Thursday, June 16, 2016

Kata Pak Safir, Karyawan Harus Nabung Supaya Makmur

Kata Pak Safir, seorang karyawan dengan berapa pun gajinya, tidak akan bisa makmur bila tidak menabung. Hal ini benar adanya sebab penghasilan karyawan itu tetap per bulannya. Kalaupun ada bonus, itu terjadi akibat dari performa karyawan tersebut atau bonus dalam jangka waktu kuartal dan tahunan.

Bila tidak merencanakan keuangan, hendak naik gaji sebanyak apapun, kita akan selalu merasa kurang. Sebab kita tidak mengerti untuk apa uang tersebut digunakan. Dan bila terjadi hal-hal darurat di masa depan, kita sudah tidak punya apa-apa lagi. Merecanakan keuangan itu penting untuk mengerem prilaku konsumtif.

Pak Safir memberi lima poin penting yang mudah dilakukan oleh karyawan supaya bisa menabung dan berinvestasi. Kelima poin tersebut adalah :
  1. Tetapkan tujuan keuangan di masa depan
  2. Menabunglah secara bulanan
  3. Investasikan bonus 
  4. Produktifkan harta
  5. Persiapkan diri menghadapi masa-masa sulit

Berburu Pak Rahmat

Seminggu pertama puasa, aku masih berada di Jakarta. Setiap hari aku mengonsumsi buah untuk sahur dan membeli makanan untuk berbuka sebab tidak ada dapur untuk aku memasak. Selain dari pada itu, aku selalu pulang saat Maghrib tiba sehingga tidak ada kesempatan untuk memasak.

Pada saat pulang ke Majalaya. ibu sudah memasak pindang ikan mas yang rasanya sedap sekali. Oya kawan, ikan mas itu begitu identik dengan Majalaya. Bahkan ada restoran terkenal di Bandung yang bernama Pepes Ikan Mas Majalaya. Kalian harus coba pindang ikan mas buatan ibuku, juga pepes ikan mas. Sedap sekali!

Sebulan tidak memasak, aku rindu. Untuk itulah sekembalinya ke Bandung, aku memutuskan untuk memasak. Tak ada yang spesial sebenarnya dalam masakanku. Hanya tumis sayuran, perkedel, karedok, sayur bening, olahan telur, olahan tahu-tempe dan lainnya. Tapi makan masakan sendiri itu tetap nikmat walaupun rasanya standar. Aku baru berhenti memasak bila ada undangan buka bersama.

Kembali memasak sejalan dengan frekuensi kunjunganku ke pasar dan supermarket. Pada beberapa bahan pangan, ada kenaikan harga. Namun tetap saja hal tersebut tidak menyurutkan aku dan yang lainnya untuk membeli bahan pangan tersebut. Kondisi seperti ini acapkali terjadi pada bulan Ramadhan dan hari besar lainnya.

Kelana di Jalanan Ibu Kota

Nostalgia.

Mei lalu, aku menghabiskan banyak hari di Jakarta. Ada sebuah urusan yang mengharuskanku untuk tinggal di Jakarta selama sebulan. Selama itu pula aku tinggal di tempat kost di kawasan Slipi Petamburan yang dulu pernah aku tinggal di dalamnya. Kembali ke Jakarta berarti waktu yang tepat untuk bernostalgia dan bersilaturahim. Setelah empat tahun, akhirnya aku bertemu kembali dengan induk semangku yang berdarah Minang. Tak banyak yang berubah dari beliau dan keluarganya, tetap hangat seperti biasa.

Telah kubuat beberapa rencana pertemuan dengan beberapa teman, namun tak semua bisa dijalankan. Tak mengapa, aku bisa bertemu dengan mereka di lain kesempatan. Namun pertemuan dengan sahabat baikku sedari duduk di bangku sekolah dan juga saudara sepupuku, mutlak harus terjadi.

Kawan, aku ingin menggambarkan padamu tentang bagaimana bahagianya aku kembali merasakan suka duka tinggal di Jakarta. Empat tahun berlalu, Jakarta banyak mengalami perubahan. Tentang bagaimana semakin tingginya pembatas busway, tentang kawasan Blok M dan Bundaran HI yang nampak asing bagiku oleh sebab pembangunan fly over, tentang dihapusnya aturan 3 in 1 dan 'tentang tentang' lain yang membuatku sadar bahwa Jakarta tak sama seperti dulu.

Pesan di Bulan Mei

Like a small boat, on the ocean...
Sending big waves, into motion...
Like how a single word, can make a heart open...


Baginya, tak perlu banyak upaya untuk menginspirasi. Cukup dengan satu kalimat yang ia selipkan dalam obrolan panjangnya, ia sudah mampu membuatku berpikir banyak. Aku terkejut oleh sebab analisanya yang tajam akan aku, oleh sebab kecerdasannya yang luar biasa.

Padaku, ia memberi sebuah nasihat yang belum pernah aku mendengarnya dari seseorang. Sebuah nasihat yang 'sangat aku'. Aku berpikir, bagaimana seseorang bisa sebegitu cerdasnya menilai seseorang padahal frekuensi pertemuan yang begitu jarang?

'Oleh sebab itulah ia menjadi seorang pemimpin', begitu kata otakku. Ia adalah cerminan pemimpin yang baik. Teramat suka akan cara ia menganalisa, memberi solusi, bersosialisasi, bergurau dan memberi arahan. Aku seperti diperlihatkan secara langsung pemimpin yang baik. Dan aku sangat bersyukur akan itu.

Tuesday, June 7, 2016

Elok Bersama #DivaBeautyYoga


Hari pertama di bulan Mei, akhirnya saya melakukan Yoga kembali. Adalah karena kegiatan yang dilakukan Diva Beauty Yoga, saya mendapatkan kesempatan untuk beryoga. Terlebih lagi kegiatan beryoga ini dipandu langsung oleh Anjasmara, seorang aktor yang namanya tak lagi asing di masyarakat Indonesia.

Mendapatkan posisi paling depan, saya dan rekan-rekan dari Blogger Bandung teramat sangat tersanjung. Kami dipermudah oleh pihak Diva untuk mendokumentasikan setiap kegiatan di acara ini. Tak hanya itu, posisi kami dekat sekali dengan Anjasmara dan instruktur lainnya. Sehingga lebih mudah bagi kami melihat setiap gerakan Yoga yang dipandu oleh Anjasmara.

Inhale... Exhale...

Thursday, June 2, 2016

Tiga Purnama Terakhir

Tiga purnama terakhir. Lengang.

Pada jarak waktu itu, tak ada satupun jejak yang kutinggalkan di rumah keduaku ini. Teramat menakjubkan, barangkali itulah yang dapat kugambarkan. Kisah yang kualami dalam tiga purnama terakhir ini, sungguh dihiasi dengan pola kerja Tuhan yang penuh dengan keajaiban dan rahmat. Sampai tak kuasa aku menuliskannya.

Aku selalu percaya bahwa dalam tiga ratus enam puluh lima hari, akan ada satu hari di mana pada akhirnya aku bertemu dengan inginku, citaku, bahagiaku. Cukup satu hari - satu kata - satu keputusan, namun itu telah membawaku pada pelangi yang selama ini ku damba.

Satu hari dalam tiga purnama, aku memutuskan untuk keluar dari zona nyamanku. Keputusan yang telah membawaku pada fase kehidupan selanjutnya. Semua serba baru, sebab itulah ia sebegitu menyenangkan sekaligus menantang.

Satu hari sebelum tiga purnama terakhir. Ada warna dalam hidupku yang kembali. Tak kusangka, tak pernah terbayangkan. Semua terlalu ajaib untuk kusadari. Sebab itulah lebih baik aku simpan untuk diriku sendiri, juga untuk mereka yang kusayangi.

Tiga purnama terakhir. Ada banyak cerita.

Ada lebih banyak lagi terima kasihku pada Tuhan.


~ ijaah ~
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...