Monday, December 28, 2015

Ulasan Film Bulan Terbelah di Langit Amerika



Bulan Terbelah di Langit Amerika
2015
Produksi : Maxima Pictures
Sutradara : Rizal Mantovani
Penulis Skenario : Hanum Rais dan Rangga Almahendra
Pemain : Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Rianti Cartwright, Nino Fernandez, Hannah Al-Rasyid


Would the world be better without Islam?
Itulah pertanyaan sekaligus tugas reportase yang membawa Hanum (Acha) ke kota Big Apple. Demi menjawab pertanyaan tersebut, Hanum diharuskan mendekati Azima Husein (Rianti) yang merupakan istri dari terduga teroris 9/11. Sedangkan Rangga (Abimana), sang suami, secara kebetulan ditugaskan ke New York oleh Profesor untuk mewawancarai seorang milyuner dan filantropi Amerika Serikat bernama Philiphus Brown, sebagai bahan pelengkap persyaratan S3-nya.

Azima Husein

Hanum dan Rangga tinggal di apartemen milik Stefan (Nino) dan kekasihnya Jasmine (Hannah). Stefan membantu Rangga untuk mendapatkan kesempatan mewawancarai Brown, sedang Jasmine membantu Hanum untuk bertemu Azima Husein a.k.a Julia Collins. Perjuangan Hanum untuk mewawancarai Julia bukanlah perkara mudah. Julia sangatlah tertutup pada media dan tidak ingin ketenangan keluarganya terganggu. Namun oleh sebab kesabaran Hanum, pada akhirnya Julia bersedia menerima Hanum.

Kedatangan Hanum dan Rangga di Amerika bertepatan dengan rencana pembangunan Masjid di kawasan Ground Zero. Tentu saja hal ini ditentang oleh para demonstran Anti-Islam. Pemimpin demonstran ini adalah Michael Jones, seorang pria tegas yang kehilangan istrinya akibat serangan 9/11.
Muslim menjadi pembunuh dan membuat kehancuran di seluruh dunia!
 Hanum yang juga meliput demonstrasi itu berseru lantang.
Mengapa patung Muhammad ada di Gedung Mahkamah AS kalau bukan Islam membawa keadilan?
Jones tersentak. Demonstrasi ini pada akhirnya ricuh dan membawa petualangan Hanum dan Rangga begitu menegangkan.

Hanum dan Sarah Collins. Sumber : Kompasiana

Kedatangan Hanum dan Rangga dengan misi yang berbeda ini, rupanya membentuk jalinan kisah yang indah. Pada akhirnya cerita ini ditutup dengan terbukanya kebenaran yang diutarakan oleh Philipus Brown mengenai suami Azima dan istri Jones yang ternyata saling berkaitan. Selain itu, Azima Husein mendapatkan kembali kebanggaannya sebagai seorang muslim.

Saya menilai film ini cukup baik. Saya agak terganggu dengan akting Rianti yang saya nilai kurang maksimal dan menyentuh, adegan marah Acha pada Abimana yang terlalu galak, dan kelucuan Stefen yang garing. Selain itu, padanan lagu dan dialog pada saat Hanum dan Rangga bertengkar kemudian berbaikan, dirasa kurang pas.

Meski begitu, film ini layak untuk ditonton. Salah satu pesan yang dibawa film ini adalah Islam bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Islam adalah pembawa kedamaian.

Akhir kata, saya melihat film ini adalah film kemanusiaan. Kisah tentang hilangnya kebanggaan muslim pada agamanya, kisah tentang jati diri muslim yang terinjak-injak oleh isu terorisme. Namun semua ketakutan pada Islam itu, diakhiri dengan kisah manis, bahwa islam bukanlah terorisme, islam ada rahmatan lil'alamin.


Dalam keyakinan saya, semua orang akan mati tapi amalan akan hidup selamanya.  - BTLA


~ijaah~

5 comments :

  1. film ini tampak bagus, bintangnya juga cantik cantik hihihih

    ReplyDelete
  2. Uaaa... ada Abimanaaaa, jadi pengen nonton... tapi lebih pengen nonton Ngenest XD

    ReplyDelete
  3. Aku suka... novelnyaaa....
    :D

    Tapi dah nuntun juga siiiih.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung di Ijaah. Silakan tinggalkan komentar di bawah ini :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...