Saturday, January 30, 2016

Memanjakan Perut dan Mata di Cafe D'Pakar Bandung

Sumber di sini

Bandung dilingkung gunung…
Bandung sumirat maratan jagat… 
Topografi Bandung yang dikelilingi pegunungan dan perbukitan mempunyai magnet tersendiri. Banyak wisatawan lokal maupun asing yang sengaja melipir ke Bandung untuk menikmati sajian udara segar serta pemandangan yang asri. Ada banyak tempat, cafe atau restoran di dataran tinggi Bandung yang menyajikan keindahan alam maupun kota Bandung secara keseluruhan.

Kawah Putih : Ada Keindahan, Ada Misteri

Jika ada yang bertanya tentang tempat wisata yang wajib dikunjungi selama di Bandung, Kawah Putih adalah jawabannya. Wanawisata yang terletak pada ketinggian 2.434 mdpl di selatan Bandung ini menawarkan keajaiban alam yang memesona : danau berwarna putih kehijauan yang kontras dengan bebatuan putih yang mengitari danau tersebut. Ada pula pepohonan kering dan tebing batu kapur berwarna kelabu yang ditumbuhi lumut dan berbagai tumbuhan lainnya di sebelah utara danau. Jika biasanya kita akan mendelik ngeri saat mendekati kawah, hal tersebut tidak berlaku pada Kawah Putih ini.

Kawah Putih terbentuk akibat meletusnya Gunung Patuha yang oleh masyarakat Ciwidey dianggap sebagai gunung yang tertua. Konon, Patuha diambil dari nama Pak Tua (sepuh). Oleh sebab itu masyarakat seringkali menyebutnya dengan sebutan Gunung Sepuh. Lebih dari seabad yang lalu, Gunung Patuha dianggap angker oleh masyarakat setempat. Apa pasal?

Indahnya Sukulen di Rumah Bunga Rizal Lembang

Jika sudah memasuki akhir pekan, Bandung selalu dipadati wisatawan. Jalanan di ibu kota provinsi Jawa Barat ini begitu ramai. Salah satu tempat yang menarik wisatawan untuk datang ke Bandung adalah Lembang. Letaknya yang berada di atas kota Bandung membuat banyak wisatawan ingin melepas penat dengan kesejukan alam yang dipunya. Ada banyak tempat wisata di seputaran Lembang, namun kali ini saya hendak bercerita mengenai keindahan sukulen yang ada di Rumah Bunga Rizal.
Sukulen? Apakah itu?
Sukulen adalah istilah untuk sekelompok tanaman yang memiliki karakteristik salah satu atau lebih dari bagian tubuhnya yang dapat menyimpan air. Tentu dalam bayangan saya, teringat bahwa karakter semacam ini dimiliki juga oleh kaktus. Namun semua jenis kaktus adalah sukulen, tapi tidak semua sukulen adalah kaktus.

Belajar dari Ibu Nasi Kuning

Setiap pagi, ada penjual nasi kuning gerobak yang lewat depan rumah. Suara nyaring nan bulat itu terdengar di setiap pagi. Namun, tak pernah sekalipun aku melihatnya lewat. Tak tertarik! Hatiku telah tertambat oleh penjual nasi kuning yang ada di jl. Tata Surya. Rasa nasi kuningnya enak sekali. Buatku tak mau beli nasi kuning di tempat lain. Tapi entahlah, pagi itu kuputuskan untuk membeli nasi kuning gerobak itu. Sekalian pengen kenalan sama penjualnya.

Suara nyaring nan bulat yang kukira kelaki-lakian itu, ternyata berasal dari suara seorang wanita paruh baya. Coba teman-teman bayangkan, wanita yang masa usianya telah senja, mendorong gerobak nasi. Berkeliling komplek untuk menuai rizki dari Tuhan. Aku malu! Malu akan diri ini. Baru genap 24 tahun usiaku, namun semangat dan daya juangku mudah tergerus.

Friday, January 29, 2016

Books For Beach di Gili Sudak

Gili Sudak

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Bertasbih dan memuji Tuhan atas keindahan yang kulihat pagi itu. Betapa karya yang agung, menyentuh hati tiap diri untuk mengingat padaNya. Bayangkan saja, pasir pantai putih nan halus, batu karang kokoh sempurna serta gelombang laut yang menenangkan. Dan tengoklah gradasi warna air laut itu: biru muda, hijau dan biru tua, indah tak terkira! Aku rasa bidikan lensa kamera canggih manapun takkan mampu menyaingi apa yang kulihat dengan lensa mataku. Sempurna luar biasa.

Bacalah! Kau dan Aku akan banyak tahu.

" Tapi aku tahu, seberapa banyak aku membaca seumur hidupku, aku tak akan pernah mampu membaca sepermiliar dari seluruh kalimat yang tertuliskan. Karena di dunia ini terdapat begitu banyak kalimat seperti banyaknya bintang di langit sana. Dan kalimat-kalimat akan selalu bertambah dan akan menjadi semakin banyak sepanjang waktu, laksana sebuah ruang yang tidak pernah berujung. Namun, pada saat itu aku pun tahu bahwa setiap kali membuka sebuah buku, aku akan bisa memandang sepetak langit. Dan jika membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan luas."

Jostein Gaarder - Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Thursday, January 28, 2016

2015 : Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti

Sungguh, tiada yang pernah tahu tentang bagaimana jalan kisah hidup seseorang di masa depan. Semua begitu misteri, penuh kejutan dan seringkali tak tertebak. Ada kuasa lain yang menggenggam hidup setiap insan. Dialah Tuhan, pemilik seluruh alam raya ini.

Mengawali tahun 2015 dengan penuh suka cita. Pada malam pergantian tahun, aku memilih untuk mendekatkan diri pada Tuhan bersama dengan ratusan manusia lain di Masjid An-Nuur Biofarma. Ada dia di antara kumpulan manusia itu. Dia, lelaki yang kupilih untuk menjadi pasanganku. Saat itu aku begitu yakin bahwa dia akan menjadi suamiku. Ya, kami berencana menikah pada tahun 2015.

Namun rupanya segala benih yang kami tuai tak lagi berbunga. Ada hama, ada hujan badai, ada kemarau. Segala kebahagiaan yang kami rasa telah berganti dengan kepedihan. Sungguh tak menyangka bahwa hal ini akan terjadi pada hubungan baik ini.

Tuesday, January 26, 2016

Beragam Kebaikan di Martabak Tropica Bandung

Martabak 10 Rasa . Foto oleh ijaah [dot] com


Ini kedai martabak?
Itulah pertanyaan pertamaku pada saat memasuki kedai martabak Tropica di Jl. Burangrang. Aku tak menyangka bahwa kedai martabak bisa seluas, sebersih dan seindah ini. Ada lukisan dinding dalam kedai ini yang sangat mencerminkan Bandung, seperti lukisan Gedung Sate, Persib, Masjid Agung Jawa Barat, Monumen Bandung Lautan Api dan lain sebagainya. Selain itu, ada pula jejeran meja dan kursi bagi pengunjung yang hendak makan martabak di tempat. Itulah kesan pertama yang membuatku mengerti bahwa pemilik kedai martabak Tropica ini bukan orang sembarangan. Ia nyata sekali serius dalam mengelola kedai ini.

Kedatanganku dan rekan-rekan blogger ke kedai martabak Tropica adalah untuk bertemu dengan pemilik kedai yaitu Pak Yudi Prasetya. Kami ingin mendengar lebih jauh tentang perjalanan usaha kuliner martabak Tropica yang pamornya saat ini sedang naik di Bandung.

Sunday, January 3, 2016

Ada Apes dan Kelak Batih di Sembalun. Apa Itu?

Meski hanya menghabiskan waktu 1 hari 1 malam di Desa Sembalun, aku begitu terkesan dengan suasana alam desa ini. Bayangan saja, malam itu bintang seakan berjarak begitu dekat. Bintang-bintang itu berkelip dengan jenaka, seolah menggodaku untuk terus memandanginya. Pagi harinya, pemandangan yang pertama kulihat saat keluar penginapan adalah Gunung Rinjani yang berdiri begitu kokoh. Udara yang kuhirup sejuk sekali, dan embun seakan melingkupiku dengan kelembutannya yang sangat. Ah, aku rindu Sembalun.

Aku rindu pada masakan khas Sembalun. Masakan yang bahan-bahannya diambil langsung dari tanah Sembalun yang subur. Dengan hanya berbahan sederhana, putri Sembalun mampu menyulap bahan-bahan itu menjadi masakan yang memanjakan lidah. Ah, aku rindu Sembalun. Rindu pada semua yang ada pada Sembalun.

Aku meminta resep Banteng Ngangaq, Apes dan Kelak Batih kepada Ibunda Mas Riyal. Aku mencatat dalam notes di handphone-ku setiap detail resepnya. Bila ada hal yang terlewatkan, aku sampai berkirim pesan kepada Mas Riyal untuk mengirimkan kembali resep-resep itu. Tujuannya supaya masakanku setidaknya mendekati nikmatnya masakan Ibunda Mas Riyal.

Saturday, January 2, 2016

Banteng Ngangaq : Si Pedas - Pedas Manja Dari Sembalun

Ayam taliwang, plecing kangkung, beberoq adalah kuliner khas Lombok yang namanya sudah masyhur. Di seputaran Mataram, restoran dan kaki lima yang menjual ayam taliwang begitu menjamur. Setiap pelancong yang datang ke Lombok, haruslah mencicipi kuliner khas tersebut. Tapi, pernahkah teman-teman mendengar Banteng Ngangaq?

Tunggu. Ini harus diluruskan. Banteng Ngangaq bukanlah banteng yang ngakak (oke ini gak lucu). Banteng Ngangaq adalah kuliner khas Desa Sembalun. Desa ini letaknya berada di kaki Gunung Rinjani. Saya dan rekan blogger lainnya berkesempatan menikmati kuliner khas Desa Sembalun dalam rangkaian kegiatan Travel Writers Gathering 2015 di Lombok.

Ada enam masakan khas Sembulan yang kami nikmati siang itu. Selain Banteng Ngangaq, ada juga Apes, Kelak Batih, Kelak Sin, Ikan Beloh dan Suberang. Keenam masakan itu dimasak oleh putri Sembalun asli, dan kami menikmati masakan nikmat itu di atas tanah Sembalun. Perpaduan yang sempurna bukan?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...