Sunday, November 29, 2015

Jelajah Kuliner Sasak : Kelor di Pancor

Apa saja kuliner di Lombok yang pernah saya coba?

Dengan mantap saya akan menjawab ayam taliwang, sate bulayak, sate tanjung, sate rembige, ares, ebatan, nasi balap puyung dan bebalung. Untuk semua makanan itu, saya acungkan jempol setinggi-tingginnya. Saya suka semua makanan khas Lombok, sangat suka.
Malam ini kita makan di Warung Kelor di daerah Pancor. Makanan rumahan khas Sasak.
Kelor?

Kelor yang seperti disebutkan dalam peribahasa itu? Kelor yang biasa digunakan untuk pengusiran makhluk halus?

Bagi masyarakat Jawa Barat, daun kelor identik dengan dunia mistik. Daun ini seringkali digunakan pada saat pengusiran jin dan penolak bala. Oleh sebab itu saya agak kaget bahwa kelor biasa dijadikan panganan utama di Lombok, juga di Makassar.

Bersumber dari Wikipedia, kelor atau merunggai (Moringa oleifera) adalah sejenis tumbuhan dari suku Moringaceae. Daun kelor berukuran kecil, bentuknya bulat menyerupai telur dan bersusun majemuk dalam satu tangkai. Bunganya berwarna putih kekuning-kuningan dan tuduh pelepah bunganya berwarna hijau. Bunga ini keluar sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak. Sedang buah kelor berbentuk segitiga memanjang yang disebut kelentang, juga dapat dibuat sayur.

Berdasarkan referensi dari @lombokkita, yang membuat penulis merasa ketagihan makan sayur kelor adalah wangi alami yang keluar dari daun kelor (setelah direbus). Sangat menggungah selera, padahal sayur bening ini hanya diberi garam. Jadi semakin penasaran bagaimana rasa sayur kelor ini :)

Jelajah Kuliner Lombok : Lesehan Raja Taliwang

Mencicipi kuliner khas suatu daerah adalah menjadi sebuah keharusan. Dan apabila ditanyakan mengenai kuliner khas Lombok yang paling mahsyur, ayam taliwang adalah jawabannya.

Taliwang adalah nama sebuah daerah di Lombok, yakni Karang Taliwang. Di sanalah untuk yang pertama kalinya, H. Moerad dan istrinya Salmah memperkenalkan ayam taliwang. Meski keduanya merupakan pelopor ayam taliwang, hal ini tak lantas membuat H. Moerad mematenkan masakannya. Beliau beranggapan bahwa dengan mematenkan ayam taliwang, pintu rezeki orang lain akan tertutup. Orang lain boleh saja menggunakan nama yang sama, namun pasti akan ada perbedaan dari segi rasa. Oleh sebab itu, saat ini dengan mudah kita temukan penjual ayam taliwang di dalam maupun luar Lombok.

Baca juga : Lombok Sumbawa World Travel Writers Gathering 2014 : Malam Ramah Tamah Bersama BPPD NTB

Malam pertama di Lombok, Mas Teguh mengajak seluruh peserta TW Gathering dinner di Lesehan Raja Taliwang. Ada dua pilihan tempat di rumah makan ini : makan sambil lesehan di berugak atau makan sambil duduk di kursi (seperti pada umumnya). Kami sepakat memilih berugak sebagai tempat untuk makan. Ini adalah pertama kalinya aku makan ayam taliwang sambil lesehan.

Travel Writers Gathering, Aku Kembali!

Tamu-tamu kami yang terhormat. Baru saja kami mendapatkan pemberitahuan dari pihak otoritas Bandara Internasional Lombok bahwa pembersihan landasan pacu dari abu vulkanik anak Rinjani masih berlangsung, dan diprediksi akan berlangsung hingga Rabu, 11 November 2015.
Aku terkesiap. Kabar itu datang pada tanggal 9 November, sehari sebelum keberangkatanku ke Lombok. Mas Teguh, selaku panitia Travel Writers Gathering 2015, memberitahuku untuk segera mengubah jadwal penerbangan PP. Urusan itu mudah saja bagiku. Yang memberatkan adalah cuti yang sudah terlanjur kuajukan. Dapatkah aku mengubahnya?
Zahra, Rinjani kan sedang 'meradang', kamu tetap pergi ke Lombok?"
Aku mengangguk mantap. Sebenarnya pertanyaan tersebut sempat terlintas dalam benakku. Dengan segera kutanyakan perihal itu pada Mas Teguh. Ia mengatakan bahwa Lombok aman, Lombok baik-baik saja. Adapun bila Bandara Praya tidak beroperasi karena abu vulkanik, aku tetap dapat pergi ke Lombok dengan menyeberang dari Bali.


Dengan segala perjuangan, perubahan izin cuti telah kugenggam dengan erat. Travel Writers Gathering, aku kembali padamu! :)

Tuesday, November 3, 2015

Perjuangan Panjang di Balik Film Bait Surau



Bait Surau. Mendengar namanya saja sudah membuatku penasaran. Apakah pesan yang hendak disampaikan film ini? Maka pada saat mengetahui undangan nonton film Bait Surau gratis dan berjumpa dengan salah satu pemainnya (Ihsan Tarore), saya langsung mengatakan YA.

Acara dimulai dengan meet and greet bersama Ihsan dan Anita Aulia (produser film Bait Surau). Ternyata, apa-apa yang disampaikan Ihsan dan Bu Anita sungguh mencengangkan. Ada cobaan berat yang nyaris memutus harapan para kru dan pemain film ini. Namun mereka berupaya bangkit sehingga pada akhirnya Bait Surau bisa dinikmati oleh khalayak umum.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...