Inner Child dan Caraku Berdamai Dengannya

13 comments:





"Ibrahim sayang, hari ini mama senang sekali, karena pada akhirnya mama merasakan apa yang mama inginkan selama ini. Ibrahim mau tahu?

Ingat gak tadi siang mama ajak Ibrahim ke ITB? Mama pergi kesana bukan karena mau ke Masjid Salman atau kursus. Tapi mama kesana mau jadi mahasiswa. Iya, mahasiswa ITB, sayang. Menjadi mahasiswa ITB adalah cita-cita mama dari kecil. Mama ingin sekolah farmasi di sana. Tapi sayang, kesempatan itu tidak datang ke mama. Tentu ini berat sekali buat mama.

Dulu mama tidak dapat kesempatan untuk kuliah. Bahkan untuk kuliah dgn beasiswa pun tidak. Kalau ingat momen itu, mama selalu sedih. Saat itu mama harus kerja, padahal mama tau insyaallah mama bisa hidup dan kuliah dengan beasiswa.

Mama ingat sekali, dulu mama menangis saat mendengar kabar dua orang teman mama diterima di Farmasi ITB. Ibrahim tau, keduanya adalah 'saingan' waktu mama sekolah di SMF.

Dulu setiap kali mama ke Masjid Salman, hati mama selalu mengharu biru. Sampai akhirnya di tahun 2016, perasaan haru itu bisa sedikit terkikis karena mama sering ke Salman. Tapi ternyata perasaan haru itu tidak hilang, sayang. Ia masih saja melekat dengan eratnya di hati mama.

Tadi siang mama mencoba untuk uji nyali. Ditemani sahabat mama, Tante Fika, mama mencoba untuk 'sit in' di paska sarjana ITB. Mama deg-degan sekali dan salah tingkah. Beneran ini mama mau kuliah di ITB?

Setelah perkuliahan selesai, mama diajak Tante Fika keliling ITB. Dan tahukah sayang, Tante Fika punya sesuatu yg buat mata mama berkaca².

"Ayo foto pake jas almamater ITB ini, Jah!"

Mama tersenyum dan dengan segera mengenakan jas milik Tante Fika itu. Cekrek, satu dua foto berhasil diambil.

Setelah itu, Tante Fika mengajak mama mengelilingi kolam Indonesia Tenggelam. Dan di sanalah sayang, air mata mama meminta untuk dikeluarkan dan mama tak kuasa lagi membendungnya.

"Zahra kecil pengen sekolah di sini, Teh...", seru mama pada Tante Fika.

Seketika bayang pedih itu mengemuka di pandangan. Saat mama dilarang kuliah dan harus kerja. Saat mama merelakan mimpi besar demi pekerjaan yang mama tidak suka. Mama menunduk dan Tante Fika langsung memeluk mama. Ternyata haru itu masih ada, dan dada mama rasanya sesak sekali.

Sayang, tangis ini bukanlah sebuah kesedihan. Justru sebaliknya, ia adalah kelegaan karena mama memberi kesempatan pada 'Zahra kecil' untuk merasakan citanya.

"Sudah ya Zahra kecil, kamu sudah pernah merasakan jadi mahasiswa ITB :)", kata mama dalam hati.

Sayang, mama benar-benar melihatnya tersenyum. Meski begitu, mata mama masih basah saat melihatnya pergi menjauh. Mama berdoa untuknya, supaya ia diberi kekuatan untuk selalu memperjuangkan impiannya, serta hidupnya diisi dengan kebaikan yang melahirkan ridho dari Yang Maha.

Alhamdulillah, mama sudah pernah jadi mahasiswa ITB selama dua jam. Sebentar ya :), tapi ini sejarah buat mama."


***



Petikan surat untuk Ibrahim itu ditulis pada Agustus 2018, saat dimana saya mencoba untuk menyembuhkan sakit yang selama ini berkarat dalam hati. Sakit yang tanpa sadar seringkali saya muntahkan pada orang lain.

Satu waktu saya ditanya oleh seorang teman : Apa yang membuatmu sakit hati hingga dewasa kini? 

Saya mampu menjawabnya dengan mudah, karena memang selama ini saya menjalani peran yang tidak saya sukai. Saya menyimpan amarah yang besar pada ayah karena beliau tidak mengizinkan saya untuk kuliah. Saya malah harus bekerja di sebuah bidang yang sangat tidak saya suka selama 7 tahun.

Saya tidak punya keberanian untuk menentang. Pernah satu kali menyuarakan keinginan, tapi ditentang keras dan dimarahi. Akhirnya saya menyerahkan diri pada keadaan, hal yang pada akhirnya saya sesali. Mengapa saya tidak punya keberanian untuk memperjuangkan mimpi?

Maka menjadi mahasiswa ITB selama dua jam adalah cara terbaik bagi saya untuk memeluk luka. Saya pernah jadi mahasiswa ITB, pernah memakai jasnya pula. Saya tidak mengerti, kesempatan yang sebentar itu bisa menimbulkan haru sedemikian rupa. Hingga akhirnya hati saya lapang dan melihat sisi baik dari perjalanan hidup yang selama ini saya tempuh.

Gusti, saya menerima semuanya. Hati saya telah lapang. Terima kasih.



Kini, saya telah berdamai dengan rasa pahit itu. Saya bisa memahaminya, saat saya tidak menjadikan kisah pedih tersebut menjadi objek pembicaraan dengan teman maupun keluarga, yang seringkali tanpa sadar saya ceritakan pada mereka saat saya sedang sedih.

Sekarang, saya lebih suka menyiapkan kebiasaan-kebiasaan kecil yang bisa saya lakukan setiap hari. Kebiasaan yang insyaallah bisa membawa saya pada impian, salah satunya menjadi mahasiswa berprestasi. Insyaallah, cita-cita kuliah di luar negeri tetap ada, dan semoga kali ini saya mampu berani menghadapi semua tantangan yang ada. Tentu, dengan restu dari suami, orang tua dan anak-anak.

Akhirnya saya tahu, tidak adanya kesempatan kuliah dulu bukan semata karena tak ada izin dari ayah, tapi juga karena saya tidak cukup bisa menunjukkan kesungguhan dan kemampuan. Kekurangan ini menjadi pelajaran berharga bagi saya, untuk perbaikan di masa depan.




Setahun setengah telah berlalu, alhamdulillah telah diberi waktu dua kali daftar beasiswa, meski keduanya belum membuahkan hasil positif. Meski begitu saya tidak terlalu sedih, sebab saya telah berusaha. Insyaallah tak ada penyesalan di masa tua nanti. Tentu saya akan mencobanya lagi nanti. Saat ini, saya sedang mempersiapkan diri lebih baik lagi untuk menghadapi seleksi beasiswa yang insyaallah akan saya perjuangkan lagi, dengan tentu saja dibersamai dengan adaptasi tinggal di Jepang, fokus membesarkan Ibrahim yang sudah beranjak dua tahun, juga mempersiapkan diri menghadapi persalinan anak kedua bulan Maret nanti, insyaallah.


Berdamai dengan diri sendiri sangatlah menenangkan. Sebab hidup yang dijalani, sebagian besar akan diisi dengan partikel-partikel kebaikan kecil, sebagai senjata untuk menghadapi kesempatan yang akan dihadapi di masa depan nanti. Tentu saja halangan dan hambatan akan tetap ada, namun selama kita tetap memelihara semangat dan keberanian, itu semua bisa dihadapi dengan baik.

Sebuah nasihat untuk saya dan kalian yang tengah berjuang. Selamat menyembuhkan luka dan memelihara percikan semangat ya :)


Yokohama, Februari 2020

~ijaah~


13 comments:

  1. nggak semua orang bisa berdamai dengan diri sendiri loh mbak, keren banget akhirnya bisa menemukan alasan dibalik penolakan ayah untuk kuliah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah mba. Semuanya butuh waktu untuk bisa mengerti makna di balik itu semua :)

      Delete
  2. Bismillah ya mba. Semoga apa yang sudah mba lakukan membuat diir juga jadi lebih tenang dan siap hadpapi kehidupan di masa depan. Sepakat untuk selalu semangat :)

    ReplyDelete
  3. nice thought nih beb, apapun masalah yang hadir dalam hidup ini yakinlah itu semua atas ijinnya Allah dan pasti sanggup buat melalui

    ReplyDelete
  4. Keren banget mbak bisa berdamai dengan diri sendiri, aku pribadi masih belum bisa seikhlas itu untuk damai dengan masa lalu. Semoga kedepannya bisa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Saling mendoakan ya mba. Bergabung dengan komunitas positif sangat membantu healingk[

      Delete
  5. Berdamai dengan diri sendiri emang sulit. Big thumbs for you mbak. Tetap semangat ya 💪

    ReplyDelete
  6. duh jangan-jangan saya juga punya luka begini mbak, karena dulu pengen kuliah tapi gak punya dana padahal waktu itu salah satu ortu kerja di luar negeri. nanti bakal aku cobe deh cara ini buat menyembuhkan luka batin yang belum kusadari

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setiap orang punya caranya masing2. Smg mba ivone menemukan cara terbaik yg Allah beri. Semangat mba :)

      Delete
  7. Aku pernah berada di posisi itu. Pada akhirnya kita punya kesempatan untuk memperjuangkan apa yang kita suka. Tetap semangat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mba hana. Semua ada waktunya ya. Betul apa kata orang, hidup ini tentang membaikan sikap dalam suka duka

      Delete
  8. MasyaAllah semangat mba Ijaah aku yakin kamu pasti bisa
    saling mendoakan dari jauh. Semangat untuk amsa depan

    ReplyDelete

Thank you for visiting ijaah.com! Kindly drop your comments here and let's discuss! :)

Follow me on Instagram