakan (lebih tepatnya aku lupa apa alasan dia melepas jilbab), ia memutuskan untuk tidak memakai jilbab. Malah, busana yang Ia pakai kini terlihat lebih terbuka. Aku sungguh tak menyangka bahwa Ia dulunya berjilbab.

Lantas apa yang aku jawab dari pertanyaan temanku di atas?

Dengan ilmu yang sedikit bahkan pemahaman agama yang masih sangat rendah, aku berkata padanya bahwa kita harus mengerti dulu alasan di balik keputusan mereka melepas jilbab. Dalam kasus di artikel tersebut, penulis tidak diberikan ruang oleh keluarganya untuk mengemukakan pendapat dan keinginannya. Apa-apa yang dia rasakan adalah sebuah perintah yang tidak menimbulkan keyakinan kuat pada hati : keterpaksaan.

Tugas kita bukanlah mendakwa mereka : Kamu salah! Jelas sudah, bila kita berkata demikian, mereka akan semakin menjauhi kita dan mencari ketenangan di tempat lain. Ada baiknya kita merangkul mereka dengan mendengar dan memahami mereka. Kalimat-kalimat nasihat berjilbab disampaikan nanti, insyaAllah ada waktunya. Sebab aku yakin mereka sudah tahu pasti tentang perintah berjilbab. Yang mereka butuhkan sekarang adalah telinga yang siap mendengar, juga tangan yang siap merangkul.

Memang tidak mudah untuk bersikap demikian. Lisan kita akan otomatis bertanya kenapa dan mengatakan tentang nasihat indah tentang berjilbab. Namun sayang, mereka yang memutuskan lepas jilbab tak membutuhkan itu.

Aku mencoba untuk memahami seperti ini. Siapa tahu, mereka yang memutuskan untuk melepas jilbab, sedang memberi jalan untuk keimanan benar-benar masuk ke hatinya. Sesungguhnya kita tak pernah tahu isi hati seseorang. Tugas kita adalah mendoakan mereka dan menebar rahmat, bukan mencaci maki dan mendakwa orang lain sesat. Ada cara lembut untuk mengajak mereka berbuat baik.

Inilah pendapatku. Bagaimana pendapatmu?

CMIIW ya!


| Baca juga : Solilokui Jilbab Pertamaku

~ Ijaah ~ 

Jilbab Pertamaku

6 comments:
Zahra Rabbiradlia | 1994
Judul tulisan ini mengingatkanku pada buku pertama Asma Nadia yang kubaca : Jilbab Pertamaku. Buku tersebut berisi kisah-kisah perjuangan muslimah yang ingin mengenakan jilbab. Ada yang tidak diperbolehkan berjilbab sehingga dikucilkan, ada yang sembunyi-sembunyi, bahkan ada yang menggunakan taplak meja sebagai jilbab. Membaca buku tersebut pada awal-awal memutuskan berjilbab adalah semangat tersendiri. Puji syukur pada Allah, semakin dikuatkan langkah berjilbab setelah membaca buku Jilbab Pertamaku.

Aku mengenakan jilbab sejak kelas 6 SD. Tepatnya 1 minggu setelah menstruasi pertama. Tiada paksaan sama sekali dari ibu dan ayah agar aku mengenakan jilbab. Keinginan tersebut muncul dari hati. Ada sebuah keyakinan kuat bahwa aku ingin taat, aku ingin mengamalkan perintah jilbab dalam Surat Al-Ahzab : 59 dan An-Nuur : 31.

Keinginan kuat untuk mengenakan jilbab adalah hasil dari proses panjang ibu membina aku sedari kecil. Setiap hari, dalam setiap momen masa kecil yang kuingat, ibu selalu bercerita tentang keutamaan mengenakan jilbab. Cerita yang disampaikan ibu sangatlah menarik. Di akhir cerita, ibu selalu berkata bahwa kelak saat aku baligh (haid), aku harus mengenakan jilbab. Apakah pada saat mendengar itu aku merasa tertekan? Sungguh tidak. Justru aku begitu menantikan masa-masa itu tiba. Masa di mana jilbab selalu melekat erat di kepalaku.

Sejak kecil aku tak merasa asing dengan jilbab. Ibuku mengenakan jilbab sejak tahun 80-an, masa di mana wanita berjilbab masih sangatlah jarang, masa di mana penggunaan jilbab adalah sebuah larangan. Ibu juga menempelkan stiker ayat-ayat perintah mengenakan jilbab di lemari kamar. Sehingga aku selalu melihat ayat itu dan paham bahwa perintah jilbab datang langsung dari Tuhan.

Jilbab pertamaku kukenakan pada bulan Juli 2002. Pada saat itu aku masih kelas 6 SD. Ibu langsung membuatkan aku seragam putih lengan panjang dan rok merah panjang, juga baju pramuka panjang. Ibu juga membeli kaos dan celana olahraga panjang yang warnanya senada dengan baju olahraga sekolah dan tak lupa jilbab instan warna putih. Masih ingat rasanya pada saat pertama kali turun dari becak dan memasuki halaman sekolah, para pedagang dan teman-teman melihatku dengan keheranan.

Zahra, mana bondu Marshanda-nya?

Aku tersenyum penuh malu. Pada saat itu, akulah satu-satunya murid yang mengenakan jilbab. Hingga pada saat memasuki ruangan dan wali kelas melihatku, beliau berkata :

Kamu sudah siap, Zahra? Pake jilbab itu jangan lepas pakai.

InsyaAllah enggak, Bu. Itu jawabanku. Meski memancing pandangan banyak orang, nyatanya teman-teman senang akan keputusanku mengenakan jilbab.

Mengenakan jilbab itu seru. Pada saat latihan renang misalnya. Aku harus terbiasa berenang dengan menggunakan kaos dan celana panjang yang beratnya minta ampun. Belum lagi dengan jilbab yang kerap kali mengembung. Tapi ingat : Alah bisa karena biasa. Pada akhirnya aku terbiasa dengan kostumku saat berenang. Bahkan aku lulus di ujian renang.

Bisa dikatakan bahwa aku dimudahkan saat mengenakan jilbab. Tidak ada tantangan dari manapun. Semua pihak mendukung keputusanku. Pada saat membaca kisah penuh haru dari para muslimah yang ingin berjilbab, aku kerap menangis. Perjuangan demi taat.

Teringat kisah Laudya Cyntia Bella pada saat memutuskan untuk berhijab. Sepulang umroh, Ia langsung datang ke rumah Bunda Inka, salah satu guru agamanya, dan berkata :

"Bunda, aku ingin pake jilbab. Aku ingin taat."


~ Ijaah ~ 

Solilokui : Edisi Calpas

9 comments:
Source here
The Power of Mind. Begitu kata orang. Pada saat kita berpandangan atau bersikap A, alam akan menyusun sistem dan bala bantuan agar kita ditunjukkan pada tanda-tanda yang menghantarkan kita pada jalan A. Pada saat aku membuka hati dan pandangan untuk menempuh jalan yang diberkahi-Nya, Tuhan berikan tanda-tanda, juga kebaikan yang datang tiba-tiba.

Aku sudah dalam tahap keukeuh untuk menempuh jalan ta'aruf dalam memilih calpas atau calon pasangan hidup. Sebab, hendak pacaran selama apapun, kita tidak akan pernah bisa mengenal sifat asli pasangan secara mendalam. Ta'aruf itu kaya beli kucing dalam karung, begitu kata segelintir orang. Ah, memang kamu yakin kalau pacaran bisa sukses menghantarkanmu mengetahui pasangan secara mendalam?

Aku bilang, tidak. Memang ta'aruf juga menjamin? Belum tentu juga. Tapi setidaknya aku sudah memilih jalan aman bagi keimanan dan hatiku. Maklum, hati perempuan macam aku ini mudah galau. Jadi lebih aman mengenal calpas dengan jalan ta'aruf.

Malam hari yang tenang. Aku yang sedang ngaso sembari menulis Solilokui : Edisi Jomblo, tiba-tiba dikejutkan oleh pertanyaan dan pesan penting dari teman semasa kecilku via BBM.

Teh Zahra, gimana kabarnya? Teteh punya tips khusus memilih calpas. Mau gak?

Jawabannya pasti IYA. Selanjutnya, deretan kalimat yang disampaikan temanku begitu melegakan dan menentramkan, bak oase di tengah padang pasir.


TIPS MEMILIH CALPAS
(Sumber : Ibu Ely Risman)
  1. Lihat pola asuh orang tua calon pasangan. Caranya : perhatikan cara dia berkomunikasi dengan ortunya.
  2. Harus tahu bagaimana cara calpas marah.
  3. Bicarakan tentang poligami, bagaimana menurutnya.
  4. Bicarakan tentang poligami sebelum menikah. Katakan pada calpas bahwa saya mempersilakan calpas poligami. Ingin punya istri 4, silakan. Agama tidak melarang poligami. Tapi tegaskan padanya bahwa saya tidak ingin masuk ke dalam deretan 4 istri itu. Setelah menikah dan sebelum mempunyai anak, yakinkan calpas dengan hal ini lagi.
  5. Sebelum menikah, minimal 1 kali mengikuti SEKOLAH menjadi orang tua.

Aku bersolilokui

Rabbi, terimakasih atas segala hamparan karunia dan bala bantuan yang Kau berikan pada-Ku. Begitu banyak orang yang sayang padaku, memberi aku petuah yang baik, menasihati langkah dan mengingatkanku bila salah. 

Aku akan terus belajar untuk menjalani hidup ini dengan cara-Mu. (ingatkan aku bila menyimpang, Rabb) Menikah bukan perkara suka sama suka. Ada nilai ibadah yang sangat tinggi dan tanggung jawab yang besar dalam pernikahan.
Aku harus bisa bersinergi dengan pasanganku, sehingga kami akan seirama dalam membentuk generasi yang unggul. Untuk itu aku harus mengenal pasanganku dengan baik. Kami tidak harus sama dalam semua hal. Setidaknya, aku harus mengetahui bagaimana sifatnya dan prilakunya pada orang tua. Karena dua hal ini akan sangat berpengaruh pada pola asuh anak nanti.

Pembicaraan hangat itu ditutup dengan rezeki luar biasa yang sangat aku butuhkan : SEKOLAH MENJADI ORANG TUA. Aku diberikan tiket gratis untuk mengikuti seminar parenting di Yayasan Kita dan Buah Hati bulan Februari nanti, yang mana salah satu pembicaranya adalah Bu Elly Risma. Segala puji dan syukur pada Allah yang memberikan nikmat setiap saat, tak terduga dan sesuai dengan kebutuhan kita.

Fiuh. Aku lega. Aku harus banyak belajar untuk menjadi istri dan ibu yang baik dengan membaca, memperhatikan teman dan saudara yang sudah menikah, serta mengikuti seminar pernikahan dan parenting. Saat menikah nanti, aku akan belajar sambil praktek. Nampaknya akan lebih seru.

Sekarang, saatnya aku untuk duduk kalem sambil melakukan hal-hal penting dan disukai. Menyiapkan keluarga yang bahagia dan cerdas itu dimulai dari diri sendiri. Yuk kita sama-sama menciptakan peluang agar bala bantuan yang baik selalu menghampiri kita.

Semangat!


~ Ijaah ~

Solilokui : Edisi Jomblo

6 comments:
Allah has already written the names of your spouse for you. What you need to work on is your relationship with Allah. He will send her/him to you when you're ready. It is only a matter of time.

Entah berapa kali aku membaca nasihat serupa : Jodohmu akan datang disaat kamu sudah siap. Jadi, tugasmu sekarang adalah memperbaiki diri. Setiap kali membaca pesan tersebut, aku bersolilokui : Sudahkah aku berupaya dengan baik untuk menjemput jodohku?

We always feel that Allah's blessings never come on time. But the truth is, they are always on time, but we are always in a hurry. - Dr. Bilal Philips

Deg!

Aku terdiam. Betapa indahnya dua baris kalimat itu. Cinta, keberkahan dan keridhoan Tuhan selalu mengalir dalam hidupku. Aku saja yang bebal. Tidak merasakan nikmat yang diberikan Tuhan. Sebaliknya, aku malah mengutuk kehidupan dan bertanya-tanya : kapan aku mendapat kenikmatan seperti si A, si B, si C?

Celakanya, pertanyaan semacam itu seringkali ku kaitkan dengan pernikahan.

Kapan ya aku nikah? Seneng banget liat dia udah nikah dan punya anak. Usianya di bawah aku padahal, hiks! Kapan atuh aku bisa menyempurnakan sayap? Bosen sendiri terus :(

Pertanyaan aneh, itu yang bisa kukatakan. Aku menjadi semacam 'memaksa' Tuhan lewat keluhan dan doa yang tidak indah didengar. Padahal Tuhan sudah menetapkan dengan pasti, kapan dan dengan siapa aku menikah nanti.

Aneh. Seribu topan badai : Aneh! Aku seperti mempertanyakan hal yang sudah Allah tetapkan dengan pasti.

Mempertanyakan selalu tentang jodoh, tapi lupa mempersiapkan diri. Lupa juga bahwa menuju pernikahan suci haruslah ditempuh dengan cara yang baik.

Source here

Dalam Solilokui : Edisi Jodoh, aku mengatakan bahwa aku ingin melalui proses pengenalan calon suami dengan jalan yang baik. Maksudnya, aku tidak ingin ada kontak berlebih dengan calon suami. Nama kerennya ta'aruf. Nama umumnya pacaran (dengan cara yang baik). Mmm, sebenarnya defini awal pacaran itu mengenal calon suami, kan? Tidak melulu berduaan kan? Namun semakin berkembangnya jaman, definisi pacaran itu menjadi hal yang dihindari oleh sebagian orang, termasuk aku.

Pernahkah aku pacaran? Oh, sangat pernah. Aku pernah memanggil laki-laki dengan sebutan : sayang. Kalau diingat lagi, rasanya enek banget pernah mengatakan itu pada lelaki asing. Yiak, gak mau-mau lagi!

Pernah ta'aruf rasa pacaran? Oh, pernah. Masa awal perkenalan, kami berhubungan via makcomblang. Segala maksud dan pertanyakan disampaikan lewat makcomblang. Merasa nyaman dan aman melalui proses ini. Namun karena waktu ta'aruf-nya lama, jatuhnya seperti pacaran. Piuh, gak mau-mau lagi!

Pernah ta'aruf? Pernah. Prosesnya dipantau langsung Om-ku yang pernikahannya via ta'aruf juga. Lebih merasa nyaman dengan cara ini. Juga tidak ada rasa sedih saat prosesnya batal. Ya, mau-mau kaya gini lagi!

Jika dipikirkan dan ditimbang baik buruknya, aku lebih memilih menjadi jomblo daripada menjalani proses pacaran, atau ta'aruf rasa pacaran. Dua proses itu tidak menyenangkan. Karena di satu keadaan, aku pasti akan merasa kagok. Atau tetiba muncul kesadaran jika cara ini tidak baik. Ujung-ujungnya aku memilih untuk menghindar.

Kalau kamu bagaimana?


"Karena menjadi jomblo itu bukan nasib, tapi pilihan yang baik. "


~ Ijaah ~

Solilokui : Edisi Jodoh

33 comments:
Cucu perempuan Abah yang udah kerja tapi belum nikah ya tinggal Zahra nih. Ayo kapan nikah?
Aku kadang heran sama kamu, Zah. Umur masih muda tapi udah kalang kabut aja pengen cepet nikah. Udah, kamu nikmatin dulu hidup. Nikah itu gak gampang lho.

Begitulah.

Saat ini aku sedang menjalani masa di mana banyak sekali yang bertanya atau kepo tentang kapan aku menikah. Ada yang ingin segera melihat aku menikah. Ada yang menasihati aku tentang pernikahan. Ada yang mengajakku duduk santai dan memikirkan pernikahan nanti-nanti saja. Usiaku saat ini memang menjadi sasaran empuk bagi mereka untuk bertanya : Kapan nih lihat kamu gandengan sama suami?

Aku sendiri tidak merasa terganggu dengan pertanyaan itu. Justru sebaliknya, aku merasa senang. Oleh karena setelah bertanya, mereka akan mendoakan aku : Semoga cepat dapet pasangan yang terbaik ya.

Saat ini aku masih dalam tahap belum tergesa-gesa dalam mencari pasangan hidup. Tapi bukan berarti aku menutup diri. Karena menurutku, usiaku sekarang belum memasuki masa 'tegang' karena belum menikah.


Source here

Tapi rupanya membuka hati itu bukan perkara mudah, setidaknya bagiku. Setelah berkali-kali gagal menjalani hubungan, analisaku semakin tajam saat memilih pasangan. Pemilih? Sangat mungkin.

Oleh karena itu aku berubah menjadi sosok yang menakutkan bagi lelaki, setidaknya itu yang kulihat. Saat ada yang mendekati, aku menjadi sosok yang cuek dan seperti tidak memperhatikan. Padahal di belakang, aku mencari informasi tentang sosok itu lewat sosial media yang dia punya. Hey, kepo itu wajib!

Tapi memang aku tidak bisa tidak cuek pada siapa saja yang mendekati. Entah kenapa. Mungkin itu semacam dinding pertahanan otomatis, yang sedang menunggu seseorang untuk menembusnya. Dan hal ini pasti banyak dilakukan oleh perempuan lainnya.

Jangan cuek sama laki-laki, Teh...

Aku hanya bisa mengernyit. Ibu berkata bahwa jika aku cuek selalu, aku hanya akan menatap nanar punggung-punggung itu pergi. Kusampaikan pada Ibu bahwa aku tidak bisa menahan prilaku cuek ini. Jika sudah begitu, Ibu diam dan mengingatkanku untuk berdoa selalu.

Aku bersolilokui : aku harus memikirkan jalan keluar. Akhirnya aku berpikir bahwa permasalahanku ini bisa terselesaikan bila aku meminta bantuan pada mak comblang. Ya, mak comblang. Orang yang menjadi perantara bagi dua orang untuk saling berkenalan untuk selanjutnya menuju pernikahan.

Sebelumnya aku pernah melalui proses perkenalan melalui mak comblang, tapi gagal. Kemudian aku mencoba lagi. Kali ini mak comblang-nya adalah Om ku sendiri. Alhamdulillah proses-nya lebih baik dari sebelumnya, lebih memenuhi syarat agama. Namun ternyata visi misi kami tidak cocok. Ta'aruf gagal.

Proses ta'aruf ini tidak menimbulkan rasa pedih di hati. Rasanya biasa saja. Bagaimana bisa pedih jika kami hanya bertemu sekali? Itupun saat proses ta'aruf belum berjalan.

Proses seperti ini yang lebih melegakan bagiku. Ta'aruf. Proses pengenalan pasangan secara mendalam, tanpa perlu kontak berlebihan dengan calon pasangan.

Masih jomblo? Mungkin kamu masih bernilai 6, sedang jodohmu bernilai 9. Ia sedang menunggumu memperbaiki diri. Jika nilaimu baik, Ia akan datang padamu.

Mungkin aku masih sendiri karena aku belum siap menyambut jodohku. Kalau begitu memperbaiki diri adalah cara terbaik untuk menyambutnya.

Ah lebay! Belum waktunya aja kali menikah. Udah santai dulu aja.

Ih gak gitu tahu! Aku punya keinginan dapat jodoh seperti ini, ini, ini. Kalau gitu aku harus menyesuaikan kemampuanku agar bisa bersinergi dengan pasanganku. Memperbaiki diri adalah sebuah keharusan!

Yelaaah... Berat amat, Neng!

Suara-suara di kepalaku acap kali meributkan hal-hal sepele. Namun mereka sepakat saat aku memutuskan untuk menempuh jalan ta'aruf untuk menjemput jodohku.

Jadi jomblo itu rasanya kaya ngunyah Nano-Nano. Lihat yang punya pasangan, pengen punya juga. Lihat yang udah nikah, pengen cepet nikah. Tapi di sisi lain masih merasa nyaman melakukan beberapa hal sendiri. Bukan. Bukan aku menolak bahwa saat punya pasangan nanti me time-ku banyak terenggut. Namun itu adalah satu dari banyak pikiran yang membawaku pada pemahaman bahwa aku bersyukur menjadi jomblo.

Iya bersyukur.

Tapi jangan lama-lama ya :D


~ Ijaah ~ 

Tentang Pernikahan

22 comments:

Semakin dewasa saya sadar bahwa pernikahan bukan melulu soal happily ever after. Pernikahan tidak selalu dihiasi dengan kebahagiaan. Ada proses adaptasi dengan pasangan yang acapkali menimbulkan pertengkaran. Ada juga kekecewaan karena nyataannya pasangan kita tidaklah sehebat yang diharapkan. Untuk itulah mengapa pernikahan disebut sebagai ibadah. Sabar, ikhlas dan toleransi menjadi kunci sehatnya pernikahan.

| Baca juga : Alicia Nash : Aku Kan Setia Padamu, Sampai Kapanpun

Telah banyak kisah tentang pernikahan yang saya dengar. Ada yang bahagia, ada yang sedih dan ada yang tidak memperdulikan. Semakin dewasa, hidup memperlihatkan bahwa pernikahan bisa membawa manusia pada dua gerbang kehidupan : semakin baik atau semakin buruk. Maka benar adanya nasihat itu.

Pilih pasangan hidupmu dengan bijak. Perhatikan fisik, agama, akhlak, keluarga dan caranya bersosialisasi. Apakah sifatnya kau sukai? Apakah hatimu yakin padanya?

Dalam hidup, ada 3 fase kritis manusia dalam menjelang dan menjalani Quarter Life Crisis :
  1. Krisis ketika menentukan pendidikan
  2. Krisis ketika menentukan profesi dalam pekerjaan
  3. Krisis ketika menentukan pasangan hidup
Pilihan yang kita ambil dalam 3 fase kritis tersebut akan membawa dampak besar dalam hidup kita seterusnya. Pada setiap keputusan yang diambil, kita harus siap dengan segala konsekuensinya. Namun ingat. Bila keputusan yang kita ambil di masa lalu tidak membuat hidup menjadi lebih baik, janganlah menyesalinya. Pahami keadaan dan petik pelajaran pentingnya.

Ada yang dimudahkan, ada yang harus melalui jalan berkelok nan penuh kerikil untuk menemukan pasangan hidup. Ada yang setelah menikah menjadi lebih bahagia, ada yang beban hidupnya semakin bertambah.

Teringat kisah seorang kawan tentang hidupnya yang penuh kepedihan setelah menikah. Tak baik saya menuliskannya di sini. Namun pesan penting yang perlu kita ketahui bersama adalah : jumlah waktu yang kita habiskan untuk mengenali calon pasangan, belum tentu menjamin pengetahuan dan pemahaman karakter pasangan secara utuh.

Ada yang setelah menikah hidupnya penuh kebahagiaan. Misal saja kisah cinta kawan lama saya yang seperti Cinderella. Ia dipinang oleh anak dari pemilik salah satu perusahaan di Malaysia, tempat Ia dulu bekerja sebagai TKI ilegal. Kisah cintanya begitu romantis. Kawan saya ini memutuskan untuk kabur dan kembali ke Indonesia karena takut akan statusnya yang ilegal. Ternyata, putra pemilik perusahaan itu mencarinya hingga ke pelosok Kab. Bandung. Mencarinya untuk menikahinya. Hingga kini, kehidupannya penuh kebahagiaan dan sudah dikaruniai anak.

Saya ingin mengatakan bahwa : Pernikahan bisa merubah kehidupan seseorang, bahkan hingga 180 derajat. Pernikahan bisa membawamu pada impian, juga bisa menguburkan impianmu. Tergantung bagaimana sikap pasangan kita, komunikasi kita dengan pasangan dan sikap toleransi. Untuk itulah visi dan misi saat proses perkenalan penting untuk diutarakan.


Pernikahan akan membawamu pada kebahagiaan?

Ya.

Kebahagiaan macam apa?

Kebahagiaan yang dilandasi ibadah, sabar dan ikhlas.


~ Ijaah ~

Que Sera Sera

12 comments:
Que Sera Sera ...
Whatever will be ... will be ...
The future's not ours to see
Que Sera Sera ...

Que Sera Sera. Lagu lama yang tiada rasa bosan untuk mendengarnya. Liriknya yang sederhana dengan paduan musik klasik yang merdu, telah menjadikan lagu ini sebagai legenda. Makna yang terkandung di dalamnya memiliki daya magis yang luar biasa. Pelipur lara bagi mereka yang sedang sedih. Penyemangat untuk menyambut kehidupan.

The future's not ours to see. 

Adalah kebiasaan manusia untuk menerka-nerka apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Apakah aku akan kaya? Apakah aku mendapat pasangan yang hebat? Apakah aku akan keliling dunia? Pertanyaan semacam itu seringkali merenggut produktivitas kita di masa kini. Alih-alih membayangkan impian untuk menjadi kenyataan, nyatanya hari-hari kita habis oleh khayalan tanpa aksi yang nyata.

We fret about the past. We worry about the future. We ignore the present.

Betapa menjemukannya hidup bila diisi dengan prilaku negatif : penyesalan akan masa lalu yang penuh kegagalan, khawatir akan masa depan yang belum pasti, acuh tak acuh pada masa kini. Malangnya, tiga prilaku negatif ini melanda hampir seluruh manusia. Apalagi bagi mereka yang kadar rasa syukurnya naik turun.

Harus ada obat Anti - Tigaprilakunegatif. Obat yang menghantarkan manusia untuk dapat hidup hari ini. Tiada lagi penyesalan akan masa lalu. Tiada lagi kekhawatiran akan masa depan. Tiada lagi pengabaian akan masa kini.

We can see life better and all its beauty when we are still.

Pejamkan mata dan tarik napas pelan-pelan. Rasakan nikmatnya udara yang masuk ke dalam tubuh. Tersenyumlah. Basahi tubuhmu dengan wudhu atau dengan vyapak saocha. Rasakan aliran air yang menyejukkan raga. Nikmati semuanya. Nikmati semua prosesnya.

Abaikan semua kicauan negatif yang terdapat dalam pikiran. Ganti suara tak baik itu dengan suara yang menggembirakan. Suarakan dalam pikiran, tentang perkataan baik yang pernah dialamatkan kepada kita. Suarakan pujian dan semangat dari orang tua, kekasih, sahabat, guru dan orang-orang yang mendukung kita.

"Kamu adalah permata ayah dan ibu. Sumber kebahagiaan dan kehidupan kami berdua."

"Kamu adalah teman terbaik. Membantuku untuk melihat dunia dengan lebih bijaksana. Menguatkan aku kala jatuh dan ada saat aku membutuhkan teman bicara."\

"Kamu hebat. Kamu telah melakukannya dengan cara terbaik yang bisa kamu lakukan. Ini bukan akhir dari segalanya. Masa depanmu terbentang luas. Kita coba lagi nanti, ya?"

Hiduplah hari ini. Hidupkan harimu dengan suara dan prilaku positif. Tiada kata nanti untuk mengubah hidupmu menjadi lebih baik.

Adapun tentang masa depan, biarkan hal tersebut menjadi rahasia. Misterius dan penuh kejutan. Apapun yang akan terjadi nanti, biarkan ia terjadi. Yang perlu kita lakukan adalah hidup di hari ini dan teruslah bersyukur.

Yesterday is history. Tomorrow is a mistery. Today is a gift of God, which is why we call it the present.

~ Ijaah ~  

Buat Kamu Yang Narsis dan Kreatif, Ikutan CNI Dubsmash Competition, Yuk!

16 comments:
Sudah pada tahu Dubsmash, kan?

Buat kamu yang aktif di sosial media, pasti sudah tahu apa itu Dubsmash. Ya, aplikasi yang memudahkan user untuk men-dubbing suara 'apapun' itu, kini sedang menjadi tren pengguna sosial media. Aku sendiri tidak tahu pasti sejak kapan Dubsmash menjadi begitu marak di Indonesia. Namun berdasarkan penuturan seorang kawan, Dubsmash mulai marak saat salah seorang artis wanita Indonesia membuat video Dubsmash. Sejak saat itu, bagaikan transmisi data yang cepat, Dubsmash mulai menjadi primadona di Indonesia.

Virus Dubsmash menjangkiti hampir seluruh pengguna Instagram. Bahkan beberapa di antaranya ada yang konsisten mengunduh video Dubsmash dan membuat serial cerita. Contohnya saja akun @jeartofa yang konsisten membuat video Dubsmash ceramah Mamah Dedeh yang ia parodikan dengan nama Mamah Jejeh.

Di rumah, adikku yang paling kecil sudah bisa membuat Dubsmash. Ia membuat beberapa video Dubsmash. Namun yang paling kusuka adalah saat Ia dubbing lagu When I See You Again nya Wiz Khalifa. Karena adikku hafal lagunya, gerakan mulutnya tidak ada yang meleset. Selain itu, ekspresi mukanya benar-benar kena :).

Nah buat kamu yang suka membuat video di Dubsmash, aku punya info menarik yang sayang untuk dilewatkan. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya terlebih dahulu.

Mau gak bikin video Dubsmash lalu dapat uang?



Mau kan? :D

Kalau begitu yuk ikutan CNI Dubsmash Competition. Ada banyak hadiah menanti lho. Selain itu cara mengikuti kompetisinya mudah sekali. Oya kamu tahu CNI, bukan? Ya, perusahaan yang namanya tak begitu asing ini bergerak di multilevel marketing bidang kesehatan. Namun sekarang CNI mulai meningkatkan jangkauan kepada konsumen dengan menjadi marketplace (geraicni.com).

Sebelum aku memberitahu cara untuk mengikuti kompetisinya, berikut informasi sederhana tentang cara membuat video di Dubsmash :

1. Unduh aplikasi Dubsmash di Play Store atau Apple Store.
2. Pilih negara asalmu (ini dapat membantu Dubsmash untuk memilihkan dubs yang tepat sesuai asalmu)
3. Pilih bahasa (kalau kamu pilih Indonesia, ada beragam pilihan bahasa daerah seperti Jawa, Sunda dll)
4. Sign Up
5. Pilih icon 'tangga nada' untuk mulai merekam video

Mudah bukan?

Nah berikut ini adalah cara untuk mengikuti CNI Dubsmash Competition :

1. Download jingle CNI Up Cocoa atau lihat liriknya di Video Lirik Up Cocoa
2. Buat video sekreatif mungkin di Dubsmash
3. Upload video Dubsmash kamu ke Instagram lalu mention ke Instagram @geraicni disertai hashtag #DubsmashIndonesia #UpCocoaMantap. Kemudian share ke Twitter, Facebook atau Tumblr.

Tiga (3) video kreatif akan mendapatkan hadiah menarik dari CNI berupa :

1. Voucher 750.000 dari MAP
2. Voucher belanja 300.000 dari CNI
3. 6 Produk CNI Up Hot Dark Chocolate

Menarik bukan? Kalau begitu, yuk segera buat video Up Cocoa di Dubsmash. Ingat ya, deadline upload video kreatifnya sebelum tanggal 31 Oktober 2015. Untuk informasi lebih lanjut, ikuti terus Fanspage Facebook, Twitterm, Instagram dan website GeraiCNI.


~ Ijaah ~ 

Follow me on Instagram