Kelana di Jalanan Ibu Kota

by - Thursday, June 16, 2016


Nostalgia.

Mei lalu, aku menghabiskan banyak hari di Jakarta. Ada sebuah urusan yang mengharuskanku untuk tinggal di Jakarta selama sebulan. Selama itu pula aku tinggal di tempat kost di kawasan Slipi Petamburan yang dulu pernah aku tinggal di dalamnya. Kembali ke Jakarta berarti waktu yang tepat untuk bernostalgia dan bersilaturahim. Setelah empat tahun, akhirnya aku bertemu kembali dengan induk semangku yang berdarah Minang. Tak banyak yang berubah dari beliau dan keluarganya, tetap hangat seperti biasa.

Telah kubuat beberapa rencana pertemuan dengan beberapa teman, namun tak semua bisa dijalankan. Tak mengapa, aku bisa bertemu dengan mereka di lain kesempatan. Namun pertemuan dengan sahabat baikku sedari duduk di bangku sekolah dan juga saudara sepupuku, mutlak harus terjadi.

Kawan, aku ingin menggambarkan padamu tentang bagaimana bahagianya aku kembali merasakan suka duka tinggal di Jakarta. Empat tahun berlalu, Jakarta banyak mengalami perubahan. Tentang bagaimana semakin tingginya pembatas busway, tentang kawasan Blok M dan Bundaran HI yang nampak asing bagiku oleh sebab pembangunan fly over, tentang dihapusnya aturan 3 in 1 dan 'tentang tentang' lain yang membuatku sadar bahwa Jakarta tak sama seperti dulu.

Kali ini, aku menjelajahi Jakarta menggunakan mobil yang kantor pinjamkan untukku. Terik matahari Jakarta tak lagi membakar kulitku. Namun aku harus berjuang dalam bentuk lain yakni menembus kemacetan ibu kota yang semakin menjadi pada saat jam pulang kantor. Menyetir di jalanan ibu kota agaknya memang membutuhkan kesabaran ekstra. Pernah suatu hari, aku menghabiskan waktu 2.5 jam dari kantor yang berada di kawasan SCBD menuju tempat kostku di Slipi. Takjub pada mereka yang melakukan ini setiap hari.

Meski perlu menghadapi kemacetan setiap hari, aku begitu menikmati sebab waktuku tak lama di sini. Selain itu, aku lebih merasa nyaman menyetir di jalanan Jakarta dibanding di kampung halamanku di salah satu desa di Kab. Bandung. Sebab pengendara sepeda motor di Jakarta lebih tertib berlalu lintas. Meski tentu ada saja yang ugal-ugalan, namun secara garis besar aku beranggapan demikian.

Pada beberapa hari, dengan sengaja aku tak langsung kembali ke tempat kost. Napak tilas, itulah yang kulakukan. Aku pergi melihat Jakarta di malam hari : melihat Monas, Bundaran HI, Istiqlal, masjid yang dulu sering kudatangi oleh karena diajak seorang kawan, mall tempat aku sering berkumpul dengan teman, taman-taman yang kini aduhai indahnya, merasakan menyetir di fly over baru, berbelanja buah pada malam hari di kawasan Tanah Abang, dan lain sebagainya. Semua itu aku lakukan dengan suka cita. Empat tahun berlalu, ternyata sudah lama aku meninggalkan ibu kota. Jakarta banyak berubah, begitupun dengan kehidupanku.

Bila Sabtu dan Minggu tiba, aku pergi menuju sahabatku yang tinggal di Pasar Rebo. Setelah enam bulan, akhirnya kami bertemu kembali. Ada banyak sekali cerita yang kusampaikan padanya, begitu pula ia. Pada minggu berikutnya, aku pergi ke Ciledug untuk bertemu sepupuku. Kawan, silaturahim itu indah. Dan aku sangat bersyukur diberi kesempatan untuk tinggal di Jakarta sehingga aku dapat bersua dengan mereka.

Satu bulan di Jakarta berarti cukup bagiku untuk menikmati kembali kuliner yang dulu aku sukai. Aku mencoba lagi kenikmatan Ayam Penyet Sambal Hijau dan Bebek Bu Uju yang letaknya tak jauh dari tempat kostku, Ayam Bakar Mas Wiji yang berada di RS Kanker Dharmais, juga Burger Blenger yang terletak di kawasan Jakarta Selatan.

Semuanya perjalananku di Jakarta menyenangkan. Meski begitu, pada satu kesempatan aku mengalami kejadian yang kurang mengenakan. Mobil yang kukendarai, diserempet oleh mobil yang lain oleh karena baik aku maupun pengendara itu, tidak mau mengalah untuk memberi jalan. Pada saat itu, aku tak sendiri di dalam mobil. Temanku tampak kaget sekali dan aku merasa bersalah padanya. Belum lagi dengan goresan pada badan mobil yang semakin membuatku cemas. Tapi untung saja mobil yang kukendarai ini sudah memiliki asuransi. Dan memang sudah seharusnya demikian, setiap mobil harus diproteksi dengan asuransi terbaik.

Ada banyak jenis asuransi kendaraan, namun aku ingin mengabarkan berita baik tentang Asuransi Perjalanan Terbaik Pasarpolis yang memiliki beragam macam produk proteksi. Bukan hanya asuransi kendaraan, Asuransi Perjalanan Terbaik Pasarpolis memiliki produk asuransi lain seperti asuransi perjalanan, asuransi kecelakaan diri, asuransi kesehatan, asuransi jiwa dan asuransi properti.


Tak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi dalam perjalanan. Sehingga asuransi menjadi penting untuk dipertimbangkan bagi siapa saja yang sering melakukan perjalanan. Pesan terakhirku, marilah kita sama-sama berkendara dengan baik dan pilihlah asuransi perjalanan yang lengkap dan terpercaya. Semoga kita selalu terlindungi dalam perjalanan. Aamiin.


~ijaah~

You May Also Like

4 comments

  1. Selamat datang kembali di Ibu Kota :)

    Walau macet dan sumpeknya kaya gimana, tapi tetep ya "ke Jakarta aku kan kembaliiiiii...." (malah nyanyi).

    AKu selalu salut sama perempuan yang berani nyetir sendiri di jalanan Jakarta mba karena kendali stressnya mesti tinggi kan ya. IMO.

    Btw salam kenal, hati-hati di jalan ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo mba salam kenal juga ^^
      Jakarta itu dibenci tapi dikangenin juga sama yang butuh uang hihi. benci tapi cinta :D

      Delete
  2. Wahh mbaa sahabatnya tinggal pasar rebo mananya? Saya juga tinggal di sebrang pasarnya di jl.makmurnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teman saya yang tinggal di Pasar Rebo :)

      Delete

Terimakasih sudah berkunjung di Ijaah. Silakan tinggalkan komentar di bawah ini :)