Monday, March 6, 2017

Ada Apes dan Kelak Batih di Sembalun. Apa Itu?

Meski hanya menghabiskan waktu 1 hari 1 malam di Desa Sembalun, aku begitu terkesan dengan suasana alam desa ini. Bayangan saja, malam itu bintang seakan berjarak begitu dekat. Bintang-bintang itu berkelip dengan jenaka, seolah menggodaku untuk terus memandanginya. Pagi harinya, pemandangan yang pertama kulihat saat keluar penginapan adalah Gunung Rinjani yang berdiri begitu kokoh. Udara yang kuhirup sejuk sekali, dan embun seakan melingkupiku dengan kelembutannya yang sangat. Ah, aku rindu Sembalun.

Aku rindu pada masakan khas Sembalun. Masakan yang bahan-bahannya diambil langsung dari tanah Sembalun yang subur. Dengan hanya berbahan sederhana, putri Sembalun mampu menyulap bahan-bahan itu menjadi masakan yang memanjakan lidah. Ah, aku rindu Sembalun. Rindu pada semua yang ada pada Sembalun.

Aku meminta resep Banteng Ngangaq, Apes dan Kelak Batih kepada Ibunda Mas Riyal. Aku mencatat dalam notes di handphone-ku setiap detail resepnya. Bila ada hal yang terlewatkan, aku sampai berkirim pesan kepada Mas Riyal untuk mengirimkan kembali resep-resep itu. Tujuannya supaya masakanku setidaknya mendekati nikmatnya masakan Ibunda Mas Riyal.

Sunday, March 5, 2017

Banteng Ngangaq : Si Pedas - Pedas Manja Dari Sembalun

Ayam taliwang, plecing kangkung, beberoq adalah kuliner khas Lombok yang namanya sudah masyhur. Di seputaran Mataram, restoran dan kaki lima yang menjual ayam taliwang begitu menjamur. Setiap pelancong yang datang ke Lombok, haruslah mencicipi kuliner khas tersebut. Tapi, pernahkah teman-teman mendengar Banteng Ngangaq?

Tunggu. Ini harus diluruskan. Banteng Ngangaq bukanlah banteng yang ngakak (oke ini gak lucu). Banteng Ngangaq adalah kuliner khas Desa Sembalun. Desa ini letaknya berada di kaki Gunung Rinjani. Saya dan rekan blogger lainnya berkesempatan menikmati kuliner khas Desa Sembalun dalam rangkaian kegiatan Travel Writers Gathering 2015 di Lombok.

Ada enam masakan khas Sembulan yang kami nikmati siang itu. Selain Banteng Ngangaq, ada juga Apes, Kelak Batih, Kelak Sin, Ikan Beloh dan Suberang. Keenam masakan itu dimasak oleh putri Sembalun asli, dan kami menikmati masakan nikmat itu di atas tanah Sembalun. Perpaduan yang sempurna bukan?

Thursday, March 2, 2017

Embara Rasa Sembalun

Bayang matahari tak tampak lagi mengikutiku, agaknya matahari telah menggapai puncak. Sinarnya sungguh menyilaukan, terlebih saat ini aku sedang berjalan dengan teramat perlahan menuruni Bukit Pergasingan yang konon medannya nyaris menyerupai Gunung Rinjani.

"Mas Riyal, kok bisa sih jalannya cepat begitu? Ini medannya terjal luar biasa!"

Pria berusia 19 tahun itu mengedipkan mata dengan jenaka seraya menolong kami -para wanita penuh rasa takut- menuruni bukit terjal ini. Melihat penampilannya saat itu aku diliputi takjub. Berani-beraninya dia mendaki gunung hanya dengan mengenakan sandal Swallow!

"Ayo semangat Mbak Zahra. Mamak saya memasak banyak sekali masakan khas Sembalun untuk makan siang. Mbak lapar bukan? Ayok semangat turun!"

Aku meringis. Mendengar masakan perutku jadi keroncong luar biasa. Tadi aku makan pagi jam 4 subuh sebab harus segera mendaki Pergasingan. Selama pendakian, aku hanya minum air putih. Belum lagi dengan tenaga yang dikeluarkan untuk mendaki, cacing di perutku semakin meronta-ronta untuk diberi makan.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...