Tuesday, November 3, 2015

Perjuangan Panjang di Balik Film Bait Surau



Bait Surau. Mendengar namanya saja sudah membuatku penasaran. Apakah pesan yang hendak disampaikan film ini? Maka pada saat mengetahui undangan nonton film Bait Surau gratis dan berjumpa dengan salah satu pemainnya (Ihsan Tarore), saya langsung mengatakan YA.

Acara dimulai dengan meet and greet bersama Ihsan dan Anita Aulia (produser film Bait Surau). Ternyata, apa-apa yang disampaikan Ihsan dan Bu Anita sungguh mencengangkan. Ada cobaan berat yang nyaris memutus harapan para kru dan pemain film ini. Namun mereka berupaya bangkit sehingga pada akhirnya Bait Surau bisa dinikmati oleh khalayak umum.

Teh Astri Nurdin bahkan sampai menitikkan air mata pada saat mengetahui bahwa pada akhirnya film ini bisa tayang di bioskop.

Bait Surau merupakan film pertama yang diproduksi oleh Two Synergy Publisher dan merupakan adaptasi dari novel dengan judul serupa karya Rakha Wahyu dan Yus R Ismail. Film ini diproduksi pada tahun 2012, sebelum Ihsan Tarore bermain dalam film 9 Summer 10 Autumn. Perlu waktu selama 3 tahun hingga akhirnya Bait Surau sampai ke publik karena ada sebuah kejadian memilukan yang menimpa keluarga besar Two Synergy Publisher.
k e b a k a r a n . . .
Kantor produksi yang berisi kepingan film Bait Surau itu terbakar! Kejadian itu terjadi pada bulan Ramadhan tahun 2012. Proses pembuatan film yang sudah hampir selesai itu terhambat. Para kru Synergy nyaris patah semangat dan sedih, apalagi film ini adalah film perdana mereka.

Terkadang mensyukuri lebih berat daripada menerima. Itulah pesan yang hendak disampaikan oleh film ini. Dengan seluruh perjuangan yang dialami keluarga besar Synergy Publisher, juga jalan cerita dalam film Bait Surau, film ini berpesan akan pentingnya syukur dalam menerima setiap episode kehidupan.

Para kru film berbenah dan mulai menyusun kembali kepingan itu menjadi cerita yang utuh. Meski ada beberapa bagian yang hilang, Synergy merasa tak perlu melakukan syuting ulang.

Setelah mengalami musibah yang luar biasa berat serta menempuh perjuangan yang melelahkan, film Bait Surau berhasil menemui penikmatnya pada Oktober 2015. Untuk mensyukuri lahirnya film ini, 2.5% keuntungan film disumbangkan bagi pembangunan surau-surau di pelosok tanah air.


Review Bait Surau

Film ini berkisah tentang pencarian jati diri seorang Rommy (Rio Dewanto). Rommy adalah sosok lelaki yang terbiasa hidup bergelimang harta, juga suami yang tidak memperlakukan istrinya dengan baik. Acapkali Rommy melontarkan kata-kata kasar serta pukulan keras pada istrinya. Padahal, Nadia istrinya adalah sosok istri yang penuh dedikasi, selalu patuh pada suaminya.

Cara pandang hidup Rommy berubah drastis pada saat istrinya wafat. Pada saat itu ia menyadari bahwa istrinya adalah wanita terbaik yang ia miliki. Untuk mengobati luka hatinya, Rommy menempuh perjalanan jauh menuju desa terpecil demi bertemu dengan Ramdhan (Ihsan Tarore), mantan karyawannya.

Oleh Ramdhan dan ayahnya (Cok Simbara), Rommy diajak untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhan. Meski awalnya Rommy merasa enggan karena ketidaktahuannya, pada akhirnya Rommy semakin giat melaksanakan ibadah. Selain itu, film ini juga dibumbui oleh kisah cinta. Rasa cinta Rommy pada istrinya. Juga ketertarikan Siti (Astri Nurdin) kepada Rommy, kakak Ramdhan yang meski bisu dan tuli, memiliki kecantikan alami dengan jilbab yang melekat di kepalanya.

Secara umum film ini menyampaikan pesan penting tentang kehidupan : kesyukuran. Namun ada satu hal penting yang menurut saya kurang tersampaikan, yakni keterkaitan antara Rommy dengan surau. Meski memang ada bagian di mana Rommy sedang berada di surau dan membangun surau, benang merah antara keduanya kurang tersampaikan. Saya mengira barangkali ada potongan adegan yang hilang dalam musibah kebakaran yang menimpa Synergy.

Lepas dari kelebihan dan kekurangan film ini, saya memberi apresiasi tinggi kepada para kru serta pemain atas perjuangan, semangat dan keberanian mereka sehingga film ini pada akhirnya lahir dan bisa dinikmati oleh banyak orang. Saya juga berharap karya Synergy ke depannya bisa lebih baik lagi.

Semangat terus sineas Indonesia. Selamat berkarya!


~ Ijaah ~

16 comments :

  1. Semoga film2 yang kualitas "islam"nya bagus kayak gini bisa terus berkembang. Sehingga menggeser film2 karya bang H

    ReplyDelete
  2. Hatur nuhun tulisannya teh..
    Sukses :)

    ReplyDelete
  3. terharu, tapi sedikit ikut kecewa karena ada something yang belum tersampaikan padahal aku juga belum nonton. hehe. thanks teteh ijah sudah berbagi infonya ^_^

    ReplyDelete
  4. Memang, tak ada yang bisa berlari dari petaka, Tapi semangatlah yang terus membuat kit melangkah. Mungkin begitulah Hidup. Belum nonton filmnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup. Itulah pelajaran indah yang bisa diambil dari perjuangan di balik film ini :)

      Delete
  5. Ah sedih juga perjuangannya... Kalau aku trmasuk salah satu kru nya, pasti down banget saat itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benaaar banget Sof. Kru film ini kuat semua dari segi mental maupun fisik. Hebat!

      Delete
  6. Perjuangan kru nya luar biasa, tapi aku belum nonton filmnya. Oh ya Zahra selamat milad ya, barakallahu fii umriki :)

    ReplyDelete
  7. gak mau nonton ah sediihhh :(
    nanti aku baper

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung di Ijaah. Silakan tinggalkan komentar di bawah ini :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...