Saturday, January 30, 2016

Belajar dari Ibu Nasi Kuning

Setiap pagi, ada penjual nasi kuning gerobak yang lewat depan rumah. Suara nyaring nan bulat itu terdengar di setiap pagi. Namun, tak pernah sekalipun aku melihatnya lewat. Tak tertarik! Hatiku telah tertambat oleh penjual nasi kuning yang ada di jl. Tata Surya. Rasa nasi kuningnya enak sekali. Buatku tak mau beli nasi kuning di tempat lain. Tapi entahlah, pagi itu kuputuskan untuk membeli nasi kuning gerobak itu. Sekalian pengen kenalan sama penjualnya.

Suara nyaring nan bulat yang kukira kelaki-lakian itu, ternyata berasal dari suara seorang wanita paruh baya. Coba teman-teman bayangkan, wanita yang masa usianya telah senja, mendorong gerobak nasi. Berkeliling komplek untuk menuai rizki dari Tuhan. Aku malu! Malu akan diri ini. Baru genap 24 tahun usiaku, namun semangat dan daya juangku mudah tergerus.

Melihatnya pagi itu membuat rasa ingin tahuku mengemuka. Aku ingin bertanya padanya. Ibu tinggal dimana? Asal ibu darimana?

Kata-kata yang merupakan jawaban atas pertanyaanku itu membuatku terdiam. Beliau tinggal tak jauh dari rumahku, masih daerah Manjahlega. Ibu mah tinggalnya masih ngontrak neng, di belakang Asy-Syifa. Udah 15 tahun disitu teh. Asal ibu mah dari Garut. 

Deg!

Malu! Malu! Malu!


Dear ibu,

Kemarin kita jumpa dan saling bertukar sapa. Sebelumnya, maaf atas kelancangan saya bertanya ini itu pada ibu.

Ibu, pagi ini saya mohon izin untuk mengabadikan kisah ibu di catatan hidup saya. Ibu benar-benar mengajari saya tentang arti syukur dan daya juang. Saya merasa tertampar kala melihat semangat ibu. Akhir-akhir ini, kadar syukur saya tergerus keluhan. Tuhan tampaknya ingin mengingatkan saya lewat ibu.

Akhir kata, mungkin ibu tak akan pernah membaca tulisan ini. Namun, kisah ibu terbaca oleh satu, dua atau puluhan teman. Terimakasih ya bu. Semoga rasa syukur dan ikhtiar ibu selama ini Allah berkahi.


Tuhan selalu punya cara untuk mengingatkan setiap hamba-Nya. Saat aku tidak sedang dalam kondisi terbaik untuk menghidupkan hidupku, Dia menghadapkanku pada sebuah kisah yang menyentuh nurani, mengingatkan kembali supaya aku bersyukur.

Tak dipungkiri, kesalahan akan kembali kubuat. Yang kupinta adalah rahmat dari-Nya, supaya aku selalu kembali pada-Nya, ingat pada-Nya, menerima cahaya dari-Nya.

Menghidupkan hidup dengan bersyukur apapun keadaannya, mempersiapkan diri akan kemungkinan terbaik. Hingga nanti kabar baik itu datang pada mereka yang sabar, berserah diri dan bekerja dengan ikhlas.


~Ijaah~

1 comment :

  1. Suka tulisan yang begini begini, Very Inspiring... :)

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung di Ijaah. Silakan tinggalkan komentar di bawah ini :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...