Memanjakan Perut dan Mata di Cafe D'Pakar Bandung

12 comments:
Sumber di sini

Bandung dilingkung gunung…
Bandung sumirat maratan jagat… 

Topografi Bandung yang dikelilingi pegunungan dan perbukitan mempunyai magnet tersendiri. Banyak wisatawan lokal maupun asing yang sengaja melipir ke Bandung untuk menikmati sajian udara segar serta pemandangan yang asri. Ada banyak tempat, cafe atau restoran di dataran tinggi Bandung yang menyajikan keindahan alam maupun kota Bandung secara keseluruhan.

Sumber di sini

Salah satu tempat yang menawarkan pesona keindahan alam kota Bandung adalah Cafe D’Pakar, Dago. Cafe yang terletak di kawasan Taman Hutan Raya ini terletak tak jauh dari objek wisata Tebing Keraton yang namanya begitu mahsyur belakangan ini. Cafe D’Pakar memiliki perbedaan dengan cafe maupun restoran lain di dataran tinggi Bandung. Jika pada umumnya cafe atau restoran menyajikan pemandangan kota Bandung dari ketinggian, Cafe D’Pakar menawarkan keindahan hutan pinus serta bukit hijau yang memanjakan mata.

Ada dua pilihan tempat di Cafe D’Pakar yaitu indoor dan outdoor. Bagian indoor cafe berupa rumah tradisional yang terbuat dari kayu jati dilengkapi dengan meja dan kursi yang terbuat dari kayu. Di tempat ini pula kalian bisa memesan makanan dan minuman. Sedang bagian outdoor menawarkan pemandangan hutan pinus yang sangat indah. Tempat ini sangat cocok untuk kalian yang ingin melepas penat, menulis, atau berekreasi bersama teman dan keluarga.

Pilihan makanan yang ditawarkan Cafe D’Pakar terbilang standar, yakni roti bakar, mie, nasi goreng, kentang goreng, pisang keju dengan pilihan minuman teh, kopi dan cokelat. Namun hidangan alam yang disajikan benar-benar membuat pengunjung merasa betah dan ingin berlama-lama berada di tempat ini.

Setelah menikmati hidangan, berkelilinglah sejenak di halaman belakang cafe ini. Turunlah melalui untaian tangga menuju tebing dengan keindahan alam yang akan memanjakan mata.

Tangga menuju ketenangan
Ada tangga dan pagar kayu yang bisa kalian gunakan sebagai sarana untuk mengambil gambar. Ada juga spot bangku kayu yang berdampingan dengan pohon, yang merupakan spot teristimewa di tempat ini. Maka jangan heran bila banyak pengunjung yang bergiliran untuk bisa difoto di tempat ini.

Take a deep breath and enjoy!

Cafe D’Pakar juga bisa dijadikan lokasi untuk prewedding. Harga yang ditawarkan yakni Rp. 500.000,- (update Juni 2015). Biaya yang terjangkau dengan keindahan alam yang luar biasa indah.

Untuk kalian yang tertarik untuk datang ke Cafe D’Pakar, baiknya datang pada siang ataupun sore hari. Karena selain waktu tersebut adalah waktu yang tepat untuk menikmati keindahan alam dan mengambil foto, tidak ada penerangan pada akses jalan menuju tempat ini. Selain itu jangan lupa membawa kamera ataupun tongsis. Karena sajian alam yang ditawarkan tempat ini akan membuat tangan kalian gatal jika tidak mengambil foto sebanyak-banyaknya.

***

Cafe D’Pakar Alamat : Desa Ciburial, Dago Pakar, Bandung 
Opening Daily : Selasa – Minggu, jam 11.00 – 18.00


 ~ Ijaah ~

Kawah Putih : Ada Keindahan, Ada Misteri

2 comments:
Jika ada yang bertanya tentang tempat wisata yang wajib dikunjungi selama di Bandung, Kawah Putih adalah jawabannya. Wanawisata yang terletak pada ketinggian 2.434 mdpl di selatan Bandung ini menawarkan keajaiban alam yang memesona : danau berwarna putih kehijauan yang kontras dengan bebatuan putih yang mengitari danau tersebut. Ada pula pepohonan kering dan tebing batu kapur berwarna kelabu yang ditumbuhi lumut dan berbagai tumbuhan lainnya di sebelah utara danau. Jika biasanya kita akan mendelik ngeri saat mendekati kawah, hal tersebut tidak berlaku pada Kawah Putih ini.

Kawah Putih terbentuk akibat meletusnya Gunung Patuha yang oleh masyarakat Ciwidey dianggap sebagai gunung yang tertua. Konon, Patuha diambil dari nama Pak Tua (sepuh). Oleh sebab itu masyarakat seringkali menyebutnya dengan sebutan Gunung Sepuh. Lebih dari seabad yang lalu, Gunung Patuha dianggap angker oleh masyarakat setempat. Apa pasal?

Sumber : ijaah.com

Siapa sangka bahwa di balik keindahannya, Kawah Putih menyimpan cerita penuh misteri. Konon Kawah Putih adalah tempat berkumpulnya roh para leluhur. Bahkan menurut kuncen Abah Karna, terdapat beberapa makam leluhur di Kawah Putih ini seperti Eyang Jaga Satru, Eyang Rangsa Sadana, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Baskom dan Eyang Cambrong. Masyarakat sekitar sesekali melihat (secara gaib) sekumpulan domba berbulu putih (domba lukutan) yang dipercaya sebagai jelmaan dari para leluhur. Puncak Kapuk, -salah satu puncak Gunung Patuha- dipercaya sebagai tempat rapat para leluhur yang dipimpin oleh Eyang Jaga Satru.

Legenda Kawah Putih yang diwariskan dari generasi ke generasi membuat tak seorang pun yang berani mendekati kawasan ini. Hingga pada tahun 1837, datanglah seorang Belanda peranakan Jerman bernama Dr. Franz Wilhelm Junghuhn yang meneliti kawasan ini. Penelitian yang berdasar atas sebuah tanda tanya besar : mengapa tempat ini begitu sunyi dan sepi, bahkan tak ada satupun binatang yang melintas di daerah ini? 

Sumber : ijaah.com

Temuan Dr. Franz Wilhelm ini rupanya adalah sebuah harta karun : danau dan pasir putih dengan kandungan belerang yang melimpah. Kemudian didirikanlah pabrik belerang di kawasan Kawah Putih yang pada jaman Belanda bernama Zwavel Ontgining Kawah Putih. Pada jaman Jepang, usaha pabrik ini dilanjutkan dengan pengawasan militer dan namanya diganti menjadi Kawah Putih Kenzanka Yokoya Ciwidey.

Halo!

Kawah Putih itu Instagram-able banget!, begitu kata anak Instagram. Pengunjung diperbolehkan mengambil foto di mana pun selama tempat tersebut aman. Oya kalian juga dapat mengunjungi Hutan Cantigi dan Goa Belanda yang letaknya berada di kawasan Kawah Putih ini.

Ada beberapa hal yang harus kalian perhatikan selama berkunjung ke Kawah Putih :
  1. Dalam kondisi normal, kunjungan max 15 menit. Dalam kondisi darurat seperti mual, pusing dan tenggorokan kering, segera tinggalkan area kawah. 
  2. Jangan terlalu dekat dengan lumpur kawah. 
  3. Dilarang membuang sampah dalam bentuk apapun ke kawah. 
  4. Awasi putra putri saat berwisata di kawah. 
  5. Makan, merokok di area kawah dapat mengganggu kesehatan. 
  6. Dilarang corat coret (vandalisme) pada fasilitas yang disediakan. 

Meski segala bentuk vandalisme dilarang, tetap saja ada oknum yang melakukannya.
Sumber : ijaah.com

Untuk kalian yang berencana menggunakan kendaraan umum menuju Kawah Putih, berikut informasinya :
  • Dari Terminal Leuwi Panjang naik Bus atau Mini Bus (L300) jurusan Bandung – Ciwidey (berhenti di Terminal Ciwidey). 
  • Dari Terminal Ciwidey naik angkutan umum (angkot) jurusan Ciwidey – Situ Patenggang (warna angkot kuning dan minta turun di gerbang kawah putih) 
  • Dari gerbang menuju lokasi kawah, kalian bisa menempuhnya dengan berjalan sejauh 5 km (bagi penyuka hiking) atau menggunakan ontang-anting dengan biaya sebesar Rp. 15.000,- PP 

Ontang-anting. Sumber : ijaah.com

Biaya masuk ke kawasan Kawah Putih (update Maret 2015) adalah Rp. 18.000,-/orang untuk wisatawan domestik (weekday/weekend) dan Rp. 50.000,-/orang untuk wisatawan mancanegara. Sedangkan untuk prewedding, biaya yang dikenakan sebesar Rp. 500.000,- Kawah Putih ini buka dari pukul 7 pagi hingga 5 sore.

Selain pesona keindahan alam Kawah Putih yang memesona, legenda dan misteri Kawah Putih menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke tempat ini. Bahwa wanawisata ini sangat wajib kalian kunjungi selama di Bandung. Jangan lupa untuk membawa jaket, masker dan kamera untuk mengabadikan gambar.

Jadi kapan main-main ke Kawah Putih? ;)

Girls on crater :o


 ~ Ijaah ~

Indahnya Sukulen di Rumah Bunga Rizal Lembang

2 comments:
Source : here
Jika sudah memasuki akhir pekan, Bandung selalu dipadati wisatawan. Jalanan di ibu kota provinsi Jawa Barat ini begitu ramai. Salah satu tempat yang menarik wisatawan untuk datang ke Bandung adalah Lembang. Letaknya yang berada di atas kota Bandung membuat banyak wisatawan ingin melepas penat dengan kesejukan alam yang dipunya. Ada banyak tempat wisata di seputaran Lembang, namun kali ini saya hendak bercerita mengenai keindahan sukulen yang ada di Rumah Bunga Rizal.

Sukulen? Apakah itu?

Sukulen adalah istilah untuk sekelompok tanaman yang memiliki karakteristik salah satu atau lebih dari bagian tubuhnya yang dapat menyimpan air. Tentu dalam bayangan saya, teringat bahwa karakter semacam ini dimiliki juga oleh kaktus. Namun semua jenis kaktus adalah sukulen, tapi tidak semua sukulen adalah kaktus.

Pada saat memasuki kawasan ini, saya dihadapkan pada pemandangan indah dari berbagai jenis sukulen. Ternyata sukulen tidak hanya berwarna hijau, tapi juga berwarna pink, ungu, kuning, oranye dan lain sebagainya.

Bentuk sukulen pun bermacam-macam. Ada yang bentuknya mekar seperti bunga, ada yang bulat, ada yang panjang pipih dan ada yang penuh duri seperti kaktus yang sering kita lihat pada umumnya. Di tempat ini terdapat juga kaktus yang sangat besar, sangat tinggi dan penuh duri. Melihatnya saja bulu kuduk saya berdiri. Ngeri!


Rumah Bunga Rizal ini berdiri pada tahun 1978. Dulu hanya kaktus yang dibudidayakan oleh tempat ini. Namun kini ada anggrek dan tanaman hias lain. Pada tahun 2002, Rumah Bunga Rizal berbenah dan mengubah konsep dari kebun produksi menjadi kebun wisata. Sehingga kini Rumah Bunga Rizal menjadi tempat yang asyik untuk berekreasi bersama orang-orang tercinta.

Pengunjung diperbolehkan mengambil gambar sesuka hati. Selain kebun yang luas, tempat ini juga menyediakan fasilitas mushola, tempat makan dan kursi-kursi yang nyaman. Jika beruntung, pengunjung dapat berkonsultasi langsung dengan Pak Rizal Djaafarer, pemilik Rumah Bunga Rizal. Untuk konsultasi tidak ada biaya sepeserpun. Pengunjung juga bisa melakukan reservasi untuk acara arisan, reuni atau karyawisata.

Rumah Bunga Rizal menjual berbagai produk kreatif penunjang hobi berkebun seperti batok kelapa, kawat gantung, dan sebagainya. Terdapat pula produk lainnya seperti meja kebun, souvenir tanaman unik, cover pot tempurung kelapa, anggrek dalam cangkang keong dan wadah tanam botol plastik. Kita juga dapat mengikuti kursus budidaya anggrek dan kaktus di tempat ini, lho.

Ada yang sedang kebingungan mencari suvenir untuk pernikahan? Nampaknya kalian bisa mempertimbangkan sukulen sebagai pilihan. Untuk harga pot (kecil) berkisar antara Rp. 3.500 – Rp. 5.000. Namun jika memesan dalam jumlah besar, biayanya dapat disesuaikan.

Jika tidak sedang macet, waktu perjalanan dari pusat kota Lembang ke Rumah Bunga Rizal ini hanya 10 menit. Jadi bila kalian sedang berwisata ke Bandung, mampirlah ke Rumah Bunga Rizal dan kebun bunga lain yang terdapat di sepanjang Jalan Maribaya, Lembang.

Semangat berbahagia, ya! :)

***


Alamat Rumah Bunga Rizal : Jl. Maribaya KM 2,4 Lembang, tepat di sebelah Taman Bunga Begonia
Buka : 7 pagi hingga 4 sore
Biaya : gratis


Sumber : rumahbunga-rizal[dot]com dan visitlembang[dot]com


~ ijaah ~

Belajar dari Ibu Nasi Kuning

1 comment:
Source : here
Setiap pagi, ada penjual nasi kuning gerobak yang lewat depan rumah. Suara nyaring nan bulat itu terdengar di setiap pagi. Namun, tak pernah sekalipun aku melihatnya lewat. Tak tertarik! Hatiku telah tertambat oleh penjual nasi kuning yang ada di jl. Tata Surya. Rasa nasi kuningnya enak sekali. Buatku tak mau beli nasi kuning di tempat lain. Tapi entahlah, pagi itu kuputuskan untuk membeli nasi kuning gerobak itu. Sekalian pengen kenalan sama penjualnya.

Suara nyaring nan bulat yang kukira kelaki-lakian itu, ternyata berasal dari suara seorang wanita paruh baya. Coba teman-teman bayangkan, wanita yang masa usianya telah senja, mendorong gerobak nasi. Berkeliling komplek untuk menuai rizki dari Tuhan. Aku malu! Malu akan diri ini. Baru genap 24 tahun usiaku, namun semangat dan daya juangku mudah tergerus.

Melihatnya pagi itu membuat rasa ingin tahuku mengemuka. Aku ingin bertanya padanya. Ibu tinggal dimana? Asal ibu darimana?

Kata-kata yang merupakan jawaban atas pertanyaanku itu membuatku terdiam. Beliau tinggal tak jauh dari rumahku, masih daerah Manjahlega. Ibu mah tinggalnya masih ngontrak neng, di belakang Asy-Syifa. Udah 15 tahun disitu teh. Asal ibu mah dari Garut. 

Deg!

Malu! Malu! Malu!


Dear ibu,

Kemarin kita jumpa dan saling bertukar sapa. Sebelumnya, maaf atas kelancangan saya bertanya ini itu pada ibu.

Ibu, pagi ini saya mohon izin untuk mengabadikan kisah ibu di catatan hidup saya. Ibu benar-benar mengajari saya tentang arti syukur dan daya juang. Saya merasa tertampar kala melihat semangat ibu. Akhir-akhir ini, kadar syukur saya tergerus keluhan. Tuhan tampaknya ingin mengingatkan saya lewat ibu.

Akhir kata, mungkin ibu tak akan pernah membaca tulisan ini. Namun, kisah ibu terbaca oleh satu, dua atau puluhan teman. Terimakasih ya bu. Semoga rasa syukur dan ikhtiar ibu selama ini Allah berkahi.


Tuhan selalu punya cara untuk mengingatkan setiap hamba-Nya. Saat aku tidak sedang dalam kondisi terbaik untuk menghidupkan hidupku, Dia menghadapkanku pada sebuah kisah yang menyentuh nurani, mengingatkan kembali supaya aku bersyukur.

Tak dipungkiri, kesalahan akan kembali kubuat. Yang kupinta adalah rahmat dari-Nya, supaya aku selalu kembali pada-Nya, ingat pada-Nya, menerima cahaya dari-Nya.

Menghidupkan hidup dengan bersyukur apapun keadaannya, mempersiapkan diri akan kemungkinan terbaik. Hingga nanti kabar baik itu datang pada mereka yang sabar, berserah diri dan bekerja dengan ikhlas.


~Ijaah~

Books For Beach di Gili Sudak

4 comments:
Gili Sudak

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Bertasbih dan memuji Tuhan atas keindahan yang kulihat pagi itu. Betapa karya yang agung, menyentuh hati tiap diri untuk mengingat padaNya. Bayangkan saja, pasir pantai putih nan halus, batu karang kokoh sempurna serta gelombang laut yang menenangkan. Dan tengoklah gradasi warna air laut itu: biru muda, hijau dan biru tua, indah tak terkira! Aku rasa bidikan lensa kamera canggih manapun takkan mampu menyaingi apa yang kulihat dengan lensa mataku. Sempurna luar biasa.

gelombang air laut yang tenang

Inilah Gili Sudak, pulau kecil bak surga yang berada di Sekotong, Lombok Barat. Sebuah tempat yang begitu didamba oleh pelancong seperti diriku, begitu tenang dan damai. Gili Sudak ibarat privat beach, kita dapat snorkeling dan diving sepuasnya tanpa harus berpapasan dengan orang lain. Ekosistem laut Gili Sudak begitu indah. Koleksi ikan di pantai ini beragam dan kita dapat melihatnya dari atas air laut. Bahkan dari jarak yang sangat dekat dengan bibir pantai, batuan karang mulai terlihat. Tak banyak turis yang berkunjung kesini, maka layak sudah Gili Sudak disebut sebagai 'so-called virgin beach'.

Books For Beach

Berbekal beragam buku dan alat tulis, kami melaju dengan perahu menuju Gili Subak. Ombak yang tenang membawa kami pada keceriaan yang indah. Beberapa dari kami melakukan selfie, yang diakhiri dengan gelak tawa. Barangkali karena melihat kelucuan atau keanehan dari wajah yang terekam kamera. Bilamana ada ekspresi wajah yang kurang baik, si empunya wajah bermuka masam dan menyuruh dengan lantang agar foto itu dihapus. Si empunya kamera tergelak dan mendelik penuh kejahilan: akan saya unggah foto ini ke Facebook dengan folder Dibuang Sayang!

Keceriaan ini nyatanya berlanjut dengan keharuan. Setibanya di Gili Sudak, rasa senang bercampur haru membuncah saat melihat sambutan anak-anak di bibir pantai. Ada yang bersorak penuh gembira, ada yang tersenyum manis, ada yang malu-malu dan ada yang menatap kami datar namun penuh rasa ingin tahu.

Menatap sejenak masa kecilku, akupun begitu saat ada guru baru di sekolah. Aku sambut beliau dengan gembira namun malu saat disapa olehnya. Dengan waktu, segala rasa kikuk di awal itu pudar sudah. Semoga saja, kebersamaan kami yang hanya sesaat bersama anak-anak ini dapat menimbulkan kesan yang baik.

kecerian anak-anak :)

Kehadiran anak-anak yang berjumlah puluhan ini bukan tanpa alasan. Kami, Muslimah Backpacker, hendak melakukan aksi bakti sosial berupa pembagian buku dan alat tulis kepada anak-anak disekitaran gili di Sekotong. Adalah mas Duta Here yang telah berbaik hati mengkoordinasi masyarakat sekitar untuk berkumpul dalam acara bakti sosial. Acara ini kami namakan 'Books For Beach' karena acara digelar di tepi pantai Gili Sudak.

Ini foto mas Duta sebelum nikah :D serius banget ya!

Sebagian dari anak-anak terlihat berpakaian seragam. Saat kutanya mengapa mereka tidak sekolah, jawaban mereka adalah karena masuk sekolah siang. Sengaja mereka mengikuti acara Books For Beach sebelum pergi ke sekolah.

" Aku ingin datang ke acara ini karena aku suka buku. Katanya yang membagikan buku adalah orang yang datang dari jauh, Jakarta. "

Aku dan beberapa teman yang mendengar perkataan itu tersenyum.

" Kalau begitu nanti kamu dengarkan baik-baik cerita yang disampaikan ya, juga harus aktif, ada hadiah soalnya. "

Mendengar itu, matanya terbelalak sembari tersenyum manis. Rupanya kebahagiaan bagi anak-anak pulau ini sederhana, cukup dengan buku, cerita dan kehadiran kami, orang-orang yang datang dari jauh.

anak-anak yang mendengarkan dengan khusyuk

Bertopang kayu dan beralaskan jerami, anak-anak begitu antusias mengikuti sesi demi sesi acara Books For Beach ini. Acara dibuka dengan tilawah yang dibacakan oleh puteri mbak Hanifah kemudian sambutan dari mbak Imazahra, pendiri Komunitas Muslimah Backpacker. Selain itu, mbak Ima menyuntikkan semangat positif kepada anak-anak dengan bercerita pengalamannya berkeliling daratan Eropa dan Afrika. Kulihat beberapa anak terpana mendengar penuturan mba Ima.

" Kalian harus rajin belajar dan teruslah sekolah. Karena dengan ilmu kalian bisa melakukan hal-hal besar juga keliling dunia untuk melihat kebesaran Allah SWT. "

Acara dilanjutkan dengan sesi cerita yang dibawakan oleh ibu Imas. Beliau bercerita tentang kisah inspiratif Nabi dan para sahabat dengan begitu antusias. Hal ini membuat anak-anak seakan terhipnotis dalam tiap cerita yang disampaikan.

ada yang menatap ke depan, ada yang melihat kawannya :)

Acara dilanjutkan dengan sesi pertanyaan berhadiah. Pertanyaan yang diajukan beragam, dari mulai cita-cita hingga pengetahuan umum. Namun rupanya rasa malu menjangkiti hampir semua anak-anak. Perlu ada bujukan dari kami agar mereka mau mengacungkan jari dan menjawab pertanyaan.

"saya!", sahut gadis berkerudung hijau


Keberanian untuk mengacungkan jari dan menjawab pertanyaan adalah harus diapresiasi. Hal ini dilakukan selain untuk menambah kepercayaan diri, juga dapat menginspirasi anak-anak lain untuk turut aktif.

Yea, dapat buku :)

Acara ditutup dengan penyerahan buku dan alat tulis secara simbolis kepada salah satu orang tua yang turut hadir di acara Books For Beach. Selang beberapa menit kemudian, bapak tersebut membagikan buku dan pensil kepada anak-anak yang telah menanti sedari tadi. Terlihat dengan jelas senyuman dari anak-anak dan para orangtua yang hadir.

penyerahan buku secara simbolis oleh mba Imazahra


hore... saya dapat buku!

Kebahagiaan yang berbalut kesederhanaan. Melihat mereka, sesungguhnya membuat diri ini malu atas beragam rongrongan kepedihan kepada Tuhan. Betapa dulu aku mudah untuk bersekolah, mudah untuk membaca karena buku ada dimana-mana, mendapatkan ilmu dari guru-guru cerdas lagi baik dan kesempatan untuk meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Sedang mereka?

Lihatlah ini kawan... Sesaat setelah kami meninggalkan bibir pantai, terlihat anak-anak berlarian menuju perahu yang akan membawa mereka menuju sekolah. Ya, sekolah mereka terletak di pulau lain dan setiap hari mereka melakukan hal ini. Dalam hati penuh keharuan aku berdoa, semoga kelak anak-anak gili mendapat kesempatan untuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, menggapai cita dan membahagiakan orang tua serta masyarakat di daerah mereka.

Asyik, saya sekolah!


Segala hal yang kami saksikan disini adalah perjuangan putera dan puteri gili untuk menuntut ilmu. Perjuangan yang dilandasi cinta dan semangat untuk belajar. Nilai ini yang juga harus ditanam pada anak-anak di perkotaan. Betapa sekolah dan belajar adalah harga yang mahal bagi anak-anak pulau dan anak-anak pedalaman.

Untuk anak-anak di Gili Sudak, selamat membaca dan belajar ya! Aku menyimpan foto kalian. Berharap saat kita berjumpa nanti, aku masih mengingat kalian dengan baik :).

Pemerintah, dengarkan kami!

Karut marut pendidikan di Indonesia tak lepas dari belum adanya langkah serius dari pemerintah. Distribusi guru dan sekolah yang belum merata hingga ke pedalaman adalah masalah utama. Celakanya, tempat-tempat indah yang ada di Indonesia terletak di pedalaman atau pulau-pulau yang tidak memiliki sarana pendidikan yang baik. Hal ini berakibat pada kualitas pendidikan masyarakat sekitar. Bila saja pemerintah serius dalam hal pendidikan, masyarakat dapat membantu pemerintah dalam mengelola wilayah wisata sehingga nyaman dan aman bagi para turis yang datang.

Seorang turis membutuhkan guide atau informan mengenai daerah yang dikunjunginya. Maka kemampuan bercakap dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang baik harus dilatih kepada setiap warga asli daerah. Hal ini dapat menambah kepercayaan turis untuk mendapatkan informasi akurat dari penduduk asli dan tentu dapat menarik wisatawan lain datang berkunjung.

Selain itu, infrastruktur jalan yang buruk hampir dapat ditemui di wilayah-wilayah wisata di Indonesia. Pemerintah harus sangat serius terhadap pembangunan jalan dan sarana transportasi karena faktor itu menjadi penting dalam menarik wisatawan asing.

Sebuah perenungan

Barangkali tujuan yang benar dalam sebuah perjalanan bukan terletak pada kebanggaan diri. Ada tujuan lain dari perjalanan yang nilainya lebih dari sekedar pamer, yaitu membaca ayat-ayatNya. Penafsiran ayat-ayat disini bukan berarti dalam konteks tertulis. Dengan perjalanan, pada akhirnya kita menyadari bahwa diri ini kecil dan Tuhan adalah Maha Besar, sebuah kesadaran yang seringkali didapatkan saat melakukan perjalanan.

Perjalanan bukan berarti datang dan pergi. Perjalanan dapat melatih diri untuk melakukan aksi kemasyarakatan. Ya, perjalanan merupakan bakti pada nusa bangsa.


Sebuah perjalanan berarti mendekatkan diri padaNya.
Sebuah perjalanan berarti meleburkan diri dengan masyarakat dan lingkungan.
Berada pada sebuah perjalanan bukan berarti mendadak menjadi asing.
Justru dengan perjalanan, kita akan semakin mengenal: Siapa sebenarnya diri ini. 


P.S. Semua foto dalam tulisan ini diambil oleh Andrie Potlot, rekan perjalanan selama di Lombok bersama Muslimah Backpacker.


~ Ijaah ~

Bacalah! Kau dan Aku akan banyak tahu.

No comments:

" Tapi aku tahu, seberapa banyak aku membaca seumur hidupku, aku tak akan pernah mampu membaca sepermiliar dari seluruh kalimat yang tertuliskan. Karena di dunia ini terdapat begitu banyak kalimat seperti banyaknya bintang di langit sana. Dan kalimat-kalimat akan selalu bertambah dan akan menjadi semakin banyak sepanjang waktu, laksana sebuah ruang yang tidak pernah berujung. Namun, pada saat itu aku pun tahu bahwa setiap kali membuka sebuah buku, aku akan bisa memandang sepetak langit. Dan jika membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan luas."

Jostein Gaarder - Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken

Seperti halnya aku. Apa yang dikatakan Gaarder tadi menimpaku juga. Begitu banyak buku yang telah kubaca dengan kata-kata indah yang kutandai. Namun sepertinya hanya sedikit sekali yang aku ingat. Misal saja quote-quote indah dalam novel '2' Donny Dhirgantoro. Aku hanya bisa mengingat 2 atau 3 quote di antara ratusan kata-kata indah dalam novel itu.

Aku kira ini hanya menimpaku saja. Tapi ternyata tidak. Hampir semua pembaca rasa-rasanya akan seperti itu. Mereka tidak bisa mengingat seutuhnya kata-kata yang ada dalam sebuah buku. Mereka hanya bisa bercerita ringkas.

Tapi benar kata Gaarder, meski sedikit sekali yang ia ingat, namun ketika membaca buku ia sadar sepenuhnya bahwa kotak ilmu dalam dirinya bertambah. Tidak masalah ia ingat atau tidak. Yang penting ia pernah menerima ilmu baru itu. Hingga suatu saat nanti, jika memang diperlukan, ilmu itu akan dengan sendirinya ia ingat lagi.

Oya, pernah tidak ketika kamu sedang ngobrol, tetiba ingat sebuah kalimat yang kamu dapat dari buku yang pernah kamu baca? Rasa-rasanya aku maupun kamu sering seperti itu. Nyatanya sesuatu yang pernah kita baca itu itu telah masuk ke dalam kotak ilmu dan alam bawah sadar kita. Ia telah menyatu dengan kita. Maka dari itu orang yang hobi nya baca buku, memiliki pemahaman yang lebih baik atau cara berbicara dan presenting yang lebih baik.

Saya jadi ingat tentang metode BacaKilat yang dilakukan oleh pak Agus Setiawan dari Aquarius Resources. Bisa kamu bayangin tidak, tagline metode BacaKilat adalah baca 1 detik/1 halaman. Did you believe that? Awalnya saya beneran gak percaya. Kok bisa? Gimana caranya?

Ternyata rahasia dari BacaKilat adalah membaca dengan alam bawah sadar. Buatlah alam bawah sadarmu yang membaca, bukan alam sadarmu. Masukan bacaanmu itu ke dalam kotak ilmu dalam alam bawah sadarmu, sehingga jika suatu saat nanti dibutuhkan (misalnya karena ada pencetus dari obrolan/kejadian), ilmu yang kamu simpan dalam memori alam bawah sadarmu akan keluar secara otomatis ke alam sadarmu. Itulah mengapa, orang yang banyak baca biasanya lebih pintar dan mengerti.

Membaca bisa menjadi sesuatu yang menjemukan atau mengasyikan. Tentunya tergantung dari perspektif masing-masing orang. Bagi saya pribadi, membaca adalah sesuatu yang mengasyikan. Saya jadi tahu banyak hal. Saya jadi lebih faham. Saya jadi lebih legowo. Saya jadi lebih bisa menerima.

Saya seriusan tentang hal ini. Baca itu asyik. Asyik karena banyak tahu, asyik karena pemikiran kita bisa jadi open minded, asyik karena melakukan hal yang manfaat, asyik karena bisa mengenal dunia.

Baca yuk! Karena kau dan aku akan banyak tahu.


~ Ijaah ~

2015 : Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti

6 comments:

Sungguh, tiada yang pernah tahu tentang bagaimana jalan kisah hidup seseorang di masa depan. Semua begitu misteri, penuh kejutan dan seringkali tak tertebak. Ada kuasa lain yang menggenggam hidup setiap insan. Dialah Tuhan, pemilik seluruh alam raya ini.

Mengawali tahun 2015 dengan penuh suka cita. Pada malam pergantian tahun, aku memilih untuk mendekatkan diri pada Tuhan bersama dengan ratusan manusia lain di Masjid An-Nuur Biofarma. Ada dia di antara kumpulan manusia itu. Dia, lelaki yang kupilih untuk menjadi pasanganku. Saat itu aku begitu yakin bahwa dia akan menjadi suamiku. Ya, kami berencana menikah pada tahun 2015.

Namun rupanya segala benih yang kami tuai tak lagi berbunga. Ada hama, ada hujan badai, ada kemarau. Segala kebahagiaan yang kami rasa telah berganti dengan kepedihan. Sungguh tak menyangka bahwa hal ini akan terjadi pada hubungan baik ini.

Lagi, aku mengalami proses pahitnya melepaskan. Sepahit apapun ini, aku berusaha untuk tidak mengutuk siapapun. Sangat berat tentu saja. Namun Tuhan Maha Baik. Akhirnya pemahaman baik itu datang juga. Aku sadar bahwa ia hadir dalam hidupku untuk sebuah pembelajaran. Hingga kini takkan henti rasa syukurku pada Tuhan yang telah mempertemukanku dengan dia dan keluarganya. Juga sejuta kebahagiaan yang pernah ia sematkan dalam hidupku.

Tahun melepaskan dengan ikhlas. Pada penghujung 2015, aku kehilangan seseorang yang kucintai. Dialah uwaku, kakak perempuan ibuku. Ulu, begitulah aku memanggilnya, wafat pada usia 61 tahun karena sakit. Ulu mengalami stroke dan menjalani proses penyembuhan di daerah Bandung atas selama 10 bulan. Ulu melaluinya dengan ikhlas, hingga akhirnya pada bulan November Ulu pulang ke rumah. Ulu sudah sehat, bisa lancar berjalan menggunakan tongkat. Ia kerap memanggilku untuk melihatnya berjalan dengan penuh kegembiraan. Namun ternyata sehatnya Ulu hanya sementara.

Ulu jatuh. Terjadi pendarahan di organ tubuh bagian dalam. Setiap hari Ulu menangis kesakitan. Kami memanggil suster ke rumah untuk merawatnya. Setelah itu, kami hendak membawa Ulu ke rumah sakit. Namun rupanya kesempatan itu tak pernah ada.

Jumat dini hari. Suhu tubuh Ulu bagian bawah sudah mulai dingin. Uwa Endah memanggil Ibu untuk membersamainya menemani Ulu. Lantunan ayat suci, doa dan ucapan semangat menemani Ulu dalam tidurnya. Tepat pukul 1 pagi, Ulu menghembuskan nafas terakhirnya dengan begitu lembut, begitu damai. Ibu menyaksikan itu semua. Lantas meneleponku untuk segera pulang ke Majalaya.

Ulu seperti ingin ditemani oleh Uwa Endah pada saat hari-hari terakhirnya. Uwa Endah dan suami pergi dari Jember pada Rabu sore dan tiba di Majalaya pada Kamis sore. Selang beberapa jam kemudian, Ulu wafat pada Jumat dini hari.

Aku menyesal. Bahwa pada saat terakhir melihat Ulu, aku tidak sedang dalam kondisi terbaikku untuk membuatnya tersenyum. Ulu adalah uwaku yang terdekat. Ulu selalu mendoakan, memberi petuah juga materi yang sangat membantuku. Berjuta kebaikan dan pelajaran telah Ulu sematkan dalam hidupku dan keluargaku. Hal yang begitu menggambarkan Ulu adalah tangannya yang ringan sekali bersedekah. Aku rasa itulah yang membuat kematiannya begitu tenang.

Ini yang terbaik untuk Ulu. Beliau tidak lagi merasakan kesakitan. Hanya doa dan kebaikan atas namanya yang bisa kulakukan saat ini. Semoga Ulu selalu diberi ketenangan dan dalam pelukan Allah.

Tahun yang penuh dengan pembelajaran, namun juga kebahagiaan. Pada tahun ini aku mengikuti Vlogger Gathering di Pulau Bidadari dan Travel Writers Gathering (lagi, yeay!) di Lombok dan Sumbawa. Berjumpa dengan rekan-rekan penulis yang luar biasa hebatnya, telah membawaku pada jaringan pertemanan yang lebih luas. Segala puji bagi Allah.

Ada melepaskan, ada juga kebahagiaan. Hidup selalu penuh warna dan sudah sepatutnya kita merayakan itu semua. Carpe diem. Aku harus menghilangkan harapan yang aku gantungkan selain pada Tuhan, sebab itulah penyebab ketidakbahagiaan dalam hidup.

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Judul lagu Banda Neira ini jelas menggambarkan kisahku di tahun 2015. Semua yang patah dalam hidup, kelak akan tumbuh kembali. Semua yang hilang, akan digantikan oleh mereka yang membawa kita pada fase pemahaman hidup selanjutnya. 

Mengawali 2015 dengan penuh suka cita, dibumbui dengan kesedihan, namun ditutup dengan kebahagiaan. Ya, kini aku siap melangkah menuju tingkat lain dalam kehidupanku. 

Break a leg!


~ ijaah ~

Beragam Kebaikan di Martabak Tropica Bandung

6 comments:
Martabak 10 Rasa . Foto oleh ijaah [dot] com


Ini kedai martabak?

Itulah pertanyaan pertamaku pada saat memasuki kedai martabak Tropica di Jl. Burangrang. Aku tak menyangka bahwa kedai martabak bisa seluas, sebersih dan seindah ini. Ada lukisan dinding dalam kedai ini yang sangat mencerminkan Bandung, seperti lukisan Gedung Sate, Persib, Masjid Agung Jawa Barat, Monumen Bandung Lautan Api dan lain sebagainya. Selain itu, ada pula jejeran meja dan kursi bagi pengunjung yang hendak makan martabak di tempat. Itulah kesan pertama yang membuatku mengerti bahwa pemilik kedai martabak Tropica ini bukan orang sembarangan. Ia nyata sekali serius dalam mengelola kedai ini.

Kedatanganku dan rekan-rekan blogger ke kedai martabak Tropica adalah untuk bertemu dengan pemilik kedai yaitu Pak Yudi Prasetya. Kami ingin mendengar lebih jauh tentang perjalanan usaha kuliner martabak Tropica yang pamornya saat ini sedang naik di Bandung.

Black Sweet. Foto oleh niaharyanto [dot] com

Perjalanan bisnis martabak Tropica tidaklah mudah. Pak Yudi harus menghadapi penipuan dari rekan dan pegawainya. Meski begitu beliau tetap melanjutkan usaha martabak ini hingga akhirnya martabak ini menjadi begitu terkenal.

Dilansir dari kulinerakut [dot] wordpress [dot] com, Pak Bondan Winarno memuji keunggulan martabak Tropica ini. Beliau bahkan menuliskan kicauan di Twitter yang mengatakan : Hebring! Martabak Tropica mengungguli Markobar!


Martabak Tipis kering. Foto oleh : kulinerakut [dot] wordpress [dot] com

Ada banyak jenis martabak yang ditawarkan oleh kedai ini. Mereka adalah :
  1. Martabak Pizza
  2. Martabak Tipis Kering
  3. Martabak Black Sweet
  4. Martabak 10 Rasa 
  5. Martabak Original
Pengunjung bisa bebas memilih rasa atau toping. Pilihannya ada cokelat, kacang, keju, susu, Oreo, Ovomaltine, Hersey's, Kit Kat, Silverqueen, Nutella, green tea, aneka selai, kismis, kurma, kacang mete, jagung manis dan duren. Tak hanya rasa, pengunjung dapat memilih adonan yang diinginkan : original, pandan, red velvet atau blacksweet.

Aku paling menyukai Martabak Tipis Kering rasa cokelat keju. Rasanya begitu crunchy dan rasa cokelat kejunya begitu terasa. Selain itu aku juga menyukai martabak original. Teksturnya begitu lembut, minim butter dan teksturnya mirip seperti bika ambon.

Lalu apa saja kebaikan yang dimiliki martabak Tropica dibanding martabak ternama lainnya? 
  • Adonan diaduk dengan mesin khusus, sehingga adonan menjadi higienis, tidak bercampur keringat ataupun bakteri dari telapak tangan pembuat martabak. Selain itu hasil adonan menjadi lebih homogen. Cara mengolah adonan dengan tangan masih banyak ditemukan di martabak-martabak terkenal di Bandung. Pak Yudi mengatakan bahwa untuk menjamin kualitas adonan martabak Tropica ini higienis, coba diamkan martabak selama semalam, dijamin bahwa kualitas martabak tetap empuk. Aku lantas mencoba hal itu dan memang benar adanya, martabak tetap empuk!
  • Semua bahan adonan dan topping memakai brand ternama, sehingga kualitasnya terjamin.
  • Adonan martabak begitu empuk, teksturnya seperti bika ambon dan manisnya pas.
  • Ada tempat untuk dine-in dan Wi-Fi.
  • Packaging-nya memakai dus tahan panas.
  • Berkonsep open kitchen, maka pengunjung dapat dengan langsung melihat kebersihan dapur.

Untuk urusan harga, martabak 10 rasa dibandrol dengan harga Rp. 120.000,-. Harga yang sangat pas dengan rasa yang ditawarkan oleh martabak ini.


Sumber : kulinerakut [dot] wordpress [dot] com

Selain kebaikan dari sisi kebersihan, inovasi, rasa dan tempat, martabak ini menyimpan beragam kebaikan lainnya. Pak Yudi begitu menerapkan prinsip kebahagiaan pada mitranya dengan cara memberi gaji yang sangat layak, kendaraan, sembako dan tempat tinggal. Mitra yang dimaksud di sini adalah pegawai martabak Tropica. 

Kebaikan lain yang disebarkan Pak Yudi adalah beliau sangatlah dermawan dan tidak pendendam. Beliau pun sangat suka berbagi ilmu pada siapapun yang dijumpainya. Pesan beliau yang paling aku ingat adalah : Peluang itu banyak, namun kita seringkali lengah.

Maka bagi kalian yang mencari martabak dengan segala kebaikan di dalamnya, martabak Tropica adalah jawabannya. Sebagai saran, datanglah ke martabak ini pada sore hari sebab semakin malam antrian pengunjung ke kedai ini sangatlah panjang. Jika sedang beruntung, kalian dapat berjumpa dengan Pak Yudi dan bersiaplah menerima beragam kebaikan darinya.

Selamat menikmati ya!



Kedai Martabak Tropica

Jl. Wayang 2 (Burangrang) Bandung
14.00 - 23.00
IG : @kedaimartabaktropica.bandung

~ ijaah ~

Follow me on Instagram