Pendar Islam di Makedonia for Adinda Azzahra Tour

by - Monday, April 30, 2018

Sumber : wanderlust.co.uk
Aku sedang menuruni tangga saat seorang wanita cantik berjilbab putih melambaikan tangan padaku. Itulah Syifa, musuh bebeyutanku sejak kami duduk di bangku sekolah dasar. Dari sekian banyak orang berwajah khas semenanjung Balkan, mudah saja baginya menemukanku.

"Masya Allah Marwah... Assalamu'alaikum. Dobredojde. selamat datang di Makedonia!"

Aku mengernyit, suaranya masih saja menjengkelkan. 

"Duh, kangen kamu banget deh! Gimana perjalanannya dari Budapest? Lancar?"

"Iya. Lancar. Tapi tolong dong sis lepas dulu pelukanmu ini. Badanku remuk nih!"

"Haha. Oke sis!"

Ah, Syifa. Kau harus tahu bahagiaku hari ini. Selain karena bertemu kembali denganmu, aku sangat senang bisa menapakkan kaki di negara yang digadang-gadang sebagai tempat kelahiran Alexander Agung ini.

"Masya Allah, di sini orang-orangnya kaya artis semua ya, Fa." sahutku takjub.

"Iya lah. Sekarang kamu tahu kan kenapa aku betah tinggal di sini? Andai dua juta penduduk negara ini diekspor ke Indonesia, semuanya pasti jadi artis. Haha."

Kami tertawa. Syifa sudah tiga tahun bekerja sebagai chef di Damaskino, salah satu restoran halal di Skopje. Lewat emailnya, ia bercerita tentang keindahan Makedonia, sejarahnya dan yang paling menarik adalah kehidupan masyarakat suku muslim di negara berbendera matahari ini. Poin terakhir adalah tujuan utama kedatanganku ke negara ini.

"Gak sabar rasanya bertemu dengan suku muslim asli Makedonia. Soalnya di Budapest, rata-rata muslimnya adalah imigran atau mualaf." kataku.

"Tenang, masih ada banyak waktu kamu untuk pergi kesana. Sekarang kita langsung ke apartemenku ya. Siap-siap aja, aku punya banyak daftar pertanyaan buat kamu."

"Asal jangan tanya kapan nikah!"

"Ups. Haha."

Kami segera beranjak dari Bandara Internasional Skopje menuju apartemen Syifa yang berada tak jauh dari Old Bazaar Skopje. Letaknya yang berada di jantung ibukota, membuat Syifa mudah menemukan dan menjangkau apa saja, termasuk masjid. Ada beberapa masjid terkemuka di Skopje di antaranya Masjid Mustafa Pasha, Masjid Sultan Murat, Masjid Jahja Pasha dan Masjid Isa Bey.

Sumber : macedonia.for91days

"Itu, suara adzan?" tanyaku.

"Iya haha, Kok kaget gitu? Sekarang ini kita sudah masuk ke kawasan Old Bazaar, Wah. Ada banyak masjid tua di sini." jawabnya.

"Masya Allah. Kalau gitu kita sholat Ashar di masjid yuk, Fa. Ini tadi adzan Ashar kan?"

"Yup betul, gak ada perbedaan waktu antara Hungaria dan Makedonia. Kalau gitu kita sholat di Masjid Mustofa Pasha, yuk!"

"Ayuk! Ah senangnya!"

Kawasan Old Bazaar ini sangat luas dan banyak dipengaruhi arsitektur khas Ottoman yang berpadu cantik dengan bangunan khas sisa kejayaan Byzantium serta arsitektur modern. Tempat ini merupakan titik pertemuan antara sejarah, budaya dan perdagangan. Sepanjang jalan di Old Bazaar ini terdapat masjid, museum, gereja dan toko yang menjual makanan termasuk kuliner khas Turki seperti kebab dan baklava. Ada pula toko kerajinan tangan dan sisha. 

Sumber : exploringmacedonia.com

"Berasa banget kaya di film Sinbad ya!" seruku takjub.

"Iya. Lihat deh masjidnya, ada kubah dan minaret khas masjid Turki."

"Jadi kebayang gimana dulunya suasana Old Bazaar ini. Tapi setidaknya sisa bangunan ini sudah jadi representatif bahwa kebudayaan Turki pernah melekat dengan sedemikian indahnya di tanah Makedonia." jawabku.

"Iya, masih terasa ya suasana Turki-nya, padahal Old Bazaar ini sudah banyak mengalami perubahan. Apalagi kalau bukan karena perpindahan tanduk kekuasaan. Tapi pemerintah Makedonia yang sekarang mulai menyadari bahwa bangunan peninggalan Kekaisaran Ottoman harus dijaga dan jangan sampai hilang ditelan zaman. Untuk itulah pada tahun 2001, pemerintah Makedonia mencanangkan revitalisasi dan menjaga betul kemurnian Old Bazaar sebagai salah warisan budaya."

"Pasti untuk menarik wisatawan datang ke sini ya?"

"Ya, pastinya. Untuk apalagi? Mereka sadar bahwa aset budaya khas Turki ini bisa memberi banyak keuntungan bagi Makedonia. Terlebih sekarang ini tren wisata halal sedang mencapai puncaknya. Sekarang siapa sih muslim yang gak kepengen jalan-jalan ke Eropa, melihat kekayaan sejarah kebudayaan Islam, sekaligus mudah menemukan tempat untuk sholat dan makan halal? Makedonia, itulah jawabannya!" kata Syifa bangga.

Aku tersenyum. Syifa ini, sudah seperti tourist guide saja.

"Selain itu, Wah, saat ini mulai muncul agen perjalanan wisata yang menawarkan wisata halal. Otomatis dong, mereka mencari tempat yang ramah muslim. Kenapa juga pelaku pariwisata mulai melirik wisata halal? Jelas karena wisata halal ini dapat mengundang profit yang luar biasa besarnya."

"Ya, betul. Aku jadi ingat salah satu temanku di Budapest. Dia non-muslim, tapi selalu berbelanja daging di toko halal tempatku biasa beli. Aku tanya kenapa, alasan dia karena daging halal lebih enak dan jelas kebersihannya. Bisa jadi wisata halal ini gak cuma untuk muslim, tapi non muslim juga. Alasannya karena itu tadi, semuanya sudah terjaga dengan baik, terutama makanannya." jawabku menambahkan.

Masjid Mustofa Pasha Skopje. Sumber : Wikipedia
Setelah berjalan disekitar pertokoan Old Bazaar, akhirnya kami tiba di masjid Mustofa Pasha, salah satu masjid tua peninggalan Kekaisaran Ottoman Turki. Masjid ini dibangun pada tahun 1492 sebagai bentuk penghormatan kepada Mustofa Pasha.

"Usia masjid ini sangat tua, 500 tahun lebih. Kebayang gak lima ratus tahun yang lalu kondisi Indonesia atau Nusantara pada saat itu seperti apa?"

Aku menggeleng.

"Tahun 1492, pada saat masjid ini dibangun, Nusantara sedang dijajah oleh Portugis. Mereka datang ke Nusantara tak semata-mata untuk mencari rempah, Wah. Portugis memiliki semboyan 3G yaitu gold, glory dan gospel dan mereka berhasil meraih semuanya : rempah, kejayaan dan agama. Penyebaran agama kristen begitu masif dilakukan pada saat itu. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pembangunan gereja di seantero Nusantara." jawab Syifa.

"Pada saat yang sama di Makedonia, Islam sedang menyinari tanah ini dengan sebegitu indahnya. Dan kamu tahu, Islam menyinari tanah ini selama 500 tahun. Bayangin! Sekarang gimana? Justru sekarang Indonesia menjadi negara berpenduduk muslim nomor satu di dunia, sedang penduduk muslim di Makedonia ini hanya sepertiganya."

"Masya Allah. Begitu berjayanya Islam dulu di sini ya, Wah..." jawabku perlahan.

"Gak cuma di sini, di dunia, Wah." seru Syifa.

Mataku mulai menghangat, ada rasa sedih sekaligus bangga. Sedih mengetahui bahwa saat ini Islam sedang terpuruk, bahkan perang saudara kerap terjadi. Bangga, bahwa dulu Islam berjaya dan menorehkan tinta emas pada ilmu pengetahuan.


***


"Marwah, mau liat madrasah gak?" tanya Syifa keesokan harinya.

"Ada madrasah di sini? Di kota mana?" tanyaku kebingungan.

"Ada dong, di sini, Skopje. Letaknya di Old Bazaar, cuma kemarin kita gak lewat sana. Jangan bosen aku ajak kamu ke Old Bazaar lagi ya, soalnya tempatnya luas dan banyak tourist point. Lagian kamu mau kan mampir ke restoran tempatku bekerja? Icip kebabnya ya nanti, vkusna!" katanya menggoda.

Perjalanan kami dimulai sejak pagi. Tempat pertama yang kami singgahi adalah medreseja atau madrasah khusus perempuan yang terletak di Old Bazaar. Saat itu kami datang pada jam masuk sekolah belum dimulai, sehingga kami dapat melihat siswi yang tiba di madrasah ini. Aku sungguh terpesona pada kecantikan wanita di Makedonia ini yang memiliki kulit putih merona, memiliki hidung bangir, mata belo serta bibir berwarna merah.

Kapan Han. Sumber: Trip Advisor
"Ah, kalau ini namanya Kapan Han. Han berarti tempat singgah para para pengembara. Ini juga merupakan bangunan peninggalan Kekaisaran Ottoman. Selain ini, masih ada juga han lainnya, seperti Suli Han dan Kurshumli Han."

"Asyik sekali, satu tempat semua ada ya. Kalau sudah lelah berkeliling, ada banyak restoran dan toko halal di Old Bazaar ini. Kalau di Budapest hanya ada sedikit, itupun jauh dari apartemenku. Jadinya aku lebih sering makan sayur, buah dan ikan. Kalau daging jarang-jarang." kataku nyengir.

"Bagus dong makan ikan, bikin cerdas. Bisa jadi kuliah mastermu cepat lulus karena kadar kecerdasanmu meningkat. Haha. Eh, di Budapest ada masjid gak sih?" tanya Syifa.

"Ada, tapi gak berbentuk masjid. Lebih berbentuk seperti ruko. Namanya Mosque of Muslim in Hungary atau Masjid Budapest. Tapi sebenarnya masjid ini lebih dianggap sebagai organisasi keagamaan oleh pemerintah setempat. Ada resepsionis dan lift-nya juga. Masjid ini juga menerima kunjungan dari non muslim yang ingin mengetahui tentang islam, kebanyakan sih mahasiswa yang datang." kataku.

"Setidaknya kamu gak sendiri, Wah. Ada saudara seiman yang bisa menguatkan." jawab Syifa.

Aku mengangguk mantap. Setelah mengunjungi berbagai tempat di Old Bazaar, kami mampir sejenak di Damaskino, restoran halal tempat Syifa bekerja. 

"Kebabnya beda ya sama yang di Indo, haha." kataku.

"Ini asli Turki tau, yang masak orang Turki asli. Tapi enak kan?"

Aku menjentikan jari khas Pak Bondan.

"Eh kamu setuju gak sih kalau tinggal di negara minoritas bisa menambah keimanan? Kalau aku sih yes!" tanyaku.

"Aku juga yes. Tapi gimana orangnya juga sih, Wah. Ada orang yang mendapat hidayah pada saat diposisikan menjadi minoritas, ada pula yang terbawa arus menjauhi tuntunan agama. It depends on ourself."

Syifa kemudian mengajakku menyusuri bangunan sejarah di Skopje. Aku begitu kagum pada kota yang dulu pernah menjadi bagian negara Yugoslavia ini. Tampuk kekuasaan yang silih berganti sejak periode Roman, Ottoman dan terakhir menjadi periode Sosialis Yugoslavia, menjadikan negara ini kaya akan peninggalan sejarah.

Skopje Fotress. Sumber : exploringmacedonia.com

"Ini dia Skopje Fortress atau biasa disebut Kale. Menurut para ilmuwan, benteng ini dibangun pada abad ke-6 di daratan yang telah dihuni sejak zaman neolitik. Kale ini menjadi saksi bisu pertukaran kekuasaan di tanah Makedonia dan sampai kini keberadaannya masih saja kokoh. Masya Allah." ungkap Syifa.

Menyusuri jalanan Skopje membuatku berkesimpulan bahwa Makedonia ini adalah negara langganan penjajahan asing. Negara kelahiran Mother Theresa ini baru benar-benar merdeka pada tahun 1991. Sejak saat itu Makedonia membenahi diri dan nampaknya usaha pembaharuan itu jelas terlihat. Pelajaran penting dari perjalanan hari ini sungguh menyentuh sisi spiritualku bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Jadi, untuk apa berlelah-lelah mencari sesuatu yang tak abadi?


***

Hari yang kunanti tiba jua. Sesuai janjinya, Syifa akan mengajakku ke desa yang dihuni oleh suku muslim Torbesi. Skudrinje adalah nama desa tersebut. Menempuh jarak sejauh 300 km dari Skopje, akhirnya kami tiba di desa itu.

"Desa Skudrinje ini dihuni oleh suku Torbesi, suku peninggalan kekuasaan Ottoman Turki. Kehidupan Islam di desa ini sangat hidup, kamu dengar lantunan shalawat itu kan, Wah? Itulah suara anak-anak desa Skudrinje yang sedang belajar agama di masjid."

Aku tersenyum dan seperti tak menyangka bahwa aku masih ada di tanah Makedonia. Kehidupan di desa ini asri, namun tampak sepi sebab banyak warganya yang pergi mencari mata pencaharian di luar Skudrinje. Selain itu suku ini pun mulai kehilangan penerusnya karena banyak yang berasimilasi dengan suku lain atau meninggalkan tradisi Torbesi.

"Coba deh kamu pehatikan perempuan suku Torbesi. Ada yang unik gak?" tanya Syifa.

"Satu hal yang sedari tadi mencuri pandanganku itu pakaiannya." jawabku mantap.

"Ya, itulah keunikan suku Torbesi. Kaum wanitanya memiliki aturan pakem dalam berpakaian yaitu mengenakan celana sebetis yang kemudian dilapisi celemek berwarna putih, serta jilbab segitiga yang dikenakan di kepala" ucap Syifa.

Syifa lantas mengajakku singgah ke salah satu rumah Suku Torbesi. Seakan mengetahui kedatangan kami, sang empunya rumah menyambut kami dengan senyumnya yang hangat.

"Assalamu'alaykum. Dobredojde vo Skudrinje!"

"Wa'alaikumsalalam. Mama Fatima, kako si? Mnogu mi nedostasuvas?"

"Alhamdulillah..."

Keduanya berpelukan sangat erat. Mama Fatima adalah ibu dari calon suami Syifa yang bernama Ahmed. Syifa dan Ahmed sama-sama bekerja di Damaskino dan kemudian saling jatuh cinta. Namun sayang Syifa dan Ahmed belum berjodoh di dunia ini karena tahun lalu Ahmed mengalami kecelakaan dan meninggal di rumah sakit. Meski begitu Syifa masih sering mengunjungi Mama Fatima.

"Marwah, sebentar lagi Mama Fatima akan menghidangkan makanan khas Skudrinje. Tunggu ya, kamu pasti suka seperti aku." seru Syifa antusias.

Siang itu Mama Fatima menghidangkan tiganici yakni roti goreng yang terbuat dari tepung, air dan sedikit garam, juga jomlaza yang merupakan campuran kacang kedelai panggang dengan tepung dan air, serta tak ketinggalan nasi dengan daging. Rasanya cukup lezat dan membuat perutku kenyang seketika.

"Vi blagodaram, Mama Fatima" kataku penuh hormat.

Sorenya Syifa mengajakku berkeliling desa dan mampir di kelas Al-Qur'an yang dihadiri anak-anak suku Torbesi. Sebentar lagi akan ada acara khataman Qur'an, sehingga mereka berupaya untuk memperbaiki hafalan mereka di depan sang guru. Melihat mereka ber-tasmi' membuatku rindu pada tanah air dan surau tempatku mengaji dahulu.

"Oya kamu tahu gak, kalau suku Torbesi ini dulunya merupakan kaum Slavia yang masuk Islam sejak Ottoman Turki berkuasa? Nah pemerintah Ottoman gak cuma mewariskan suku Torbesi. Ada pula suku Pomaks yang hidup di Ribnovo, Bulgaria. Hebatnya, kehidupan Islam suku Pomaks semakin hidup saat tampuk kekuasaan komunis merajalela di Bulgaria. Selain itu masih banyak suku lain peninggalan Ottoman, Wah."

Aku mengangguk perlahan. Ingin rasanya menjelajahi setiap negara yang dahulu pernah dikuasai Ottoman Turki dan bertemu suku Islam asli negara tersebut. Torbesi di Macedonia, Pomaks di Bulgaria, Lukomir di Bosnia dan lainnya.

Insya Allah, semoga Allah memanjangkan langkahku untuk menjelajahi bumi-Nya yang luas ini.


***

"Kalau ke Macedonia, gak lengkap kalau gak ke Ohrid. Sunset-an di sana yuk nanti!" kata Syifa.

Danau Ohrid. Sumber : wanderlust.co.uk

Ohrid merupakan salah satu kota tua di Eropa. Kota ini memiliki banyak gereja yang berpadu dengan jalanan berbatu dan bangunan peninggalan khas Ottoman. Selain itu, Ohrid memiliki danau yang sangat luas bernama danau Ohrid. Ini merupakan danau tertua, terdalam dan terbersih di Eropa sehingga UNESCO menetapkan danau Ohrid sebagai warisan budaya dunia. 

"Danau Ohrid ini udah kaya laut ya, punya garis pantai dan luas sekali." seruku.

"Iya, indah bukan? Lihat deh airnya biru serta dikelilingi bukit dan pegunungan yang indah, masya Allah. Kalau mau lihat Ohrid dari atas, kita bisa naik ke Benteng Tsar Samoil's."

Aku mengangguk. Itu bisa nanti, pemandangan dari tepi danau ini sangat indah dan menyejukkan. Tempat yang tepat untuk bercerita apa saja dengan yang dicinta.

"Syifa, kamu keliatannya gak sulit tinggal di sini ya?" tanyaku.

"Alhamdulillah, Allah selalu menjaga dan memberiku petunjuk, Wah. Mudah sekali bagiku menjangkau masjid dan ikut kajian keislaman. Mudah pula bagiku menemukan makanan dan pekerjaan yang halal. Aku tak merasa sepi karena banyak saudara seiman di negara ini." jawabnya mantap.



"Setelah ini, kamu mau kemana, Wah?"

"Pulang ke Budapest. Tugas numpuk nih." jawabku polos.

"Maksudku kamu mau menjelajah ke negara mana lagi? Haha. Eropa Barat udah kamu ubek, kan?"

"Oh. Haha. Albania dan Bosnia-Herzegovina, insya Allah." sahutku .

"Mampir masjid Istiklal dong?"

"Pastinya. Itulah masjid yang merupakan cerminan cinta muslim Indonesia kepada muslim Bosnia." jawabku.

"Ya, sungguh keren ya Pak Harto saat itu. Beliau memaksakan diri terbang ke Sarajevo untuk melihat kondisi muslim Bosnia pasca agresi militer Serbia. Perjalanan yang sungguh beresiko tinggi karena dua hari sebelumnya pesawat PBB ditembak jatuh di atas udara Bosnia. Bahkan pasukan PBB kala itu berlepas tangan dan Pak Harto diminta untuk menandatangani kontrak mati sebelum penerbangan ke Sarajevo." tambah Syifa.

"Masya Allah. Sejarah mencatat ini sebagai kunjungan yang begitu berani ke kancah peperangan dan ini dilakukan oleh presiden Soeharto." kataku bangga.

Masjid Istiklal Sarajevo. Sumber : goodnewsfromindonesia.id

"Eh, Eropa itu masuk ke Eropa awal abad ke-8 kan ya?" tanyaku.

"Ya, betul. Islam masuk ke Eropa lewat Andalusia di awal abad ke-8 oleh Thariq bin Ziyad. Invasi Islam ke Eropa itu terjadi gak lama sejak kenabian Rasulullah. Saat itu Jendral Thariq membawa 12 ribu pasukan muslim terbaik untuk membebaskan tanah Andalusia." ungkap Syifa.

"Nah ada yang menarik ni, Wah. Saat itu Jendral Thariq menyeleksi para pasukannya dengan beberapa aspek ibadah seperti kehadiran sholat lima waktu, hafalan Al-Qur'an dan amalan sunnah. Lihatlah, sejak dulu Islam selalu mempersiapkan pasukan terbaiknya untuk menyebarkan agama rahmatan lil'alamiin ini. Dengan begitu, tampuk kekuasaan Islam selalu lama bertahan, di Andalusia sendiri bertahan selama 7 abad."

"Dan saat Eropa mengalami Abad Kegelapan, Islam justru sedang terang benderangnya. Sebutkan saja siapa bapak kedokteran, bapak matematika atau penemu lainnya, jawabannya pasti Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi yang merupakan seorang muslim." ucapnya menambahkan.

"Yup. Setelah itu, daratan ini ditaklukan kembali oleh pasukan Islam yaitu Ottoman Turki yang berkuasa selama 6 abad lamanya. Dulu Islam begitu benderang, mengapa kini seperti ini, Fa?" tanyaku perlahan.

Kami tertegun cukup lama. Keruntuhan dinasi Ottoman Turki satu abad lalu telah menghidupkan nilai-nilai lain dalam sosial kemasyarakatan yang mana nilai itu bertentangan dengan ajaran Islam.

"Ada banyak yang terjadi. Tapi mungkin alasan terbesar adalah umat Islam kini jauh dari Al-Qur'an sehingga mudah terpengaruh oleh pengaruh luar. Perubahan masif harus dilakukan seluruh umat Islam di dunia ini untuk meraih kejayaan Islam kembali. Insya Allah kita sedang menuju ke sana, Wah. Lihat saja dari segi ekonomi, pariwisata dan pendidikan Islami yang berkembang pesat beberapa tahun terakhir ini." jawab Syifa.

"Betul, namun jangan lupa bahwa perubahan paling mudah yang bisa kita lakukan adalah melalui diri kita sendiri dan terhadap generasi penerus kita nanti. Kapan Islam mulai benderang lagi, Fa?", tanyaku terisak.

"Insya Allah, dengan izin Allah kejayaan Islam akan terjadi lagi..." jawab Syifa.

Keheningan menyelubungi kami sore itu. Nampaknya pikiran kami berkelana ke masa lalu saat dimana Islam menguasai daratan Eropa. Syifa lantas mengajakku untuk sholat maghrib di sebuah mushola di tengah kota Ohrid sebelum kami menaiki bus menuju Skopje. Tak terasa esok adalah hari terakhirku di Skopje sebelum kembali ke Budapest, Hungaria.

Perjalanan kali ini di Mekedonia dan bertemu saudara seiman di belahan bumi lain semakin membuatku cinta pada agama ini. Cinta untuk kemudian rindu. Rindu pada masa dimana Islam dan ilmu pengetahuan saling menguatkan, juga pada pendar cahaya Islam yang indah. Akankah aku tiba pada masa Islam menyinari dunia ini kembali?

Tak ada yang tahu. Namun diri ini takkan henti untuk selalu menemukan pendar Islam di bumi Allah ini, insya Allah.


***


Sumber :
  1. Wikipedia
  2. Republika
  3. Youtube : Jazirah Islam
  4. halaltrip.com
  5. exploringmacedonia.com
  6. tripadvisor.com
  7. macedonia.for91days
  8. goodnewsfromindonesia.id


~ ijaah ~

You May Also Like

32 comments

  1. Waah seru ya eropa bagian ini, jadi pingin juga jln2 ke eropa. Aku baru tau makedonia lewat tulisan ini juga 😁. Kerenn bisa traveling sekaligus beribadah ya mempelajari lebih luas sejarah islam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba dakuu juga ingin hehe. Semoga kita nanti bisa melangkah ke Eropa dan menyusuri peradaban Islam di Makedonia aamiin ^^

      Delete
  2. Melihat foto-fotonya ini Macedonia seperti perpaduan Turki dengan Spanyol ya.

    ReplyDelete
  3. subhanalloh cantik banget ya makedonia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba masya Allah... Daku paling pengen ke Ohrid dan bincang2 sama suami di sana mba hehe.

      Delete
  4. Cerpen ini membuka wawasanku twntang Macedonia, dulu cuma baca2 sekilas tentang iskandar zulkarnain aka Alexander the great tapi sekarang makin tau ttg negara ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah semoga bermanfaat ya mba Liza :)

      Delete
  5. I have been wanting to come and visit Macedonia! Tanteku pernah tugas di sini selama 4 tahun dan memang cantiiik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah dikomenin mba Indah, one of my favorite blogger ^^

      Iya cantik banget, mupeng liat fotonya terlebih setelah menulis ini... Duh kepengennya jadi nambah-nambah :')

      Delete
  6. Subhanallah.... Seneng banget pastinya bisa jalan jalan ke luar negeri yang banyak masjidnya dan makanannya halal juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya masya Allah. Makedonia adalah negara yg ramah muslim :)

      Delete
  7. memang paling asyik lht arsitektur mesjid ya , suka ada yang keren, indah, unik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, terlebih di negara yg dulunya dikuasai khilafah islam spt makedonia ini :)

      Delete
  8. Seru banget ya bisa pergi ke sini arsitekturnya bagus sekali, indah sekali pemandangannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba masya Allah, terlebih Ohridnya itu hoho bikin mupeng :')

      Delete
  9. Seneng bgt baca ceritamu, serasa ikut jln2 disanaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huaa dikomenin mba noe :*
      Alhamdulillah. Makasih mba :)

      Delete
  10. MasyaAllah, menelusuri jejak kejayaan islam, rasanya menakjubkan ya mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba. Sekaligus bikin terharu juga :)

      Delete
  11. suka bacanya, berasa diajak kesana juga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Jazakillah khair mba Retno :)

      Delete
  12. pengen banget ke sana karena baca artikelnya yang mengalir ceritanya. Nggak nyangka kalo itu Eropa mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Yuk mba kita ke Eropa. Minta sama Allah :')

      Delete
  13. Mbak kreatif banget sih cerita tentang suatu lokasi diceritakan pakai gaya bertutur/ percakapan gtu. Jd keinget novel2 yang settingnya luar negeri. COba deh mabk dibikin novelnya aja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah aamiin. Makasih suntikan semangatnya mba ^^

      Delete
  14. Macedonia.. Aduh, keren lah ceritanya aku berasa ikut kesana (walau keponggirannya aja belum pernah) haha. Siapa sih yg g pengen liat sejarah islam disini. Ngebayangin dulu saat islam lg maju2nya ya pasti senang. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Iya pasti keren bangeeett :)))

      Delete
  15. masyaAllah indah banget Mba, bikin gemetar dada ini akan kekuasaanNya

    ReplyDelete
  16. gaya berceritanya bagus, massha allah, makedonia memang ga lepas dr sejarah ottoman, bangunan2 yg identik selalu sama: ada masjid, pasar dan madrasah, ini sudah menjadi ciri khas ottoman, sampai skrg pun di center2 daerahnya di turki tetap sama:dimana ada pusat keramaian sprt old bazaar di istanbul (biasa disebut carsı) pasti ada masjid, dideket rumah juga gitu, carsi dan camii (masjid) ga akan terpisah. Salam kenal mba:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masya Allah salam kenal mba Rahma ^^ duh senangnya dikomenin dari Turki langsung. Makasih jg tambahan informasinya mba Rahma :) kabarnya juga old bazaar di skopje ini merupakan yg terluas di luar Turki.

      Delete

Terimakasih sudah berkunjung di Ijaah. Silakan tinggalkan komentar di bawah ini :)