Imunoterapi, Kalahkan Kanker dengan Tubuh Sendiri

25 comments:

"Hidup itu bukan soal panjang pendeknya usia, tapi seberapa besar kita dapat membantu orang lain." - Sutopo Purwo Nugroho

***

Masih membekas dalam ingatan ihwal kepergian Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho setahun yang lalu. Ia, di tengah perjuangannya melawan penyakit berat, tetap semangat menginformasikan berita bencana baik itu kepada awak media atau di akun Twitter pribadinya. Renjananya pada kebaikan telah membawa namanya harum meski ia telah pergi menghadap Illahi.

Adalah kanker paru, penyebab kematian Pak Sutopo. Riwayat pengobatannya yang panjang itu telah berakhir di Guangzhou, Tiongkok. Ragam terapi telah ia upayakan demi kesembuhan. Namun rupanya daya tahan tubuhnya tak kuat lagi melawan serangan kanker yang telah menyebar secara masif ke organ tubuhnya yang lain.

Tak hanya Sutopo, masyarakat Indonesia pun dikejutkan dengan kepergian Ibu Ani Yudhoyono, Ria Irawan, istri Indro Warkop dan komedian Agung Hercules akibat penyakit kanker. Selain itu, baru-baru ini artis muda Vidi Aldiano dikabarkan menderita penyakit yang sama. Betapa kanker bisa menyerang masyarakat tanpa pandang bulu.

Berita perihal kanker tak hanya menyoal para penyintas, namun juga terkait faktor pencetus kanker (penarikan Ranitidin oleh BPOM) dan penemuan obat. Adalah akar bajakah, yang baru-baru ini menjadi viral sebab diklaim mampu menyembuhkan kanker. Ada yang percaya, ada yang menyangkal. Sebab dibutuhkan uji klinis bertahun-tahun untuk menyatakan sebuah tanaman dan zat yang terkandung di dalamnya mampu memberikan angka survival yang baik pada penderita kanker.

Saya sendiri pernah beberapa kali berinteraksi dengan penyintas kanker. Di tengah kesakitan yang mereka rasakan, saya temukan semangat hidup yang membara. Kanker dan kemoterapi yang dijalani memang merenggut keelokan fisik, namun tidak dengan apa yang ada dalam dirinya. Semoga ini menjadi penggugur dosa saya, begitu kata mereka. 

Pernah satu kali masa, saya mendonorkan darah bagi salah satu penyintas kanker leukimia. Ia masih anak-anak, belum jua masuk usia sekolah. Saya mendonorkan trombosit melalui proses donor darah apheresis. Rasanya menggigil saat darah dikeluarkan, diproses di alat khusus yang mampu memisahkan trombosit dari sel darah lain, lalu sisa darah dimasukkan lagi ke tubuh saya. Ini baru donor darah yang hanya memakan waktu satu jam. Saya tak mampu membayangkan bagaimana penderitaan adik kecil yang tengah menunggu trombosit ini. Kanker tidaklah mudah. Bagi yang mengalaminya, merekalah pejuang hidup yang sesungguhnya.


Berdasarkan data yang dirilis oleh Globocan (Global Burden Cancer) 2018, penderita kanker di dunia telah mencapai 18,1 juta orang dengan angka kematian mencapai 9,6 juta jiwa. Jumlah yang terus meningkat sepanjang tahun ini mempresentasikan perbandingan 1 dari 5 laki-laki dan 1 dari 6 perempuan mengalami kejadian kanker, serta 1 dari 8 laki-laki dan 1 dari 11 perempuan meninggal akibat kanker.

Prevalensi kanker di Indonesia sendiri menempati peringkat ke-8 di Asia Tenggara dan ke-23 di Asia dengan jumlah kasus 348.809 serta angka kematian yang mencapai 207.210 jiwa. Masih dari data yang dirilis oleh Globocan, jenis kanker terbanyak yang dialami penduduk Indonesia adalah kanker payudara (16,7 % dari jumlah kasus) dan serviks (9,3% dari jumlah kasus).
Kemenkes sendiri telah merilis data per 31 Januari 2019 yang menyebutkan angka kejadian kanker di Indonesia meningkat dari 1,4 per 1000 penduduk di tahun 2013 menjadi 1,79 per 1000 penduduk pada tahun 2018. Prevalensi kanker tertinggi adalah provinsi DI Yogyakarta 4,86 per 1000 penduduk, diikuti Sumatera Barat 2,47 per 1000 penduduk dan Gorontalo 2,44 per 1000 penduduk. Data tersebut juga menyebutkan kanker payudara dan serviks merupakan kejadian kanker yang paling banyak dialami penduduk Indonesia.

Sementara itu jenis kanker yang paling sering terjadi pada anak adalah leukimia atau lebih dikenal sebagai kanker darah. Pada pria, angka kejadian kanker tertinggi adalah kanker paru dengan prevalensi 19,4 per 100.000 penduduk dan rata-rata angka kematian 10,9 per 100.000 penduduk. Jenis kanker paru terbanyak adalah kanker paru-paru non sel kecil dengan jumlah 87% kasus.

Angka kejadian kanker yang semakin meningkat ini menjadi perhatian penuh bagi semua pihak. Pemerintah telah membuat ragam kebijakan dari deteksi dini, edukasi kesehatan hingga bantuan biaya pengobatan. Sedang para ilmuwan dan tenaga kesehatan tak henti berinovasi untuk menemukan terapi kanker yang optimal.

Tak hanya itu, peran lintas sektor di luar bidang kesehatan semakin memperlihatkan kepedulian terhadap kanker. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya gerakan peduli kanker baik di dunia nyata maupun maya, relawan dan rumah singgah bagi para penyintas kanker. Adapun peringatan hari kanker sedunia yang jatuh setiap tanggal 4 Februari menjadi momen untuk menyebarluaskan serta meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat tentang kanker yang merupakan pembunuh nomor 2 di dunia. Momen ini juga diharapkan mampu menguatkan komitmen bersama untuk menurunkan beban kanker Indonesia. Pada tahun 2020, hari kanker sedunia mengambil tema #IAmAndIWill.

Indonesia, dalam hal ini Kementerian Kesehatan Indonesia, telah melakukan ragam upaya pencegahan dan pengendalian kanker dengan memperhatikan 4 pilar utama, yaitu :

  1. Promosi kesehatan, tentang bagaimana Kemenkes memberikan edukasi pada masyarakat khususnya terkait pencegahan kanker.
  2. Deteksi dini, yakni kesadaran melakukan cek kesehatan secara berkala.
  3. Perlindungan khusus, dalam hal ini vaksinasi.
  4. Pengobatan yang dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas, alat kesehatan dan tenaga medis yang mumpuni.
Edukasi kanker kepada masyarakat telah dilakukan secara masif dilakukan oleh pemerintah, baik itu melalui seminar awam, penyebaran informasi berupa iklan layanan masyarakat maupun feed di media sosial. Adapun terkait deteksi dini, pemerintah tak hanya melakukan himbauan, namun juga menyediakan program gratis deteksi dini kanker seperti yang dilakukan oleh Organisasi Aksi Solidaritas Era (OASE) Kabinet Kerja bersama ibu negara Iriana Joko Widodo yang melakukan tes IVA pada sekitar 3,5 juta perempuan.

Screening atau deteksi dini pada kanker sangat penting dilakukan sebab jika kanker ditemukan pada stadium lanjut, resikonya akan sangat berbahaya. Menurut Regional Workshop NCCP India tahun 2010, deteksi dini terbukti mampu mendeteksi kanker pada stadium awal (stadium I dan II) sebesar 68%. Deteksi dini pada kanker serviks bisa dilakukan dengan tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) dan Papsmear, sedang pada kanker payudara bisa dilakukan dengan metode SADARI (Periksa Payudara Sendiri) dan Sadanis (Periksa Payudara Klinis).

Selain itu, Germas dan pola makan sehat dengan porsi Isi Piringku sangat penting dilakukan. Germas dengan 7 pilar di dalamnya berisi aktivitas sehat dan bersih secara sistematis yang mudah dilakukan oleh setiap komponen masyarakat. Sedangkan Isi Piringku adalah porsi makanan yang harus dikonsumsi setiap kali makan.

Upaya pencegahan dan pengendalian kanker ini harus terus menerus dilakukan sebab masih banyak masyarakat yang awam akan bahaya kanker. Awam oleh karena gejala awal yang ditunjukan serupa dengan penyakit lain, misalnya gejala awal kanker paru, sehingga tidak ada kemauan untuk memeriksakan diri ke dokter dan memilih mengobati secara mandiri. Hal inilah yang menjadi tantangan dalam upaya memerangi kanker di Indonesia.

Selain kesadaran masyarakat akan kanker yang belum terbangun dengan baik, tantangan lain yang dihadapi Indonesia dalam upaya memerangi kanker adalah luasnya wilayah Indonesia, kurangnya ahli onkologi, kurangnya fasilitas kesehatan dan minimnya daya beli masyarakat.

Dalam konteks yang lebih luas, terapi kanker yang ada saat ini sudah banyak jenisnya yakni kemoterapi, operasi, radioterapi, terapi tertarget, terapi hormon dan transplantasi stem cell. Masing-masing memberikan angka survival yang cukup baik. Hanya saja efek sampingnya dirasa masih memberatkan pasien, seperti munculnya infeksi sekunder, anemia, rambut rontok, ruam kulit, diare dan lain sebagainya.

Maka dari pada itu, para ahli dan tenaga kesehatan tak henti berinovasi untuk menemukan terapi kanker terbaik sebagai jawaban dalam upaya masif memerangi kanker di dunia ini. Selama puluhan tahun, mereka terus melakukan penelitian dengan fokus pada aspek abnormal sel, seperti menganalisa pertumbuhan sel ganas maupun mutasi genetik yang membedakan sel kanker dan sel normal.

Saat ini para ilmuan mulai meneliti pengobatan kanker melalui proses normal yang ada dalam tubuh yakni pencarian, deteksi dan penghancuran sel kanker oleh sistem kekebalan tubuh (sistem imun). Maka, ditemukanlah sebuah terapi baru bernama imunoterapi yang pada dasarnya mampu mengembalikan kemampuan sistem imun agar tubuh dapat melawan sel kanker secara mandiri. Kemampuan imunoterapi diyakini semakin kuat sejak mantan presiden Amerika Serikat dinyatakan sembuh dari melanoma setelah diterapi dengan PD-1 inhibitor. Sejak saat itu, pengobatan ini mulai diujicobakan ke jenis kanker lain dan menemukan titik terang.

Mari kita bayangkan tubuh kita adalah sebuah negara yang memiliki pasukan militer hebat bernama sel T. Ia, dengan segala kemampuannya, mampu mendeteksi dan menghukum mafia yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Kekuatannya tak terbantahkan. Jika ada saja satu daerah yang diganggu mafia, sel T akan segera hadir dan membasminya. Hanya saja, mafia pun tak kalah pandai. Ia memiliki siasat 'kamuflase' untuk mengelabui sel T sehingga keberadaannya terlihat seperti penduduk biasa. Akhirnya sudah bisa ditebak, sel T tak mampu mendeteksi mafia sehingga kelompok kriminal itu bisa sesuka hati memperluas area kejahatannya.

Mafia yang dimaksud adalah sel kanker, sedang sel T adalah sistem imun yang terdapat di dalam tubuh manusia. Pada dasarnya, sistem imun kita mampu mendeteksi dan membasmi pertumbuhan sel abnormal. Namun pada beberapa kondisi, kemampuan sistem imun menurun oleh karena kamuflase yang dilakukan oleh sel kanker. Adalah protein PD-L1 pada permukaan sel kanker yang menjadi pelaku kamuflase pada sistem imun sehingga sel kanker yang ada terlihat seperti sel normal.

Maka dari itu, para ahli melihat ada celah pengobatan kanker dari perbaikan sistem imunitas tubuh. Adalah William Coley, seorang ahli bedah asal New York yang pertama kali menemukan sebuah teori bahwa sistem imun mampu menekan pertumbuhan tumor. Ia menyuntik pasiennya dengan bakteri untuk menyembuhkan kanker yang dijuluki Coley's toxin. Sayangnya temuan Coley di tahun 1890-an ini tidak direplikasi oleh ahli lainnya. Tak lama kemudian, penemuan radioterapi dan kemoterapi mengalami kemajuan pesat dan menjadi primadona dalam pengobatan kanker selama puluhan tahun. Sayangnya, alih-alih membunuh sel kanker, kedua metode ini juga merusak sebagian sel normal dan menyebabkan efek samping yang merugikan.
Kini, para ahli mulai melihat kembali imunoterapi sebagai jawaban dari rumitnya pengobatan kanker. Teori ini berlandaskan pada kesadaran bahwa sistem imun mampu berevolusi dan melawan musuh yang sangat rumit dan bervariasi. Tak hanya mengenali satu protein saja, sistem imun juga mampu mengenali ragam jenis protein dan mengembangkan sel-sel memori. Kemampuan sistem imun yang hebat ini akan menyulitkan sel kanker untuk lolos dari pendeteksian dan penghancuran, bahkan jika sel kanker tumbuh kembali setelah bertahun-tahun terapi dihentikan.

Biologi imunitas dan kanker adalah ranah ilmu yang sangat rumit. Tetapi dengan mengetahui aspek mana yang ditargetkan, para ilmuwan dapat mengembangkan pengobatan imunoterapi yang sesuai. Target dari imunoterapi adalah mendeteksi sel kanker yang berkamuflase dengan mengenali immune checkpoint atau protein yang ada di permukaan sel kanker yakni PD-L1. Ketika berikatan dengan protein lain seperti B7.1 dan PD-1, PD-L1 dapat menghambat proses pembentukan dan aktivasi pasukan T di kelenjar getah bening dan menghalangi proses penghancuran sel kanker oleh sel T di dalam tumor.

Tujuan imunoterapi kanker adalah memperkuat dan mengembalikan kemampuan sistem imun dalam menjalankan fungsinya dengan cara memblokir ikatan PD-L1 (checkpoint inhibitor) dengan protein lain sehingga sel T dapat mengenali sel kanker dan menghancurkannya. Jenis obat imunoterapi yang ada saat ini yaitu monoclonal antibody anti PD-L1, anti PD-1 dan anti CLT4.

Imunoterapi memiliki cara kerja yang berbeda-beda yakni ada yang mencari dan menangkal mekanisme yang menghalangi sel T untuk bereaksi, ada juga yang merangsang terjadinya respons imun. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat bersama siklus imunitas kanker dalam infografis di bawah ini.


Imunoterapi kanker bekerja pada tahap pembentukan, aktivasi pasukan sel T di kelenjar getah bening (tahap 2 dan 3) dan penghancuran sel kanker di dalam tumor (tahap 7). Siklus imunitas kanker ini sangat penting dan menjadi kerangka berpikir untuk riset imunoterapi kanker di seluruh dunia. Memahami siklus ini dapat menjabarkan apa yang perlu terjadi agar respons imun berhasil dalam melawan kanker, serta menemukan kombinasi pengobatan yang tepat bagi pasien.

Selain siklus imunitas kanker, setidak-tidaknya ada 3 jenis fenotipe sistem imun yang menjadi fokus dalam riset imunoterapi. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah membuat sel-sel imun yang bisa mengenali tumor dengan memakai vaksin kanker. Pendekatan ini dikhususkan pada jenis fenotipe immune desert (kondisi dimana sama sekali tidak ada respons imun). Di masa depan, imunoterapi yang ada akan memiliki fungsi merangsang daya infiltrasi sel T ke dalam tumor (fenotipe immune excluded tumor - kondisi dimana sistem imun ada namun tidak aktif) dan memperkuat sel T untuk terus bekerja dan menuntaskan pembasmian sel kanker (fenotipe inflamed tumor - respon imun terlihat aktif namun tidak bisa menyerang).

Imunoterapi yang efektif memerlukan pendekatan berganda, dalam artian kombinasi dari beberapa perawatan seperti radioterapi, kemoterapi, terapi target dan imnoterapi yang lain yang disesuaikan dengan keadaan biologis pasien. Tujuan akhirnya adalah menyusun regimen obat khusus untuk setiap pasien atau yang lebih dikenal sebagai personalized cancer immunotherapy.

Kalahkan kanker dengan imunoterapi adalah secercah cahaya bagi para penyintas kanker. Kabar baiknya, para peneliti sedang mengembangkan imunoterapi pada hampir seluruh jenis kanker, dari mulai kanker payudara, kanker kelenjar getah bening, melanoma, kanker paru, kanker usus besar, kanker ginjal, kanker darah, kanker sarkoma, kanker kandung kemih, kanker prostat, hingga myeloma.

Mengobati kanker dengan imunoterapi berarti percaya penuh pada tubuh untuk mengalahkan kanker secara mandiri. Bersama, mari kita memperkuat percaya pada upaya para ahli dalam menemukan obat terbaik dan menyatukan semangat dalam upaya pencegahan, penanggulan dan pengobatan penyakit kanker.

Akhir kata, silakan hubungi dokter untuk konsultasi lebih lanjut mengenai imunoterapi sebagai terapi kanker.

***

Olah infografis oleh Zahra Rabbiradlia.

Sumber foto :

  1. Shutterstock
  2. Roche.co.id

Referensi tulisan :

  1. https://kalahkankanker.com/imunoterapikanker/
  2. https://www.roche.co.id/id/sekilas_tentang_roche/lingkup_usaha/farmasi/onkologi/imunoterapikanker.html
  3. https://www.kemkes.go.id/article/view/19020500001/deteksi-dini-cegah-kanker.html
  4. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/06/03/kasus-kanker-payudara-paling-banyak-terjadi-di-indonesia

~ijaah~

Variasi Nasi Goreng Kekinian, Mulai dari Bentuk Hingga Topping Unik

21 comments:
Sumber : Shutterstock

Jika Anda pecinta nasi goreng, jangan ketinggalan mencicipi berbagai variasi nasi goreng kekinian yang populer ini. Rasanya pun tidak kalah dengan nasi goreng biasa.

***
Nasi goreng adalah sajian makanan yang sangat populer dan akrab bagi masyarakat Indonesia. Bukan hanya cara pengolahannya yang mudah dan praktis, tetapi rasanya juga enak dan lezat. Itulah sebabnya, nasi goreng sering menjadi menu pilihan, baik dalam makanan keluarga maupun pada acara-acara spesial.

Nasi goreng sederhana pada umumnya terdiri atas bahan-bahan dasar seperti nasi, telur, daging ayam atau daging sapi. Bumbu halus yang digunakan pun standar, seperti bawang putih, bawang merah, kecap manis, dan saus. Seiring dengan berkembangnya industri kuliner, olahan nasi goreng semakin variatif bahkan unik, baik dari segi bentuk maupun topping. Berikut beberapa di antaranya:

1. Nasi Goreng Sushi 

Apa yang terjadi jika kuliner Jepang dan Indonesia dipadukan? Salah satu contohnya adalah saat olahan nasi goreng digabungkan dengan sushi. Sushi adalah makanan Jepang yang terdiri atas nasi dan lauk yang kemudian dibungkus dengan nori. Bedanya, pada Nasi Goreng Sushi, nasi yang digunakan telah digoreng terlebih dahulu. Ada sejumlah restoran yang menyajikan nasi goreng ini untuk pelanggannya.

Hal yang perlu diperhatikan saat memasak Nasi Goreng Sushi adalah tekstur nasinya. Pasalnya, untuk membuat sushi, nasi harus bisa dikepal dan digulung, baru kemudian dipotong-potong. Untuk melancarkan proses tersebut, nasi tidak boleh terlalu lembek maupun terlalu keras. Nasi Goreng Sushi menawarkan sensasi baru saat menyantap nasi goreng.

2. Nasi Goreng Hitam 

Biasanya, olahan nasi goreng berwarna kecoklatan karena tambahan saus dan kecap. Namun, saat ini ada pula nasi goreng yang berwarna hitam. Warna gelap pada nasi tersebut bukan pewarna makanan, tetapi dari tinta cumi dan aman untuk dimakan. Karena unik, banyak orang penasaran dengan rasa Nasi Goreng Hitam ini.

Resep nasi goreng hitam sebenarnya hampir sama dengan resep nasi goreng biasa. Bahan-bahan utamanya antara lain nasi, saus tiram, kepala cumi dan tintanya, dan berbagai bumbu halus lain. Untuk mendapatkan warna hitam pada nasi goreng, Anda hanya perlu memasukkan cumi beserta tintanya setelah menumis bumbu halus. 

3. Nasi Goreng Selimut 

Seperti selimut, nasi goreng ini seolah-olah sedang diselimuti oleh sehelai telur dadar. Karena penyajiannya yang unik, Nasi Goreng Selimut kerap disajikan sebagai bekal anak-anak atau pada acara spesial. Meskipun rasanya tidak jauh berbeda dengan nasi goreng pada umumnya, bentuknya yang anti mainstream membuat nasi goreng ini memiliki nilai lebih.

Nah, jika ingin membuat sendiri Nasi Goreng Selimut, Anda harus menggoreng telur dengan teknik dadar. Selanjutnya, tuang nasi goreng ke atas telur. Lipat ujung-ujungnya hingga seluruh nasi goreng tertutupi. Balikkan adonan tersebut hingga ujung-ujung telur tidak tampak. Sebagai pemanis, sayat bagian atas dan letakkan sayuran atau lalapan.

4. Nasgor Something 

Sungguh unik cara menyantap nasi goreng di salah satu kafe di Jakarta ini. Disebut Nasi Goreng Something karena Anda harus memilih sendiri bahan untuk racikan nasi goreng, mulai dari nasi putih, pewarna, hingga topping yang diinginkan. Semua bahan tersebut telah disediakan sehingga Anda hanya perlu mengaduknya. Setelah tercampur semuanya, barulah olahan nasi goreng siap disantap.

Karena bahan-bahan yang digunakan tergantung pada pilihan pelanggan, nasi goreng yang disajikan di tempat ini berbeda satu sama lain, baik dari segi warna maupun rasanya. Penyajiannya pun di atas hot plate sehingga tetap hangat dan enak saat disantap.

5. Nasi Goreng Keju 

Olahan nasi goreng lainnya adalah Nasi Goreng Keju. Seperti namanya, pada resep nasi goreng harus ditambahkan parutan keju yang banyak sehingga menghasilkan rasa gurih yang kental. Bukan hanya sebagai topping, keju juga bisa dimasukkan sebagai bahan utama saat pengolahan. Hasilnya adalah nasi goreng yang rasanya sangat gurih dan lezat.

Bagi Anda pecinta keju, olahan Nasi Goreng Keju ini tentu sangat menggugah selera. Karena cara membuatnya tidak terlalu sulit, Anda bisa mencobanya sendiri di rumah. Namun, jika ingin lebih praktis, Anda bisa berkunjung ke restoran-restoran yang menawarkan menu ini. Dengan menggunakan Shopback, Anda bisa mendapatkan cashback yang menguntungkan.

Nah, inilah sejumlah varian nasi goreng kekinian yang enak dipandang sekaligus lezat. Tertarik untuk mencobanya?


~ijaah~

Inner Child dan Caraku Berdamai Dengannya

13 comments:





"Ibrahim sayang, hari ini mama senang sekali, karena pada akhirnya mama merasakan apa yang mama inginkan selama ini. Ibrahim mau tahu?

Ingat gak tadi siang mama ajak Ibrahim ke ITB? Mama pergi kesana bukan karena mau ke Masjid Salman atau kursus. Tapi mama kesana mau jadi mahasiswa. Iya, mahasiswa ITB, sayang. Menjadi mahasiswa ITB adalah cita-cita mama dari kecil. Mama ingin sekolah farmasi di sana. Tapi sayang, kesempatan itu tidak datang ke mama. Tentu ini berat sekali buat mama.

Dulu mama tidak dapat kesempatan untuk kuliah. Bahkan untuk kuliah dgn beasiswa pun tidak. Kalau ingat momen itu, mama selalu sedih. Saat itu mama harus kerja, padahal mama tau insyaallah mama bisa hidup dan kuliah dengan beasiswa.

Mama ingat sekali, dulu mama menangis saat mendengar kabar dua orang teman mama diterima di Farmasi ITB. Ibrahim tau, keduanya adalah 'saingan' waktu mama sekolah di SMF.

Dulu setiap kali mama ke Masjid Salman, hati mama selalu mengharu biru. Sampai akhirnya di tahun 2016, perasaan haru itu bisa sedikit terkikis karena mama sering ke Salman. Tapi ternyata perasaan haru itu tidak hilang, sayang. Ia masih saja melekat dengan eratnya di hati mama.

Tadi siang mama mencoba untuk uji nyali. Ditemani sahabat mama, Tante Fika, mama mencoba untuk 'sit in' di paska sarjana ITB. Mama deg-degan sekali dan salah tingkah. Beneran ini mama mau kuliah di ITB?

Setelah perkuliahan selesai, mama diajak Tante Fika keliling ITB. Dan tahukah sayang, Tante Fika punya sesuatu yg buat mata mama berkaca².

"Ayo foto pake jas almamater ITB ini, Jah!"

Mama tersenyum dan dengan segera mengenakan jas milik Tante Fika itu. Cekrek, satu dua foto berhasil diambil.

Setelah itu, Tante Fika mengajak mama mengelilingi kolam Indonesia Tenggelam. Dan di sanalah sayang, air mata mama meminta untuk dikeluarkan dan mama tak kuasa lagi membendungnya.

"Zahra kecil pengen sekolah di sini, Teh...", seru mama pada Tante Fika.

Seketika bayang pedih itu mengemuka di pandangan. Saat mama dilarang kuliah dan harus kerja. Saat mama merelakan mimpi besar demi pekerjaan yang mama tidak suka. Mama menunduk dan Tante Fika langsung memeluk mama. Ternyata haru itu masih ada, dan dada mama rasanya sesak sekali.

Sayang, tangis ini bukanlah sebuah kesedihan. Justru sebaliknya, ia adalah kelegaan karena mama memberi kesempatan pada 'Zahra kecil' untuk merasakan citanya.

"Sudah ya Zahra kecil, kamu sudah pernah merasakan jadi mahasiswa ITB :)", kata mama dalam hati.

Sayang, mama benar-benar melihatnya tersenyum. Meski begitu, mata mama masih basah saat melihatnya pergi menjauh. Mama berdoa untuknya, supaya ia diberi kekuatan untuk selalu memperjuangkan impiannya, serta hidupnya diisi dengan kebaikan yang melahirkan ridho dari Yang Maha.

Alhamdulillah, mama sudah pernah jadi mahasiswa ITB selama dua jam. Sebentar ya :), tapi ini sejarah buat mama."


***



Petikan surat untuk Ibrahim itu ditulis pada Agustus 2018, saat dimana saya mencoba untuk menyembuhkan sakit yang selama ini berkarat dalam hati. Sakit yang tanpa sadar seringkali saya muntahkan pada orang lain.

Satu waktu saya ditanya oleh seorang teman : Apa yang membuatmu sakit hati hingga dewasa kini? 

Saya mampu menjawabnya dengan mudah, karena memang selama ini saya menjalani peran yang tidak saya sukai. Saya menyimpan amarah yang besar pada ayah karena beliau tidak mengizinkan saya untuk kuliah. Saya malah harus bekerja di sebuah bidang yang sangat tidak saya suka selama 7 tahun.

Saya tidak punya keberanian untuk menentang. Pernah satu kali menyuarakan keinginan, tapi ditentang keras dan dimarahi. Akhirnya saya menyerahkan diri pada keadaan, hal yang pada akhirnya saya sesali. Mengapa saya tidak punya keberanian untuk memperjuangkan mimpi?

Maka menjadi mahasiswa ITB selama dua jam adalah cara terbaik bagi saya untuk memeluk luka. Saya pernah jadi mahasiswa ITB, pernah memakai jasnya pula. Saya tidak mengerti, kesempatan yang sebentar itu bisa menimbulkan haru sedemikian rupa. Hingga akhirnya hati saya lapang dan melihat sisi baik dari perjalanan hidup yang selama ini saya tempuh.

Gusti, saya menerima semuanya. Hati saya telah lapang. Terima kasih.



Kini, saya telah berdamai dengan rasa pahit itu. Saya bisa memahaminya, saat saya tidak menjadikan kisah pedih tersebut menjadi objek pembicaraan dengan teman maupun keluarga, yang seringkali tanpa sadar saya ceritakan pada mereka saat saya sedang sedih.

Sekarang, saya lebih suka menyiapkan kebiasaan-kebiasaan kecil yang bisa saya lakukan setiap hari. Kebiasaan yang insyaallah bisa membawa saya pada impian, salah satunya menjadi mahasiswa berprestasi. Insyaallah, cita-cita kuliah di luar negeri tetap ada, dan semoga kali ini saya mampu berani menghadapi semua tantangan yang ada. Tentu, dengan restu dari suami, orang tua dan anak-anak.

Akhirnya saya tahu, tidak adanya kesempatan kuliah dulu bukan semata karena tak ada izin dari ayah, tapi juga karena saya tidak cukup bisa menunjukkan kesungguhan dan kemampuan. Kekurangan ini menjadi pelajaran berharga bagi saya, untuk perbaikan di masa depan.




Setahun setengah telah berlalu, alhamdulillah telah diberi waktu dua kali daftar beasiswa, meski keduanya belum membuahkan hasil positif. Meski begitu saya tidak terlalu sedih, sebab saya telah berusaha. Insyaallah tak ada penyesalan di masa tua nanti. Tentu saya akan mencobanya lagi nanti. Saat ini, saya sedang mempersiapkan diri lebih baik lagi untuk menghadapi seleksi beasiswa yang insyaallah akan saya perjuangkan lagi, dengan tentu saja dibersamai dengan adaptasi tinggal di Jepang, fokus membesarkan Ibrahim yang sudah beranjak dua tahun, juga mempersiapkan diri menghadapi persalinan anak kedua bulan Maret nanti, insyaallah.


Berdamai dengan diri sendiri sangatlah menenangkan. Sebab hidup yang dijalani, sebagian besar akan diisi dengan partikel-partikel kebaikan kecil, sebagai senjata untuk menghadapi kesempatan yang akan dihadapi di masa depan nanti. Tentu saja halangan dan hambatan akan tetap ada, namun selama kita tetap memelihara semangat dan keberanian, itu semua bisa dihadapi dengan baik.

Sebuah nasihat untuk saya dan kalian yang tengah berjuang. Selamat menyembuhkan luka dan memelihara percikan semangat ya :)


Yokohama, Februari 2020

~ijaah~


Follow me on Instagram