Tentang XL Future Leaders

4 comments:
    "Penjelasan XL kali ini agak berbeda ya. Karena kita akan berbicara mengenai tanggung jawab perusahaan XL terhadap masyarakat. Hari ini, kita tidak akan membahas tentang campaign dan jangan tanya mengenai network LTE karena bukan hari ini jawabannya. Kita hari ini total membahas mengenai tanggung jawab sosial sebuah perusahaan telekomunikasi kepada hampir 60 juta pelanggan yang tersebar di seluruh Indonesia." - Turina Farouk
XL Future Leaders adalah salah satu program CSR perusahaan telekomunikasi XL yang bertujuan untuk mendidik serta mempersiapkan calon pemimpin Indonesia di masa yang akan datang. Pemimpin yang dimaksud haruslah seorang yang informatif, kreatif serta memiliki percaya diri yang kuat.

Latar belakang diadakannya program ini adalah karena adanya fenomena mahasiswa Indonesia yang pintar secara akademik, namun lemah dan kalah bersaing di level pekerjaan. Mereka cerdas dalam bidang akademik -dengan IP yang memuaskan-, namun tidak bisa bekerjasama dengan baik, tidak dapat mempertahankan pendapat dan tidak memiliki komunikasi yang baik serta terstruktur.

Untuk itulah XL menggagas XL Future Leaders yang akan memberikan pendidikan di bidang soft skills kepada mahasiswa terpilih. Pembinaan akan fokus pada 3 hal, yakni:
  1. Mengembangkan komunikasi yang efektif
  2. Inovasi dan kewirausahaan
  3. Mengelola perubahan (adaptasi di lingkungan baru)
Pendidikan di XL Future Leaders mengacu pada kurikulum New Zealand, dimana mahasiswa akan lebih aktif dibandingkan dengan pengajar (fasilitator).

Program Pendidikan XL Future Leaders

XL Future Leaders memiliki 4 program pendidikan yang mencerminkan kepedulian XL terhadap bidang pendidikan dan pembangunan masyarakat. Keempat program tersebut adalah:

1. Global Thinking Class

Global Thingking Class merupakan program pendidikan eksklusif selama 2 tahun. Program ini diperuntukan bagi mahasiswa tingkat 2 dan tingkat 3. Setiap tahunnya, XL menerima 120-145 mahasiswa untuk dilatih sebagai calon pemimpin masa depan. Pelatihan ini berlangsung selama 2 tahun dengan tatap muka selama 2 bulan sekali, base camp selama 1 minggu. Tentu saja hal ini tidak mengganggu proses perkuliahan. Selain itu, mahasiswa akan difasilitasi gadget (notebook, handphone dan pulsa) oleh XL untuk melakukan tugas dan berkomunikasi dengan fasilitator. 

Syarat: 
  1. Hanya untuk mahasiswa 
  2. IPK minimal 2,8
  3. Usia 18-21 tahun
  4. Jurusan apapun
  5. Aktif dalam organisasi dan kegiatan sosial
Salah satu lulusan Global Thingking Class yang hadir dalam acara ini adalah Ahmad Bismillahi Normansyah atau yang lebih akrab dipanggil Bisma. Kini, Bisma yang merupakan lulusan dari ITB jurusan Astronomi, memiliki perusahaan startup dalam bidang pengelolaan limbah/wastewater system.

Salah satu fasilitator XL Future Leaders yang hadir dalam Blogger's Meet Up kali ini adalah Tidar Rachmadi. Mas Tidar memfasilitasi pelatihan di kota Jakarta, Jogjakarta dan Surabaya.

Profil Mas Tidar
Ki-Ka : Bisma, Bu Turina, Mas Dypta, Mas Tidar

Sebagai informasi, XL Future Leaders memiliki 6 kelas di 5 kota, yakni di Jakarta, Bandung, Jogja, Surabaya dan Makassar.

Bagi teman-teman mahasiswa yang ingin mengikuti program pelatihan ini, kalian bisa mengakses informasinya di http://www.xlfutureleaders.com/ atau mengikuti XL Future Leaders University Roadshow di berbagai kota di Indonesia.

2. E-Learning

Program ini ditujukan untuk umum dan diberikan secara gratis. Pendidikan yang diberikan serupa dengan Global Thinking Class yaitu pendidikan kepemimpinan, kewirausahaan, komunikasi dan mengelola perubahan. Namun yang membedakan adalah E-Learning memiliki 8 modul pembelajaran sedangkan Global Thingking Class ada 20 modul.

Apapun profesimu (guru, pelajar SMA, karyawan, buruh, dosen, ibu rumah tangga dll), kamu bisa mengikuti pelatihan soft skill di E-Learning. Caranya adalah dengan meregistrasikan diri kamu di http://elearn.xlfutureleaders.com/.


Setelah memiliki akun di E-Learning, kamu bisa memilih jenis pelatihan yang tersedia. Saya pribadi memilih pelatihan Effective Communication For Executives dengan fasilitator Mas Tidar.

Course yang saya ikuti

Sebagai informasi, E-Learning XL Future Leaders ini baru saja di launching pada tanggal 20 Mei 2015 di ITB.

3. Scholarship Camp

Scholarship Camp adalah program beasiswa dari XL bagi mahasiswa yang tidak mampu secara finansial.

4. BOD Challenge

BOD Challenge ini sangat unik. Bagi mahasiswa terpilih, mereka akan diberikan kesempatan untuk menjadi direktur XL selama 1 minggu. Mereka akan menggantikan tugas direktur saat meeting direksi dan tugas lainnya, juga diberikan fasilitas seperti mobil, pakaian dan tempat tinggal dinas. Asyik, bukan?

Program XL Future Leaders adalah sarana tepat bagi kaum muda yang haus akan ilmu mengenai kepemimpinan dan kewirausahaan. Dengan program ini, XL hendak membentuk future leader, bukan future worker.

Ya, inilah persembahan XL untuk memajukan Indonesia.



~ Ijaah ~

Ingat Akan Pay It Forward

No comments:

Jah, kamu harus nonton Pay It Forward . . .  Seriusan, film ini kece pake banget!

Berpilin. Berputar. Aku tak ingat kapan ucapan itu kudengar. Aku bahkan tak ingat siapa yang memberi saran padaku untuk menonton film itu. Ucapan itu kudengar kembali saat menatap deretan film di VOA Garuda Indonesia.

Pesan moral dari film itu sungguh menggugah, Jah. Coba bayangin yah. Trevor, tokoh utama di film ini, membuat sebuah aksi mencengangkan untuk mengubah dunia. Ia membuat aksi yang dinamakan 'Pay It Forward'. Jadi rumusnya gini: Setiap orang diminta memberi kebaikan secara utuh kepada 3 orang lain, kemudian kebaikan itu diteruskan dengan pola yang sama. Dan taraaa... terbentuklah pohon kebaikan yang menjangkau banyak orang. Spektakuler!

Spektakuler! Aku sungguh sangat menyukai kinerja kotak ilmu alam bawah sadar. Ia dengan cerdiknya akan membukakan ingatan lama pada saat ada pencetusnya. Sudah lama sekali ada seorang kawan yang menasihati agar aku menonton Pay It Forward. Sebuah nasihat yang sudah lama tak kuingat. Ia dengan ajaibnya muncul tiba-tiba hanya karena mataku membaca rangkaian 3 huruf : Pay It Forward.

Tentu saja tanpa berpikir panjang, kuputuskan untuk menonton Pay It Forward dalam perjalanan ini.

Jujur, selama menonton film ini aku terganggu dengan gaya berbusana ibunda Trevor. Barangkali memang disengaja untuk tampil seksi sedemikian rupa, supaya menyelaraskan dengan kehidupan dunia malam sang ibunda. Belum lagi dengan adegan romantisme nya. Duh!

Sudah barang tentu adegan semacam itu ada. Ini film Hollywood, Bung! Meski film ini menceritakan tentang ide cemerlang seorang anak kecil untuk mengubah dunia, -yang mana sejatinya bisa menginspirasi anak kecil lainnya- namun sebaiknya Pay It Forward ini ditonton oleh mereka yang usianya lebih dari 18 tahun.

Seperti yang sudah disinggung di atas, Trevor memiliki ide cemerlang untuk mengubah dunia. Ia menggambarkan, jika saja 1 orang membantu 3 orang, untuk seterusnya 3 orang itu berbuat baik pada 3 orang lainnya, maka bumi ini akan dipenuhi orang-orang baik. Bagi yang belum menonton film ini, bayangkan saja pola Pay It Forward ini seperti bagan multi level marketing.

Kebaikan yang diteruskan. Adakah aku sudah berbuat kebaikan yang telah mengubah hidup seseorang?

Aku tak tahu. Namun satu hal yang pasti, agama telah mengajarkanku dan kita semua untuk berbuat baik. Pada siapapun itu.



~ijaah~

Belajar 5R Dari Orang Jepang

No comments:

Aku sedang menulis ini dengan kesadaran penuh. Bahwa di sebelah kananku, terdapat tumpukan baju yang menunggu untuk disetrika. Bahwa di depan mataku, terdapat lembaran kertas dan buku yang berserakan. Bahwa di setiap ruangan di rumah ini, berantakan!

Aku mencoba untuk tetap tenang dan bernapas sedalam-dalamnya. Apa yang sudah aku lakukan... Semua tampak berantakan. Sebegitu malaskah aku untuk merawat rumahku sendiri?

Melihat seluruh kekacauan di rumah, terselip perasaan was-was akan nasib rumah tanggaku nanti. Apakah aku bisa merawat rumah, suami dan anak-anak? Jika saat sendiri saja kacau begini, bagaimana nanti?

Tetiba saja pikiranku berkelana, menangkap momen berharga di masa lalu. Saat dimana Uwa menasihatiku supaya menjadi pribadi yang lebih baik dalam menata diri dan lingkungan.


Teh, tahu prinsip sukses orang Jepang? 5R?

Enggak tahu. Apa itu, Wa?

Ringkas Rapi Resik Rawat Rajin. Prinsip ini Jepang punya. Mereka maju karena memegang prinsip ini.

Oh gitu.

Iya. Uwa lihat di kamar itu berantakan. Banyak barang yang udah gak kepake kayaknya. Mending diberesin. Jangan kebanyakan barang yang gak kepake disimpan di rumah. Barang harus ringkas dan rumah jadi rapi.

Deg!


Ya, betul. Ada banyak sekali barang yang sudah tidak terpakai, namun aku pelihara saja seakan-akan nanti bisa terpakai. Belum lagi teknik penyimpanan barang yang tidak benar, sehingga kelihatannya tidak benar-benar rapi. Messy!

Jadi teringat kisah yang disampaikan Uni Dina dalam bukunya yang berjudul 'Journey to Iran'. Bahwa perempuan Iran memiliki kecenderungan untuk menjaga kebersihan rumah seperti mendekati paranoid. Mereka sepertinya tidak sanggup melihat ada satu titik noda sedikitpun, bahkan noda di pegangan kulkas. Kabarnya, ada sebuah tradisi saat menjelang pergantian tahun dalam kalender Iran yang bernama khune tekuni yang berarti 'menggoyang rumah'. Mereka membersihkan rumah mereka yang sudah 'cling' itu menjadi lebih bersih lagi.

Membaca kisah ini membuat kepalaku geleng-geleng. Jika saja para perempuan Iran itu berkunjung ke rumahku, barangkali mereka akan pingsan oleh sebab ketidakberdayaanku merawat rumah, termasuk untuk hal-hal yang sepele.

Ini tentang prinsip dan habit. Prinsip memegang peranan penting bagi kehidupan manusia. Tanpa prinsip, manusia seperti pejalan tanpa peta. Sedangkan habit adalah wujud dari prinsip yang melahirkan kesuksesan. Habit positif sekecil apapun yang dilakukan setiap hari akan berdampak hebat di masa depan.

Nasihat Uwa ini memang belum sepenuhnya aku jalankan dengan baik. Namun menuliskannya kembali, bagiku adalah sebuah pancingan semangat yang baik.


~ijaah~