Jelajah Kuliner Sasak : Kelor di Pancor

17 comments:
Sayur kelor. Sumber : @lombokkita
Apa saja kuliner di Lombok yang pernah saya coba?

Dengan mantap saya akan menjawab ayam taliwang, sate bulayak, sate tanjung, sate rembige, ares, ebatan, nasi balap puyung dan bebalung. Untuk semua makanan itu, saya acungkan jempol setinggi-tingginnya. Saya suka semua makanan khas Lombok, sangat suka.

Malam ini kita makan di Warung Kelor di daerah Pancor. Makanan rumahan khas Sasak.

Kelor?

Kelor yang seperti disebutkan dalam peribahasa itu? Kelor yang biasa digunakan untuk pengusiran makhluk halus?

Bagi masyarakat Jawa Barat, daun kelor identik dengan dunia mistik. Daun ini seringkali digunakan pada saat pengusiran jin dan penolak bala. Oleh sebab itu saya agak kaget bahwa kelor biasa dijadikan panganan utama di Lombok, juga di Makassar.

Bersumber dari Wikipedia, kelor atau merunggai (Moringa oleifera) adalah sejenis tumbuhan dari suku Moringaceae. Daun kelor berukuran kecil, bentuknya bulat menyerupai telur dan bersusun majemuk dalam satu tangkai. Bunganya berwarna putih kekuning-kuningan dan tuduh pelepah bunganya berwarna hijau. Bunga ini keluar sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak. Sedang buah kelor berbentuk segitiga memanjang yang disebut kelentang, juga dapat dibuat sayur.

Berdasarkan referensi dari @lombokkita, yang membuat penulis merasa ketagihan makan sayur kelor adalah wangi alami yang keluar dari daun kelor (setelah direbus). Sangat menggungah selera, padahal sayur bening ini hanya diberi garam. Jadi semakin penasaran bagaimana rasa sayur kelor ini :)

Selain dibuat sayur, daun kelor sering dijadikan obat dan perawatan untuk kulit. Hal ini dikarenakan daun kelor memiliki kandungan vitamin, kalsium, protein dan potassium yang tinggi. Kelor disebut-sebut sebagai pohon ajaib, sebab kandungan dan manfaat yang dihasilkan pohon ini sangat banyak.

Di Lombok Timur, kita dapat menjumpai warung yang menyediakan menu sayur kelor sebagai hidangan utama. Nama warung tersebut adalah Warung Kelor yang terletak di Pancor, Lombok Timur.


Rupanya sayur kelor merupakan salah satu masakan rumahan khas suku sasak. Disajikan dengan kuah bening, cara memasak sayur kelor mirip seperti memasak sayur bayam bening. Namun sayang seribu sayang, pada saat kunjungan kami ke Warung Kelor, sayur kelor yang merupakan menu utama warung ini sudah habis. Ya, kami datang pada saat warung tersebut akan segera tutup.

Meski belum beruntung, kami tetap lahap menyantap makanan yang tersedia. Malam itu menu yang dihidangkan adalah kelak kuning, ayam goreng, tahu, ikan, udang dan sambal.


Kelak kuning terdiri dari ayam dan labu yang diberi kuah bumbu kuning. Dimasak dengan tambahan cabe hijau sehingga rasa kelak kuning ini pedas-pedas nikmat.

Kelak Kuning
Sebelum makan, jangan berani-berani langsung menyantap makanan. Sebab ada ritual wajib bagi para blogger selain berdoa, yakni foto makanannya. Hal ini menjadi penting, demi menulis di blog tercinta :)

Sumber : adventurose [dot] com
Perlu waktu beberapa menit untuk memotret makanan. Lepas itu, kami harus sabar sedikit sebab kami pun harus berfoto di saat makanan belum ludes dimakan.

Sumber : adventurose [dot] com
Selepas pemotretan, waktu yang dinantikan pun tiba. Makan-makan! Rasanya nikmat sekali setelah menyusuri kawasan gili di Lombok Timur, kami menikmati makanan yang rasanya pedas-pedas nikmat. Memang ya, Lombok selalu juara dalam urusan makanan.

Perut sudah kenyang dan saatnya bagi kami untuk beristirahat. Meski begitu, saya masih saja penasaran. Seperti apakah rasa sayur kelor yang terkenal itu? Demi menjawab pertanyaan tersebut, agaknya saya harus kembali lagi ke Lombok Timur.

Siapa tahu ada kesempatan lagi.

Tak ada yang tahu, bukan? :)



Warung Kelor 
Jl. K.H. Ahmad Dahlan, Pancor, Lombok Timur


***

Tulisan ini merupakan catatan perjalanan Travel Writers Gathering 2015 bersama Badan Promosi Pariwisata Daerah Nusa Tenggara Barat. Tulisan lain dalam rangkaian TW Gathering adalah sebagai berikut :

3. Jelajah Kuliner Sasak : Kelor di Pancor


~Ijaah~

Jelajah Kuliner Lombok : Lesehan Raja Taliwang

6 comments:
Mencicipi kuliner khas suatu daerah adalah menjadi sebuah keharusan. Dan apabila ditanyakan mengenai kuliner khas Lombok yang paling mahsyur, ayam taliwang adalah jawabannya.

Taliwang adalah nama sebuah daerah di Lombok, yakni Karang Taliwang. Di sanalah untuk yang pertama kalinya, H. Moerad dan istrinya Salmah memperkenalkan ayam taliwang. Meski keduanya merupakan pelopor ayam taliwang, hal ini tak lantas membuat H. Moerad mematenkan masakannya. Beliau beranggapan bahwa dengan mematenkan ayam taliwang, pintu rezeki orang lain akan tertutup. Orang lain boleh saja menggunakan nama yang sama, namun pasti akan ada perbedaan dari segi rasa. Oleh sebab itu, saat ini dengan mudah kita temukan penjual ayam taliwang di dalam maupun luar Lombok.

Baca juga : Lombok Sumbawa World Travel Writers Gathering 2014 : Malam Ramah Tamah Bersama BPPD NTB

Malam pertama di Lombok, Mas Teguh mengajak seluruh peserta TW Gathering dinner di Lesehan Raja Taliwang. Ada dua pilihan tempat di rumah makan ini : makan sambil lesehan di berugak atau makan sambil duduk di kursi (seperti pada umumnya). Kami sepakat memilih berugak sebagai tempat untuk makan. Ini adalah pertama kalinya aku makan ayam taliwang sambil lesehan.


Oleh sebab datang pada malam hari, kami tidak dapat menikmati keindahan sawah nan hijau di tempat ini. Kami hanya bisa merasakan semilir angin malam yang sesekali berhembus.

Lalu, apa saja makanan yang kami pesan di Raja Taliwang?

  • Ayam Taliwang
Ayam yang digunakan untuk membuat ayam taliwang haruslah ayam kampung berusia muda (3-5 bulan). Ayam taliwang biasa dimasak dengan cara digoreng, dibakar atau dipanggang. Ciri khas ayam taliwang adalah bumbu pelalah yang pedas.

  • Plecing Kangkung
Plecing kangkung terdiri dari kangkung rebus yang dicampur dengan sambal tomat. Kangkung yang dimaksud adalah kangkung Lombok (tangkainya tebal). Sedang sambal tomat terdiri dari tomat, cabe rawit, terasi Lombok (ini enak banget!) dan garam. Biasanya ditambahkan tauge, kacang dan jeruk limau yang semakin membuat plecing kangkung semakin segar. Slurrp!
  • Beberoq Terong
Beberoq atau beberuk terong semakin menyegarkan santapan malam kami. Rasanya yang pedas, asam, asin dan segar semakin membuat kami lahap. Nikmat!
  • Bebalung
Bebalung terdiri dari iga sapi atau kambing yang dicampur racikan bumbu cabe rawit, bawang putih, bawang merah, kunyit, jahe dan lengkuas. Yang nikmat dari Bebalung ini adalah tekstur daging dan iga yang empuk. Semakin sedap rasanya saat menyeruput sisa iga dari sela-sela tulang. Lezat!

  • Sambal Mangga
Jangan sampai lupa memesan sambal mangga di Raja Taliwang sebab sambal mangga ini sangatlah lezat. Bahkan Mba Retno yang notabene bukanlah penyuka pedas mengatakan bahwa sambal mangga di tempat ini sangat lezat. Pesan sambal mangga jika sedang makan di Raja Taliwang ya. Super lezat!

Selain menu di atas, kami memesan terong bakar, ikan dan telur dadar (Pada akhirnya aku tahu siapa yang memesan ikan dan telur dadar. Pasti Kang Ucup : Si Raja Telur dan Si Raja Ikan. LOL)

Itulah beberapa makanan khas Lombok yang kami pesan di Lesehan Raja Taliwang. Semuanya lezat, terutama plecing kangkung dan sambal mangga. Jika hendak berkunjung ke Lombok, silakan mampir ke Lesehan Raja Taliwang. Sebagai saran, datanglah ke tempat ini saat siang atau sore hari. Supaya bisa duduk santai sambil menikmati semilir angin dan melihat keindahan sawah nan hijau.


Lesehan Raja Taliwang
Jl. Ahmad Yani, Lombok, Nusa Tenggara Barat
Instagram : @rajataliwang


***

Tulisan ini merupakan catatan perjalanan Travel Writers Gathering 2015 bersama Badan Promosi Pariwisata Daerah Nusa Tenggara Barat. Tulisan lain dalam rangkaian TW Gathering adalah sebagai berikut :

2. Jelajah Kuliner Lombok : Lesehan Raja Taliwang


~Ijaah~

Travel Writers Gathering, Aku Kembali!

7 comments:
Tamu-tamu kami yang terhormat. Baru saja kami mendapatkan pemberitahuan dari pihak otoritas Bandara Internasional Lombok bahwa pembersihan landasan pacu dari abu vulkanik anak Rinjani masih berlangsung, dan diprediksi akan berlangsung hingga Rabu, 11 November 2015.

Aku terkesiap. Kabar itu datang pada tanggal 9 November, sehari sebelum keberangkatanku ke Lombok. Mas Teguh, selaku panitia Travel Writers Gathering 2015, memberitahuku untuk segera mengubah jadwal penerbangan PP. Urusan itu mudah saja bagiku. Yang memberatkan adalah cuti yang sudah terlanjur kuajukan. Dapatkah aku mengubahnya?

Zahra, Rinjani kan sedang 'meradang', kamu tetap pergi ke Lombok?"

Aku mengangguk mantap. Sebenarnya pertanyaan tersebut sempat terlintas dalam benakku. Dengan segera kutanyakan perihal itu pada Mas Teguh. Ia mengatakan bahwa Lombok aman, Lombok baik-baik saja.

Dengan segala perjuangan, perubahan izin cuti telah kugenggam dengan erat. Travel Writers Gathering, aku kembali padamu! :)

Travel Writers Gathering 2015

Pesawat mendarat dengan mulus di landasan pacu BIL Praya. Ini adalah hari pertama pembukaan bandara setelah ditutup karena pembersihan landasan pacu. Kondisi bandara normal seperti biasa, sama saja seperti kunjunganku sebelumya. Debu vulkanik? Aku tak menghirupnya sama sekali. Belakangan baru kutahu bahwa debu vulkanik Barujari melaju ke arah barat.

Mas Teguh menjemputku sore itu. Ia dan empat peserta TW Gathering lainnya telah menungguku sejak siang. Mereka adalah Indri Juwono, Adie Riyanto, Yusuf Nugraha dan Lutfi Retno Wahyudyanti. Sejak menyapa mereka untuk pertama kali, aku sudah tahu bahwa perjalananku di Lombok kali ini akan sangat menyenangkan. Hey, mereka orangnya seru-seru!

Ada peserta yang sudah ada di hotel, namanya Subhan. Nanti malam Pungky dan Maisya baru sampai di Lombok. Sedang Ikhsan besok subuh. Dian dari Batam sepertinya akan menyusul acara jalan-jalan besok, karena pesawatnya besok pagi dari Batam dan masih harus transit di Surabaya.

Tunggu... Pungky? Maisya?

Pungky Prayitno? Maisya Farhati?

Mas Teguh mengiyakan pertanyaan retorik-ku. Dengan segera senyumku melengkung sempurna. Dua blogger yang blog-nya sering kubaca itu, akan berada satu perjalanan denganku. Sempurna sudah hari itu menjadi hari yang sangat menyenangkan. Aku bertemu dan belajar dari orang-orang yang hebat. Asyik!

Peserta Travel Writers Gathering 2015. Sumber : adventurose [dot] com

Selama perjalanan aku mendapat banyak sekali ilmu. Ilmu tentang dunia blogging, mengupayakan ketekunan, selalu yakin dan taat pada Gusti dan berbudi baik pada sesama. Pertemuan dengan mereka semakin menyadarkanku bahwa nilai sebuah kesuksesan ditempuh dengan jalan yang tak mudah. Ada upaya-upaya teknis maupun spiritual yang membawa si empunya mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri lebih luas.

Aku belajar banyak tentang ketekunan dari Indri JuwonoPadanya aku bercerita bahwa aku masih saja mengandalkan mood saat menulis. Ia lalu menceritakan tentang kisah travel blogger lain yang rela meninggalkan waktu istirahatnya untuk menulis, rela bangun pagi buta untuk bercerita di dunia maya. Ia sendiri merupakan seorang arsitek sekaligus travel writer. Bisa dibayangkan betapa sibuknya hari-hari yang ia lalui, tapi tak mau kalah dengan keadaan. Tulisan-tulisan di blog pribadinya sungguh berbobot, kaya akan diksi. Sungguh terlihat bahwa ia bukanlah seorang penulis asal-asalan. Ada hati, keyakinan, juga ketekunan dalam rasa tulisannya.

Dian Radiata a.k.a Dee An. Aku pertama kali mengenalnya dari buku antologi Love Journey. Setelah mulai aktif di dunia blogging, aku diberi kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat. Sudah lama berinteraksi di dunia maya, akhirnya aku bertemu dengannya di Travel Writers Gathering. Senang bukan kepalang tentu saja. Ia juga aktif menulis di media, di sela-sela profesinya sebagai seorang insinyur dan seorang ibu. Luar biasa!

Lutfi Retno Wahyudyanti. Cerdas, itulah kesan pertamaku padanya. Saat berbincang, aku dikejutkan dengan kisah perjalanannya di berbagai penjuru Nusantara. Ia juga merupakan seorang film dokumenter dan pernah menjadi finalis Eagle Award. Apa lagi yang bisa kugambarkan selain bahagia karena dipertemukan dengan wanita cerdas seperti dirinya?

Maisya Farhati. Ah, rasanya senang sekali bisa dipertemukan dengan ia yang tulisannya seringkali kubaca. Aku terkagum-kagum pada perjalanannya di Benua Biru, Korea Utara, Asia Tenggara dan lainnya. Kisah cintanya pun sangat menarik. Tak ada rasa bosan untuk membaca tulisannya karena dikemas dengan sangat menarik. Pada awal berkenalan, sosok perempuan ini terlihat sangat pendiam. Tapi lama-lama aku mengerti bahwa diamnya hanyalah di permukaan. Aslinya? Ketemu sendiri saja ya! :D

Pungky Prayitno. Bagi para blogger yang tergabung dalam Komuntas Emak Blogger, pasti mengenal nama Pungky a.k.a Pevita. Sederet prestasi di dunia blogging sudah banyak diraih oleh ibu satu anak ini. Tulisannya seringkali membuatku terbahak, namun ajaibnya menyimpan makna yang begitu dalam. Hal yang paling kuingat dari Pungky adalah keyakinannya yang sangat kuat pada Gusti dan impiannya. Sehingga pada saat berbincang dengannya maupun membaca tulisannya, - disela canda tentu saja- selalu terselip kalimat pengingat untuk selalu bersyukur dan yakin pada Gusti. Tiada yang lain.

Adie Riyanto. Lelaki yang kami juluki Aurel ini memiliki kemampuan menulis yang sangat baik. Tulisannya kaya diksi dan memiliki rima. Aku harus membuka aplikasi KBBI beberapa kali pada saat membaca tulisannya. Lelaki lulusan STAN ini banyak sekali membaca buku. Itulah yang membuat tulisannya sangat kaya. Di luar kemampuan menulisnya yang baik, lelaki ini memilik kadar narsis yang luar biasa. Hal ini acapkali membuatku meringis sekaligus tertawa. Bolehlah kalian melihat koleksi foto dalam akun instagramnya. Pesan saya, jangan kaget ya! :D

Yusuf Nugraha a.k.a Iqbal. Lelaki berbadan kekar ini rupanya menyimpan sejuta canda. Satu saja kata atau bahkan gumam yang keluar dari mulutnya, bisa menimbulkan tawa. Meski sangat jenaka, blog maupun akun instagramnya dikemas dengan serius dan berbahasa Inggris. Ia pun merupakan blogger yang paling getol membuat video perjalanan. Kalian bisa melihat video hasil karyanya dalam postingan ini.

Subhan Azharullah. Tidak begitu banyak waktu yang kami habiskan bersama Subhan, sebab ia harus kembali ke Sumbawa di tengah-tengah perjalanan TW Gathering 2015. Meski begitu aku tahu bahwa ia merupakan blogger yang aktif dan pernah mengikuti Newmont Bootcamp. Ada kemiripan antara Subhan dan aku yakni sama-sama pecinta makanan pedas. Maka kuliner Lombok merupakan sumber kebahagiaan bagi kami. Enak dan sangat pedas!

Ikhsan Anugrah a.k.a Aliando merupakan peserta terimut dalam perjalanan kali ini. Dede Ikhsan adalah putera Sumbawa, sama seperti Subhan. Parasnya yang kiyut membuat hasil foto perjalanan menjadi lebih segar. Aku paling suka melihat koleksi foto dede Ikhsan di akun instagramnya. Ia seringkali mengunggah foto dengan kualitas yang baik tentang keindahan alam Sumbawa. 

Karakter yang berbeda membawa pelangi kebahagiaan dalam perjalanan ini. Hal yang membuat kami bersama adalah kesukaan kami pada menulis dan membaca. Saling berbincang, bertukar ilmu dan memberi masukan buku apa saja yang harus dibaca. Semua hal yang kami bicarakan membawa kebahagiaan dan ilmu. Benar adanya bahwa persahabatan itu sangatlah berharga.


Sumber : tindaktandukarsitek [dot] com

Mas Teguh, katanya TW Gathering kali ini mengundang media ya. Dari media mana saja?

Ada dari Kompas. Tapi karena perubahan jadwal yang disebabkan aktivitas vulkanik Barujari, mereka tidak bisa ikut.

Sangat disayangkan. Jika saja pihak media tetap hadir dalam TW Gathering ini, aku akan menjadi seorang penanya yang cerewet. Meski tidak bertemu dengan pihak media, Tuhan memberikan kejutan lain padaku yakni bertemu dengan blogger-blogger yang aduhai hebat nian!

Travel Writers Gathering 2015 membawa para peserta menjelajahi potensi wisata Lombok yang belum banyak dikunjungi wisatawan. Kami diperkenalkan pada keindahan gili-gili di Tanjung Luar, desa adat dan kuliner khas Sembalun, trekking ke Pergasingan, belajar sejarah peninggalan Bali di Lombok serta menjelajahi keindahan Gili Kenawa dan Paserang di Sumbawa. Sebuah perjalanan yang semakin meyakinkan bahwa Lombok Sumbawa sangatlah indah.

 

Ada satu kalimat yang kupegang teguh yakni belajar adalah di manapun. Bagiku TW Gathering adalah tempat untuk belajar, sarana bagiku untuk bertemu dengan sesama blogger yang memiliki minat yang sama, wadah bagiku untuk menyerap semua informasi baik, juga tahap bagiku menuju gemilang.

Ini adalah kisah keduaku bersama Travel Writers Gathering. Sebuah wadah yang membawaku pada jaringan pertemanan yang lebih luas.

Matur tampiasih!



***

Tulisan ini merupakan catatan perjalanan Travel Writers Gathering 2015 bersama Badan Promosi Pariwisata Daerah Nusa Tenggara Barat. Tulisan lain dalam rangkaian TW Gathering adalah sebagai berikut :

1. Travel Writers Gathering, Aku Kembali!


~Ijaah~

Perjuangan Panjang di Balik Film Bait Surau

14 comments:


Bait Surau. Mendengar namanya saja sudah membuatku penasaran. Apakah pesan yang hendak disampaikan film ini? Maka pada saat mengetahui undangan nonton film Bait Surau gratis dan berjumpa dengan salah satu pemainnya (Ihsan Tarore), saya langsung mengatakan YA.

Acara dimulai dengan meet and greet bersama Ihsan dan Anita Aulia (produser film Bait Surau). Ternyata, apa-apa yang disampaikan Ihsan dan Bu Anita sungguh mencengangkan. Ada cobaan berat yang nyaris memutus harapan para kru dan pemain film ini. Namun mereka berupaya bangkit sehingga pada akhirnya Bait Surau bisa dinikmati oleh khalayak umum.

Teh Astri Nurdin bahkan sampai menitikkan air mata pada saat mengetahui bahwa pada akhirnya film ini bisa tayang di bioskop.

Bait Surau merupakan film pertama yang diproduksi oleh Two Synergy Publisher dan merupakan adaptasi dari novel dengan judul serupa karya Rakha Wahyu dan Yus R Ismail. Film ini diproduksi pada tahun 2012, sebelum Ihsan Tarore bermain dalam film 9 Summer 10 Autumn. Perlu waktu selama 3 tahun hingga akhirnya Bait Surau sampai ke publik karena ada sebuah kejadian memilukan yang menimpa keluarga besar Two Synergy Publisher.
k e b a k a r a n . . .
Kantor produksi yang berisi kepingan film Bait Surau itu terbakar! Kejadian itu terjadi pada bulan Ramadhan tahun 2012. Proses pembuatan film yang sudah hampir selesai itu terhambat. Para kru Synergy nyaris patah semangat dan sedih, apalagi film ini adalah film perdana mereka.

Terkadang mensyukuri lebih berat daripada menerima. Itulah pesan yang hendak disampaikan oleh film ini. Dengan seluruh perjuangan yang dialami keluarga besar Synergy Publisher, juga jalan cerita dalam film Bait Surau, film ini berpesan akan pentingnya syukur dalam menerima setiap episode kehidupan.

Para kru film berbenah dan mulai menyusun kembali kepingan itu menjadi cerita yang utuh. Meski ada beberapa bagian yang hilang, Synergy merasa tak perlu melakukan syuting ulang.

Setelah mengalami musibah yang luar biasa berat serta menempuh perjuangan yang melelahkan, film Bait Surau berhasil menemui penikmatnya pada Oktober 2015. Untuk mensyukuri lahirnya film ini, 2.5% keuntungan film disumbangkan bagi pembangunan surau-surau di pelosok tanah air.


Review Bait Surau

Film ini berkisah tentang pencarian jati diri seorang Rommy (Rio Dewanto). Rommy adalah sosok lelaki yang terbiasa hidup bergelimang harta, juga suami yang tidak memperlakukan istrinya dengan baik. Acapkali Rommy melontarkan kata-kata kasar serta pukulan keras pada istrinya. Padahal, Nadia istrinya adalah sosok istri yang penuh dedikasi, selalu patuh pada suaminya.

Cara pandang hidup Rommy berubah drastis pada saat istrinya wafat. Pada saat itu ia menyadari bahwa istrinya adalah wanita terbaik yang ia miliki. Untuk mengobati luka hatinya, Rommy menempuh perjalanan jauh menuju desa terpecil demi bertemu dengan Ramdhan (Ihsan Tarore), mantan karyawannya.

Oleh Ramdhan dan ayahnya (Cok Simbara), Rommy diajak untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Meski awalnya Rommy merasa enggan karena ketidaktahuannya, pada akhirnya Rommy semakin giat melaksanakan ibadah. Selain itu, film ini juga dibumbui oleh kisah cinta. Rasa cinta Rommy pada istrinya. Juga ketertarikan Siti (Astri Nurdin) kepada Rommy, kakak Ramdhan yang meski bisu dan tuli, memiliki kecantikan alami dengan jilbab yang melekat di kepalanya.

Secara umum film ini menyampaikan pesan penting tentang kehidupan : kesyukuran. Namun ada satu hal penting yang menurut saya kurang tersampaikan, yakni keterkaitan antara Rommy dengan surau. Meski memang ada bagian di mana Rommy sedang berada di surau dan membangun surau, benang merah antara keduanya kurang tersampaikan. Saya mengira barangkali ada potongan adegan yang hilang dalam musibah kebakaran yang menimpa Synergy.

Lepas dari kelebihan dan kekurangan film ini, saya memberi apresiasi tinggi kepada para kru serta pemain atas perjuangan, semangat dan keberanian mereka sehingga film ini pada akhirnya lahir dan bisa dinikmati oleh banyak orang. Saya juga berharap karya Synergy ke depannya bisa lebih baik lagi.

Semangat terus sineas Indonesia. Selamat berkarya!


~ Ijaah ~

Follow me on Instagram